Kejaksaan Tahan Bos Rekanan PT Dok dan Perkapalan Surabaya

Ilustrasi logo Kejaksaan - foto dokumentasi CDN

SURABAYA — Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan Presiden Direktur PT ANC Trading Network Antonius Aris Saputra sebagai tersangka dalam kasus pengadaan kapal “Floating Crane” di PT Dok dan Perkapalan Surabaya yang ditaksir merugikan negara Rp60 miliar.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Didik Farkhan Alisyahdi, mengatakan rekanan PT Dok dan Perkapalan Surabaya itu langsung ditetapkan tersangka setelah sejak pukul 10.00 WIB hingga sore tadi menjalani pemeriksaan di hadapan penyidik.

“Setelah ditetapkan tersangka langsung kami tahan mengingat yang bersangkutan domisilinya di Singapura,” kata Didik kepada wartawan di Surabaya, Selasa petang (11/12/2018).

Dia menandaskan, alasan lainnya langsung ditahan karena Antonius berkali-kali mangkir saat dipanggil sebagai saksi untuk diperiksa dalam kasus ini.

“Sudah tiga kali pemanggilan sebaga saksi, baru kali ini dia memenuhi. Jadi untuk mempermudah proses penyidikan, tersangka kami tahan,” ujarnya.

Aspidsus Didik Farkhan menjelaskan pihaknya menyelidiki dugaan korupsi dalam kasus ini menindaklanjuti laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebut terdapat kerugian negara sebesar Rp60 miliar dari total nilai proyek Rp100 miliar dalam pengadaan kapal jenis “Floating Crane” yang digelar oleh PT Dok dan Perkapalan Surabaya tahun 2016.

BPK menilai pengadaan kapal ini sudah melalui proses lelang dan sudah dibayar sebesar Rp60 miliar dari harga Rp100 miliar. Dalam lelang disebutkan, pengadaan dalam bentuk kapal bekas dan didatangkan dari Eropa.

Namun saat dibawa ke Indonesia, kapal tersebut tenggelam di tengah jalan, sehingga muncul dugaan terdapat spesifikasi yang salah dalam pengadaan kapal tersebut. (Ant)

Lihat juga...