Jelang Natal, Usaha Rumahan Mulai Banjir Pesanan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

178

LAMPUNG— Desember menjadi salah satu bulan yang ditunggu oleh umat Kristiani dengan perayaan Natal. Seperti tradisi di Indonesia, kunjungan ke rumah kerabat selalu dilengkapi dengan hidangan kue.

Veronica Sundari (44) warga Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebutkan, mendekati perayaan Natal, permintaan akan kue meningkat. Pesanan dari sejumlah keluarga bahkan sudah diterima. 

“Sebagian konsumen merupakan pelanggan yang tidak sempat membuat kue saat akan merayakan momen istimewa terutama Natal, sebagian untuk melengkapi kue yang bisa dibeli di toko untuk dihidangkan pada tamu yang berkunjung,” terang Veronica Sundari saat ditemui Cendana News, Selasa (4/12/2018)

Meski sebagai usaha skala kecil, Sundari demikian ia akrab dipanggil, mulai memiliki pelanggan tetap di sejumlah daerah. Seperti Medan, Jakarta, Palembang dan dominan wilayah Lampung. Sejumlah kue yang dibuat  di antaranya semprong dengan rasa wijen, jahe dan susu. Keripik pisang rasa asin, manis, original hingga keripik singkong dengan rasa pedas.

Ditambahkan, yang dibuat oleh ibu rumah tangga berputra tiga orang tersebut dominan merupakan kue tradisional. Peluang tersebut menjadi ciri khas usaha skala rumahan yang ditekuninya karena mulai jarang warga yang membuatnya.

“Sejumlah ibu rumah tangga saat ini karena kesibukannya memilih cara praktis dengan meminta saya membuat kue sesuai keinginan mereka,” beber Sundari.

Semua jenis kue yang dikemas dimasukkan dalam bungkus berisi 500 gram kue kering dengan harga mulai Rp20.000, Rp25.000. Sementara beberapa jenis kue lain dijual dengan harga Rp40.000 hingga Rp50.000 menyesuaikan jenis bahan dan tingkat kesulitan pembuatan.

Peningkatan pesanan pembuatan kue disebut Sundari membuat ia harus membeli bahan kue dalam jumlah banyak sekaligus meminta bantuan ibu rumah tangga lain untuk membantu.

“Saya kerap memberdayakan sejumlah ibu rumah tangga di sekitar rumah saat pesanan meningkat,” beber Sundari.

Kue semprong rasa wijen, susu dan jahe dikemas dalam wadah plastik siap dikirim ke pemesan. Foto: Henk Widi

Berkat usaha rumahan tersebut, sejumlah kue dipesan secara berkelanjutan. Rasa khas dengan proses pengolahan yang baik membuat pesanan terus mengalir.

Melalui penjualan langsung, media sosial serta promosi dari mulut ke mulut, ia bisa mendapat pesanan hingga ratusan bungkus per bulan. Beromzet sekitar lebih dari Rp5juta per bulan dengan skala usaha rumahan menjadi salah satu usaha mengisi waktu luang.

Sejumlah pesanan yang dikemas dengan bantuan sang anak selanjutnya akan diantar ke pemesan. Sejumlah pesanan dari luar daerah seperti Jakarta diantar oleh sang suami, Yohanes Tukiyo.

Beberapa pesanan lain ke wilayah yang tidak terjangkau disebut Sundari dikirim menggunakan jasa ekspedisi. Kendala belum adanya ekspedisi khusus membuat ia memanfaatkan jasa pos sehingga kue kering produksinya semakin dikenal.

Baca Juga
Lihat juga...