Kemandirian Disabilitas Butuh Kepedulian Lingkungan

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Jumlah penyandang disabilitas setiap tahun meningkat. Hal itu mendorong banyak pihak untuk berkolaborasi, melakukan edukasi dan fasilitasi, agar para penyandang disabilitas bisa mandiri.

Kepala Sekolah Sarasvati Learning Centre Reshma Wijaya Bhojwani – Foto Ranny Supusepa

Upaya biasa dilakukan diawali dengan membangun awareness, dari masyarakat terhadap para penyandang disabilitas. “Dalam merayakan hari disabilitas internasional, kami mengadakan long march, melibatkan 1.000 orang para penyandang disabilitas dan keluarganya,” kata Kepala Sekolah Sarasvati Learning Centre, Reshma Wijaya Bhojwani, dalam acara   Walk + Roll 4 Difable, di Kawasan Monas Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Kegiatan yang melibatkan banyak komunitas tersebut, digelar untuk membangun awareness, atau rasa kepedulian masyarakat. Jika rasa kepedulian sudah terbangun, maka akan ada penerimaan dari masyarakat. Sehingga akan lebih mudah untuk menjadikan Jakarta sebagai Kota Inklusif. Dengan acara tersebut, Reshma ingin memberitahukan ke berbagai pihak, penyandang disabilitas bukan membutuhkan rasa kasihan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri.

“Kami mempercayai, setiap disabilitas memiliki kemampuan masing-masing. Sehingga yang penting adalah bagaimana cara mengeluarkan kemampuan itu, dan membuat mereka mandiri,” jelasnya.

Tokoh perempuan Dewi Motik, yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, penyandang disabilitas bukanlah individu yang harus dikasihani. Mereka seharusnya diberi peluang, agar mampu membuktikan kemampuannya. “Jangan sampai orang mengasihani anda, yang penting kamu harus berkarya. Saya sudah bertahun-tahun membantu memasarkan produk hasil karya para disabilitas. Dan saya bisa bilang bahwa hasil mereka itu bagus dan laku di pasaran. Selama para penyandang disabilitas ini diberi kesempatan,” ujar Dewi.

Dewi menyebut, para penyandang disabilitas perlu untuk mengikuti pelatiha. Hal itu untuk mendapatkan kemampuan ataupun ketrampilan. Hal dibutuhkan agar mereka bisa mandiri.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Penyandang Disabilitas dan Psikososial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Gina Prawardani, S.Sos, menyatakan, pemerintah sangat mendukung semua kegiatan yang membantu sosialisasi disabilitas. “Anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup suatu negara. Dan anak penyandang disabilitas adalah anak yang membutuhkan perlindungan dan membutuhkan pendidikan, seperti anak-anak biasa. Kami sangat mengapresiasi para orang tua dan keluarga yang mampu menjadikan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini untuk mampu berprestasi,” pungkas Gina.

Lihat juga...