Jutaan Penduduk Indonesia Berpotensi Terpapar Tsunami

Editor: Mahadeva

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho -Foto: Dok. CDN

JAKARTA – Sebanyak 3,8 juta jiwa penduduk di Indonesia, terpapar bencana tsunami. Dan 148,4 juta jiwa penduduk Indonesia, terpapar bahaya gempa bumi. Hal itu menunjukan bahwa Indonesia menjadi daerah yang rawan dengan bencana.

“Sebanyak 3,8 juta jiwa penduduk terpapar oleh bencana bahaya tsunami, dan ketersediaan waktu menyelamatkan diri (golden time) bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami untuk menyelamatkan diri, kurang dari satu jam atau sekira 20 hingga 40 menit,” ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

Menurut Sutopo, tsunami di Indonesia bersifat lokal. Artinya, sumber gempa pemicu tsunami berada di sekitar wilayah Indonesia sendiri. Sementara, peringatan dini tsunami saat ini diklaim sudah berjalan dengan baik. Peringatan dini dari BMKG ke institusi lain, media massa dan masyarakat, berjalan hanya dua hingga lima menit setelah terjadi gempa. “Artinya, alur peringatan dini tsunami lewat instansi pemerintah dan media kepada masyarakat cukup cepat, sehingga masyarakat bisa menyelamatkan diri dari bahaya bencana tsunami,” ungkapnya.

Untuk Buoy Tsunami menurut Sutopo, dalam Ina TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), buoy stunami hanya menjadi salah satu bagian dari perangkat peringatan dini stunami. Tanpa buoy tsunami, peringatan dini tsunami (EWS) tetap berjalan, karena peringatan dini tsunami berdasarkan pemodelan. Informasinya dibangkitkan dari jaringan seismik gempa yang terdeteksi.

Dua hingga lima menit setelah gempa, InaTEWS/BMKG langsung memberikan peringatan dini secara luas. “Sistem ini telah berjalan dengan baik, bouy tsunami hanya untuk meyakinkan bahwa tsunami terdeteksi di lautan sebelum menerjang pantai. Saat tsunami sudah menerjang pantai, tinggi tsunami terdeteksi dari alat/jaringan pasang surat dan GPS di pantai. Idealnya dalam InaTEWS, semua komponen itu tersedia, baik dari hulu hingga ke hilir. Namun memerlukan peralatan dan biaya operasional yang cukup besar setiap tahunnya,” jelasnya.

Dari 22 buoy tsunami di perairan Indonesia, yang dibangun Indonesia (8 unit), Jerman (10 unit), Malaysia (1 unit) dan USA (2 unit) di 2008. Saat ini sudah tidak beroperasi sejak 2012. Aksi vandalisme, dan terbatasnya biaya pemeliharaan  menjadikan buoy trunami tidak berfungsi.  “Kondisi ini menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan atau tidak. Saat ini hanya mengandalkan lima buoy tsunami milik internasional di sekitar wilayah Indonesia, yaitu satu unit di barat Aceh (milik India), satu unit di Laut Andaman (milik Thailand, dua unit di selatan Sumba dekat Autralia (milik Australia) dan satu unit di utara Papua (milik USA),” ungkapnya.

Sebagian besar, kerusakan buoy tsunami disebabkan vandalisme oleh oknum. Dan diperparah dengan tidak adanya biaya operasional dan pemeliharaan. Misalnya, buoy tsunami yang di pasang di Laut Banda (April 2009), pada September 2009 rusak dan hanyut ke utara Sulawesi. Sementara, harga satu unit buoy tsunami, untuk produk Amerika Serikat adalah Rp7 miliar hingga Rp8 miliar. Sedangkan yang buatan Indonesia, harganya berkisar Rp4 miliar.

Lihat juga...