Jumlah Dokter Hewan Sangat Minim di Pessel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PESISIR SELATAN — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat mencatat jumlah dokter hewan yang ada di daerah tersebut terbilang sangat mimin.

Dokter Hewan
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Pesisir Selatan, Hazrita/Foto: Ist

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pesisir Selatan, Hazrita menyebutkan, jumlah dokter hewan yang bertugas aktif di Pesisir Selatan saat ini hanya mencapai enam orang dan jumlah ini terbilang minim dengan perbadingan populasi hewan ternak yang ada.

“Hanya enam orang dan dua diantaranya berstatus diperbantukan, dan dibantu sebanyak 37 orang asisten. Sementara di Pesisir Selatan hampir sebagian besar masyarakatnya memiliki ternak,” katanya, Senin (24/12/2018).

Ia menjelaskan, minimnya jumlah dokter hewan, menuntut dinas peternakan harus memiliki inovasi. Di antaranya, saat ini, pihaknya tengah merencanakan pembentukan kader perternakan di setiap kecamatan.

“Sehingga dengan kondisi ini kami memandang perlu kehadiran kader peternakan di setiap kecamatan,” ujar dia.

Menyikapi kondisi saat ini, 2018 ini pihaknya telah membekali sebanyak 30 orang kader. Jumlah tersebut hanya baru bisa ditugaskan di dua kecamatan berbeda, yakni IV Jurai dan Koto XI Tarusan.

Diterangkan, tugas utama kader peternakan meliputi pemantauan kondisi ternak di wilayah masing-masing, melapor jika ada ternak diserang penyakit hingga memperluas informasi seputar perkembangan dunia peternakan.

“Tahun depan sesuai rencana kami akan membentuk kader ternak di kecamatan lain, sehingga berdampak positif terhadap perkembangan dunia peternakan Pesisir Selatan,” ujarnya.

Diketahui, pada 2017 populasi sapi di Pessel mencapai 81.786 ekor dan populasi kerbau mencapai sebanyak 8.506 ekor. Rata-rata hasilnya mengalami peningkatan jika dibanding 2016.

Untuk menjaga populasi itu, Dinas Peternakan akan berupaya maksimal melaksanakan program Inseminasi Buatan (IB) terhadap sapi betina produktif

“Jadi selain berupaya untuk menambah jumlah dokter hewannya, untuk persoalan peningkatan populasi sapi juga menjadi fokus kita. yakni hingga penghujung tahun ini kita mentargetkan IB sebanyak 10.540 ekor,” ucap dia.

Hazrita menjelaskan, program IB terhadap sapi betina tersebut terus dilakukan sosialisasinya kepada masyarakat. Tujuanya agar masyarakat tahu bahwa selain perkawinan alam, pengembangbiakan sapi juga bisa dilakukan melalui IB.

Menurutnya, 2017 pihaknya juga telah melakukan IB terhadap sapi sebanyak 10.481 ekor dari target 9.412 ekor. Tercapainya angka itu, melalui sosialisasi yang dilakukan antusias masyarakat peternak yang semakin tinggi.

“Pada 2018 ini target IB diperkirakan akan melampaui dari yang direncanakan sebagai mana tahun 2017 lalu,” harapnya.

Kepala Bidang Produksi Disnakeswan, Yusmal menambahkan, untuk memaksimalkan capain IB hingga akhir tahun, pihakny menerjunkan 22 orang petugas di lapangan. Di Pesisir Selatan, Kecamatan Silauat dan Basa Ampek Balai Tapan termasuk sentra sapi, sehingga di daerah itu, tahun ini juga dilakukan penambahan masing-masing satu Pos IB.

Ia menyebutkan, upaya tersebut dilakukan, sebab beternak sapi sudah dijadikan andalan oleh masyarakat di Pesisir Selatan dalam meningkatkan pendapatan keluarga, disamping juga sebagai petani penggarap lahan.

Kepada masyarakat juga diminta agar tidak menjual induk sapi yang produktif, hal tersebut dimaksud agar populasi sapi betina akan terus berkembang sebagai sumber ekonomi keluarga, bila induk sapi produktif dijual, dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi para petani peternak di daerah Pesisir Selatan.

Lihat juga...