Kebudayaan Punya Kekuatan Bangun Perdamaian

Editor: Makmun Hidayat

153

JAKARTA — Jacky Manuputty termasuk salah seorang yang paling berpengaruh dalam proses perdamaian di konflik Maluku. Ia salah satu deklarator Penjanjian Maluku di Malino yang mengakhiri konflik di Maluku. Bersama teman-temannya di Maluku, ia membangun kelompok-kelompok damai lintas iman.

“Saya bergelut pada kerja konflik dan perdamaiaan, terutama konflik yang terjadi di Maluku. Saya bicara bagaimana resolusi konflik dalam kaitan kebudayaan dengan berbagai variannya, bahwa kebudayaan punya kekuatan untuk membangun perdamaian dan merawat kebhinekaan,“ kata Jacky Manuputty dalam acara Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI), di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rabu (5/12/2018).

Selama ini, lanjut Jacky, kelompok anti-intoleransi hanya melakukan peredaman pengembangan isu kebencian agar konflik tidak terjadi.

“Namun menurut saya harus ada usaha aktif dalam melawan seruan kebencian di media sosial atau pun ruang publik,“ ungkapnya.

Jacky sudah mencoba sebuah gerakan konkrit menumbuhkan jiwa toleransi di kalangan generasi muda pascakonflik berdarah di Ambon, Maluku.

“Kita mempunyai program live in yang menghilangkan rasa curiga antar kelompok yang berbeda keyakinan, yakni dimana kita membawa tokoh-tokoh agama dan perempuan tinggal di rumah orang-orang yang berbeda kepercayaan, bahkan pernah bermusuhan,“ paparnya.

“Program ini sebagai upaya strategis untuk mendorong orang mengalami perjumpaan di ruang-ruang domestik dari sebuah kondisi geografis yang terbelah berdasarkan garis agama,“ imbuhnya.

Menurut Jacky, dampak dari konflik yang telah membelah masyarakat beberapa tahun menyisakan kondisi segregasi baik geografis maupun mental.

“Segregasi tidak bisa dibongkar, dominan wilayah 90 persen terbelah. Tetapi yang paling penting, menumbuhkan masyarakat plural yang sehat,“ ujarnya.

Pascakonflik itu, kata Jacky, masyarakat kota Ambon telah terpisah secara geografis berdasarkan agama, tapi ia bersyukur sekarang sudah berbaur lagi.

“Kita mendorong aktivitas bersama kembali ke ruang domestik dengan memperbanyak ruang perjumpaan antar orang yang berbeda keyakinan,“ tuturnya.

Isu-isu besar yang kita bicara pluralisme, cita-cita kebangsaan, tidak akan membumi jika kita tidak saling bersinergi sebagai tetangga. Sangat banyak isu publik untuk dihadapi dan dikelola bersama.

Jacky menyampaikan bahwa pendidikan publik memang tidak mudah mengelola publik yang beragam.

“Prasangka, ketakutan, trauma, dan sejenisnya, akan bertumbuh subur bila orang tak berinteraksi dalam ruang-ruang domestik yang terbelah. Itu harus dilawan dengan cara membiasakan masyarakat berinteraksi lintas kelompok dalam ruang-ruang domestiknya,“ tegasnya.

Jacky menyampaikan, bahwa kita punya banyak modal sosial yang bisa dimanfaatkan. Meski jika perdamaian sudah terjadi, bukan garansi tidak ada perang lagi.

“Karenanya, kerja seperti ini menjadi proses yang tidak ada hentinya yang memang harus terus-menerus dilakukan dengan membesarkan potensi damai, mengecilkan potensi konflik,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...