Keluarga Palestina di Jerusalem, Dipaksa Bongkar Rumah

Ilustrasi wilayah Gaza/ Foto: Dokumentasi CDN

JERUSALEM – Penguasa Yahudi pada Sabtu (8/12/2018) memaksa satu keluarga Palestina, untuk menghancurkan rumahnya sendiri yang berada di Jerusalem. Israel, telah mengeluarkan perintah, untuk menghancurkan rumah dan apartemen, di Permukiman Silwan, yang berada di sebelah selatan Masjid Al-Aqsha.

“Penguasa Israel memberi kami waktu sampai 10 Desember untuk membongkar rumah kami,” kata warga Palestina tersebut, Murad Hashmyeh kepada media setempat, Minggu (9/12/2018).

Menurut Hashmyeh, Israel mengancam akan menuntut keluarga itu, jika tidak segera membongkar rumah mereka. Israel menduduki Jerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967. Belakangan, Israel mencaplok kota tersebut pada 1980, dan mengklaim Jerusalem sebagai ibu kota negara Yahudi. Hal tersebut telah diproklamasikan secara sepihak. Tindakann itu tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Hukum internasional memandang, Tepi Barat Sungai Jordan dan Jerusalem Timur, sebagai wilayah pendudukan. Mereka memandang, semua permukiman yang dibangun penguasa Yahudi di tanah itu sebagai tidak sah. Rakyat Palestina menuduh Israel, melancarkan kegiatan agresif, untuk menyahudikan Jerusalem, dengan tujuan menghapuskan identitas Arab dan Islam di kota tersebut. Serta mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut.

Pada Rabu (5/12/2018), Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA), mengutuk tindakan penguasa Yahudi menghancurkan satu sekolah di Kota Al-Khalil, bagian selatan Tepi Barat. PNA juga menyeru dunia, agar memikul tanggung-jawab terhadap pelanggaran tanpa henti yang setiap hari dilakukan Israel. “Masyarakat internasional mesti memikul tanggung jawabnya sehubungan dengan pelanggaran Israel terhadap lembaga pendidikan Palestina di Tepi Barat,” bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Tinggi PNA di Ramallah, Tepi Barat.

Pada Rabu pagi, militer penguasa Yahudi menghancurkan satu sekolah yang bernama At-Tahadi 12 (Tantangan 13), yang berada di kota tersebut. Mereka mengumumkan, daerah sekolah itu sebagai zona militer tertutup. “Pembongkaran sekolah itu menerjemahkan arti sesungguhnya teror terorganisir yang dilakukan oleh Israel terhadap lembaga pendidikan, dan merupakan kejahatan mengerikan yang ditambahkan pada rangkaian tindakan yang meningkat terhadap pendidikan,” tambah pernyataan tersebut.

Sekolah itu dihancurkan hanya beberapa hari sebelum peresmiannya di kota Palestina tersebut dilakukan. “Penghancuran sekolah tersebut dilakukan sebelum peresmiannya, takkan menghancurkan tekad murid-murid kami untuk melanjutkan pendidikan mereka,” tegas Muhanad Masalameh, Koordinator Hubungan Masyarakat di Gubernuran Al-Khalil (Hebron).

PNA membangun sekolah itu di wilayah C, yang masih berada di bahwa jurisdiksi Israel. Tujuan dari pembangunan sekolah tersebut untuk memberikan kesempatan kepada murid yang tinggal di wilayah porak-poranda, bisa menerima pendidikan dengan layak. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri PNA menyeru masyarakat internasional agar bertindak secara tepat dan sesegera mungkin, untuk melindungi rakyat Palestina dari pelanggaran Israel tanpa akhir setiap hari serta kebijakan agresifnya terhadap mereka.

Berdasarkan Kesepakatan Sementara Oslo, yang ditandatangani antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Israel pada 1993, Tepi Barat dibagi menjadi tiga zona, A, B, dan C. Zona A berada di bawah kekuasaan Palestina, B di bawah koordinasi keamanan Israel dan kekuasaan adminstratif Palestina, dan zona C sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Israel. Israel mengklaim sekolah tersebut dihancurkan sebab dibangun di wilayah yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaannya. Dan sekolah itu dibangun tanpa meminta izin dari penguasa Yahudi. (Ant)

Lihat juga...