Jose Rizal Manua: Kesenian Kita Sangat Kaya

Editor: Makmun Hidayat

236

JAKARTA — Teater Tanah Air, telah mengharumkan nama Indonesia di pentas teater anak-anak dunia. Grup teater anak-anak yang dibina Jose Rizal Manua itu telah menorehkan banyak prestasi dunia, seperti di antaranya, “10Th World Festival of Children’s Theatre di Moscow- Russia, yang berlangsung tanggal 17- 25 Juli 2008.


Sutradara Jose Rizal Manua – Foto: Akhmad Sekhu

Lalu “9Th World Festival of Children’s Theatre” di Lingen (Ems)-Germany, tahun 2006. Ada juga Festival Teater Anak-anak se-Asia Pacific (The Asia Pacific Of Children Theatre, Tayamaken Takaoka Bunka Hall-Tayama Japan, 5 August 2004) di Jepang.

Atas prestasi yang sangat membanggakan tersebut, Teater Tanah Air bekerjasama dengan Balai Pustaka mementaskan kembali naskah ‘Help’ karya Putu Wijaya di TIM, pada penghujung tahun 2018 ini.

“Saya memilih mementaskan naskah ‘Help’ karya Putu Wijaya karena untuk festival dunia agar bisa dinikmati seluruh negara, jadi bentuknya harus visual tidak bisa verbal, “ kata sutradara Jose Rizal Manua seusai Teater Tanah Air mementaskan ‘Help’ di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (30/12/2018) malam..

Lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954 itu membeberkan kalau pementasan ini dengan menggunakan bahasa verbal akan sulit komunikasi dengan kata-kata.

“Tapi dengan gambar, tari, musik akan lebih mudah dalam memahami,“ beber Sarjana Seni dari Fakultas Teater, Institut Kesenian Jakarta (1986) dan Magister Bidang Film, Institut Seni Indonesia Surakarta, Solo (2015).

Menurut Jose, tantangan mementaskan nakah karya Putu Wijaya karena dalam cerita-ceritanya hampir tidak ada karakter. “Karakter-karakternya selalu dimentahkan sendiri oleh situasi atau oleh perjalanan peran,“ ungkapnya.

Makanya, lanjut Jose, dalam naskah-naskah Putu Wijaya tidak menyebutkan nama-nama seperti Toni, Tuti atau lainnya, selalu namanya Pak Bupati, Pak Camat atau lainnya.

“Nama-nama perannya, kadang-kadang memakai Yang Kalah, Yang Marah, dan lain-lain, jadi bukan watak sebagaimana umumnya cerita-cerita yang kita kenal,“ terangnya.

Jose menyebut naskah-naskah Putu Wiaya sangat unik, selalu keluar masuk dan bertolak teater tradisi dimana ada interaksi antara pemain dengan penonton.

“Hal ini istimewa tidak ada di dunia, mereka belajar dari kita, ketika pentas pemain anak-anak mengajak penonton naik ke atas panggung dan masuk dalam ceritanya, tradisi mereka terpisah antara pemain dengan penontonnya,“ paparnya.

Menurut Jose, kesenian kita sangat kaya sekali. “Kalau melihat pertunjukan tadi, kita bisa lihat istimewanya, bagaimana mengaktualisasikan agar orang dari seluruh dunia bisa memahami kebudayaan kita, bukan semata-mata budaya itu kita usung ke atas panggung, tapi harus kita re-create, kita kraesikan kembali dan kita aktualisasikan,“ tandasnya.


Dirut Balai Pustaka, Achmad Fachrodji – Foto: Akhmad Sekhu

Adapun, Dirut Balai Pustaka, Achmad Fachrodji menyampaikan apresiasi yang tinggi pada Teater Tanah Air mementaskan kembali naskah ‘Help’ karya Putu Wijaya di TIM

“Kita mendengar Teater Tanah Air dengan pementasan ‘Help’ meraih banyak prestasi dunia di berbagai pentas di Rusia, Jerman, maupun Jepang. Jadi alangkah tidak eloknya kalau sudah banyak prestasi dunia tapi tidak ditampilkan di negeri sendiri,“ katanya.

Fachrodji membeberkan Balai Pustaka dengan Teater Tanah Air di ujung tahun dengan bangga mementaskan ‘Help’. “Judul-judul buku lain karya Putut Wijaya banyak yang diterbitkan penerbit Balai Pustaka, tapi mungkin nanti bisa dipentaskan pada lain kesempatan,“ bebernya.

Pementasan pada tanggal 30 Desember 2018, lanjut Fachrodji, karena di TIM untuk memperoleh waktu pentas sangat sulit. “Alhamdulillah, karena Pak Jose orang TIM bisa mudah mendapatkan waktu pentas, “ ungkapnya.

Dapat kesempatan pentas pada waktu akhir tahun ini, bagi Fachrodji, ada hikmahnya. “Karena tontonan anak-anak di ujung tahun sudah sangat sulit, jadi ini kegelisahan kita untuk membuat tontonan yang bermutu,“ tuturnya.

Menurut Fachrodji,, konsep pementasan yang ditampilkan di Jerman dan kemudian sekarang di dalam negeri sendiri ini benar-benar sangat menyentuh sekali teruatama untuk anak-anak.

“Anak-anak dikenalkan dengan teater, teater adalah salah satu akar dari kesusastraan,“ paparnya.

Sayangnya, kesusastraan sudah dihapus di pelajaran Bahasa Indonesia. “Salah satu tujuan pementasan ini mengembalikan anak-anak agar lebih mencintai sastra Indonesia, “ harapnya.

Balai Pustaka dari awal pendiriannya adalah sastra, jadi apapun yang berhubungan sastara, Balai Pustaka ingin terlibat.

“Jadi meskipun ‘Help’ tidak diterbitkan Balai Pustaka tapi ini bagian khasanah intelektual Indonesia, “ tegasnya.

Menurut Fachrodji, kanon sastra karya klasik yang terbit membesarkan Balai Pustaka dari mulai roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Sengasara Membawa Nikmat, Salah Asuhan, dan lain-lain.

“Kami terbitkan 30 judul yang semuanya kanon sastra, dan sampulnya asli pertama terbit, ternyata laris manis,“ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...