Keajaiban, Selamatkan Tiga Staf Kelurahan Pekayon Jaya 

Editor: Mahadeva WS

Doni Prasetyo, korban selamat saat ini sedang di rawat di RSUD Kota Bekasi, ia mengalami luka di perut akibat kegencet tembok – Foto M Amin

BEKASI – Teriakan ombak datang dari luar villa, masih terngiang dibenak Doni Prasetyo (35), salah satu korban selamat dari tsunami di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. 

Ketika ombak besar menggulung pantai Lesung, Doni berada di kamar Villa bersama Yogi (25), yang sudah lebih dulu tidur. “Saya sempat membangunkan Yogi yang sudah tertidur. Dan belum sempat keluar Villa, ombak sudah masuk kedalam kamar,” kisah Doni, menceritakan pengalamannya selamat dari tsunami di Tanjung Lesung, Senin (24/12/2018).

Saat musibah terjadi, Doni bersama 10 orang kawannya, sedang berada di pantai di sekitar Tanjung Lesung. Mereka adalah staf di Kelurahan Pekayon Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar). Total rombongan berjumlah 14 orang, menempati satu villa yang berjarak hanya dua kilometer setelah Tanjung Lesung. Namun dari rombongan tersebut tercatat, tiga orang pulang ke Bekasi saat masih sore.

Saat ombak masuk ke dalam villa, merobohkan tembok yang akhirnya menggencet perut Doni, yang mengaku sudah pasrah, tidak terbayang akan selamat. Namun tiba-tiba, ada kayu balok yang bisa menjadi pegangan, hingga terlepas dari himpitan tembok. “Ada kayu balok, yang saya pegang dan saya ikuti kayu sampai ke dasar hingga himpitan tembok terlepas. Tetapi kaki sempat dihajar tembok lagi hingga akhirnya saya bisa muncul ke permukaan air,” ujarnya.

Setelah mhncul ke permukaan air, Doni mengaku melihat pohon kelapa, dan langsung memeluk pohon tersebut. Dia mengaku kejadian itu sangat cepat, airnya kembali lagi ke laut sampai akhirnya Dia harus turun dari pohon kelapa. “Ketika air surut, saya melihat ditengah kegelapan, semua bangunan sudah rata dengan tanah. Sepuluh menit saya berteriak minta tolong, belum ada petugas ataupun warga yang datang,” kenangnya.

Meski mengaku tidak mengetahui pasti kedalaman laut, namun yang jelas dirasakannya, kaki tidak bisa menginjak dasar. Sampai akhirnya, Doni mengaku berjalan dibantu terang bulan purnama. Saat itu ia  menemukan teman sekamarnya Yogi, dan Anta yang sudah tergeletak. Anta masih bisa berdiri tetapi, Yogi sudah tergelatak kakinya patah. Doni masih bisa berdiri, dan terus berjalan mencari pertolongan, sampai akhirnya melihat ada cahaya senter dari warga sekitar.

Melihat itu Doni, langsung berteriak minta tolong hingga akhirnya warga datang “Saya mendahulukan dua teman saya untuk di bawa duluan. Akhirnya Anta dan Yogi dibawa menggunakan motor. Saya tetap berjalan sambil menunggu jemputan berikutnya,” tambah Doni mengenang kejadian malam naas tersebut. Jarak Villa tempat rombongannya menginap, hanya sekira 25 meter dari bibir pantai. Saat kejadian, rekan yang lain bisa selamat karena masih berada di depan Villa, sehingga bisa berlari ke tempat lebih tinggi.

Yogi, (25) korban selamat tsunami Tanjung Lesung, Banten, Yogi mengalami patah kaki sebelah kiri akibat terhimpit kayu ketika digulung ombak. Saat ini Yogi menjalani perawatan di RSUd Kota Bekasi – Foto M Amin.

Sementara Yogi (25), staf kelurahan Pekayon Jaya yang juga selamat dari terjangan ombak Tsunami menyebut, sekitar pukul 19.00 WIB, anak gunung krakatau diketahuinya mengalami erupsi. Tetapi, warga disekitar pantai biasa saja seolah tidak akan terjadi tsunami. “Melihat tidak ada reaksi dari warga sekitar, saya pun biasa aja. Dan masuk ke kamar villa untuk tidur karena lelah seharian berlibur bersama teman se-kantor,” ingatnya.

Yogi, mengaku tidak sadar, ada ombak datang. Saat bangun karena teriakan, ternyata ombak sudah didepan Villa. Yogi mengaku panik, dan tidak bisa lari keluar hingga menyelamatkan diri dengan berlindung di kamar mandi. “Saya reflek menuju kamar mandi untuk berlindung. Kamar mandi itu sekatan kaca tebal saat digulung ombak kacanya pecah. Didalam gulungan ombak dan terbawa arus itu, saya tetap sadar. Tapi dalam benak, hidup sudah berakhir, nggak mungkin selamat,” kenang Yogi.

Kaki Yogi terjepit kayu, Dia diuntungkan bisa berpegangan pohon kelapa. Namun perjuangannya belum terhenti, saat ombak surut kembali ke laut, Dia kembali diseret ombak dan kakinya tersangkut kayu. Meski harus melepas pegangan dari pohon kelapa, tetapi nasib berkata lain, Yogi kembali bisa berpegangan ke pohon kelapa lain. “Saya nggak bisa bertahan, karena kaki saya terjepit kayu dan membawa ke laut, hingga saya harus melepas pegangan. Tapi alhamdulillah, saya bisa berpegang lagi ke pohon kelapa lainnya, sampai kayu yang menghimpit kaki terlepas,” tuturnya.

Saat air sudah surut, Yogi, melihat disekelilingnya sudah rata. Tapi dia sudah tidak bisa berdiri. Yogi memperkirakan ombak itu tingginya bisa mencapai 10 meteran. Mereka sempat di rawat di puskesmas di sekitar Pandeglang, bersama tiga orang lainnya. Saat ini mereka sudah di rawat di RSUD Kota Bekasi.

Rombongan warga Kota Bekasi saat tsunami melanda Selat Sunda ada dari Partai Golkar, yang berjumlah 60 orang. Ada empat orang korban meninggal dari rombongan tersebut. Saat kejadian, ada lima orang tengah memancing di laut. Satu orang selamat bernama Nurdin (40). Sementara lainnya berada di tempat penginapan, yang cukup jauh dari bibir pantai.

Lihat juga...