Kembangkan Pariwisata Indonesia, Perlu Sejumlah Strategi

179

NUSA DUA  – Ketua Percepatan Destinasi Baru Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Hiramsyah S. Thaib, mengatakan, pentingnya tiga strategi untuk pengembangan pariwisata, yakni komitmen dari chief executive officer (CEO) serta mewujudkan 10 “Bali” baru dan zona ekonomi khusus pariwisata.

“Masuknya komitmen CEO karena kami membutuhkan deklarasi dari mereka untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor terdepan bagi pertumbuhan ekonomi,” kata Hiramsyah, di Nusa Dua, Bali, Jumat, dalam ajang FIABCI World Business Summit.

Hiramsyah mengatakan, Presiden Joko Widodo telah berkomitmen menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas program percepatan pembangunan. Salah satunya melalui dukungan infrastruktur untuk membuka akses menuju kawasan wisata unggulan.

Ia memberikan tantangan kepada pengembang anggota REI untuk turut mengembangkan pariwisata di Indonesia di antaranya dengan pembangunan hotel, resort, wisata agriculture, wisata penangkapan ikan, dan lain sebagainya yang dituangkan dalam 10 program prioritas.

Sedangkan Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, mengatakan, pengembangan pariwisata ke depan perlu model bisnis yang baru dan tidak konvensional dengan mengikuti perkembangan teknologi digital terkini.

“Mayoritas pasar properti saat ini berasal dari generasi milenial, mereka menyukai wisata gaya hidup,” kata Hary yang saat ini juga tengah mengembangkan destinasi wisata baru di Lido Bogor Jawa Barat dan Tanah Lot Bali.

Sedangkan peneliti dari Fraounhoffer Institute, Jerman, Vanessa Borkman, dalam ajang ini menyampaikan konsep hotel di masa depan yang mengalami perubahan baik dari desain bangunan maupun kamar, interior, serta penggunaan teknologi tekini.

Vanessa menjadikan Hotel Schani Vienna sebagai salah satu contoh hotel yang telah mengadopsi konsep hotel masa depan.

Menurut dia, penggunaan teknologi terkini hotel harus bisa menghilangkan kelelahan dan stres dari tamu setelah melakukan perjalanan.

Untuk itu kelengkapan hotel seperti lampu, kontrol suara, penampilan muka hotel, minibar, tempat tidur, spa, lantai seluruhnya menggunakan sensor sehingga dikontrol melalui ponsel pintar. Bahkan dapat diakses secara virtual, serta beberapa telah menggunakan teknologi robot untuk memberikan pelayanan.

Hal senada juga dikemukakan Alexander Nayoan dari Jakarta Hotel Institute yang mengatakan, wisata digital menjadi hal yang mutlak saat ini mulai dari survei lokasi, reservasi, pembayaran seluruhnya menggunakan perangkat ponsel pintar.

Alexander juga menyampaikan pentingnya untuk meningkatkan nilai dari hotel dan resort menjadi lebih baik dengan demikian konsumen akan semakin senang dan betah untuk kembali lagi.

“Untuk itu penting bagi pengembang fasilitas pariwisata memikirkan akomodasi yang seperti apa serta bagaimana sistem ekosistem yang akan mendukung. Atau kalau sudah memiliki lahan akan dikembangkan seperti apa,” ujar dia.

Sedangkan Luigi dan Zino Prins menyampaikan pengembangan bangunan tua yang menjadi produk properti kekinian seperti bioskop tua di Penang Malaysia yang dikembangkan menjadi hotel. Tanpa mengusung unsur sejarah dari bangunan tersebut. Kemudian bagaimana menyulap pabrik gula di Amsterdam menjadi bangunan “mix use” (hotel, tempat hiburan, serta convention dan event center). (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...