Kelola Hutan Rakyat Jadi Lokasi Wisata

Editor: Satmoko Budi Santoso

189

YOGYAKARTA – Banyak munculnya kawasan hutan rakyat yang dikelola sebagai lokasi wisata di Kabupaten Kulon Progo, dinilai memberikan dampak positif bagi kelangsungan kondisi hutan itu sendiri.

Pasalnya, selain membuatnya menjadi lebih tertata, adanya pemanfaatan kawasan hutan sebagai lokasi wisata, juga membuat kondisi hutan bisa tetap lestari karena intensitas penebangan semakin minim.

“Dengan menjadi lokasi wisata alam, tentu Kelompok Tani Hutan akan menjaga dan mengelola kawasan hutan rakyat masing-masing agar bisa menarik untuk dikunjungi. Bagaimana agar hutan itu bisa rindang, bersih, tertata, dan sebagainya. Otomatis mereka tidak akan menebang tanaman hutan secara sembarangan. Tentu ini sangat positif,” ujar penyuluh kehutanan Balai Sertifikasi Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan DIY, Bejo.

Menurut Bejo, di Kulon Progo sendiri terdapat sedikitnya kurang lebih 274 kelompok tani hutan yang mengelola hutan rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir, tak sedikit dari kawasan hutan rakyat itu disulap sebagai kawasan wisata alam. Seperti misalnya kawasan wisata Kalibiru, kawasan hutan Mangrove, kawasan hutan serta kebun teh Nglingo, dan sebagainya.

Penyuluh kehutanan Balai Sertifikasi Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan DIY, Bejo. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Tahun 2018 ini saja ada sedikitnya 7 kawasan hutan rakyat yang dikembangkan sebagai lokasi wisata alam. Tersebar di sejumlah kecamatan mulai dari Temon, Galur, Bugel, Panjatan, Kokap, Pengasih, Girimulyo, hingga Samigaluh,” katanya.

Munculnya kesadaran masyarakat kelompok tani hutan dalam mengelola kawasan hutan rakyat sebagai lokasi wisata alam itu,  karena tingginya potensi ekonomi yang dihasilkan warga. Selain mendapatkan pemasukan dari hasil komoditas produksi tanaman hutan, warga juga masih bisa mendapatkan pemasukan dari kunjungan wisatawan.

“Karena memang potensi ekonominya sangat tinggi. Adanya wisatawan, mampu membuka dan menyerap banyak tenaga kerja. Sehingga kelompok tani berlomba-lomba mengelola kawasan hutan rakyat masing-masing. Kalau hanya mengandalkan komoditas hasil hutan saja, tidak maksimal,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kawasa wisata alam di sejumlah hutan rakyat, Pemerintah sendiri tak henti melakukan upaya edukasi dan pendampingan. Termasuk menyuplai bibit tanaman hutan secara rutin kepada kelompok tani hutan di Kulon Progo.

Terakhir, Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY bahkan telah menyalurkan ribuan bibit tanaman mulai dari durian, jambu biji, mangga, jambu air, alpukat, dan sebagainya.

Baca Juga
Lihat juga...