Kerajinan Anyaman di Sikka, Mati Suri

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Aneka kerajinan tangan berupa anyaman yang biasa menggunakan bahan daun Lontar atau daun Gebang di Kabupaten Sikka belum terlalu berkembang. Apalagi aneka barang produk rumah tangga dari anyaman juga mulai ditinggalkan masyarakat.

“Kalau produk anyaman untuk pasaran lokal NTT saja tentu sangat sulit. Untuk Kabupaten Sikka saja, perajin anyaman hampir tidak ada lagi. Kecuali di desa-desa yang hanya membuat anyaman saat acara adat,” sebut Lusia Sarni, salah seorang perajin anyaman di Sikka, saat ditemui di Pasar Alok, Selasa (18/12/2018).

Lusia mengakui, bisa menganyam tikar dan juga produk lainnya, namun tidak tahu barang tersebut mau dijual ke mana. Dulu, tikar anyaman masih banyak yang beli. Tapi setelah tahun 2000-an, sudah tidak ada lagi yang membeli tikar yang dianyam dari daun Gebang atau Lontar,” sebutnya.

Hal ini, kata Lusia, membuat satu per satu perajin anyaman mulai berhenti menganyam. Bahkan tikar anyaman, saat ini sudah tidak dijumpai lagi dijual pedagang di pasar-pasar tradisional. Tergusur oleh tikar plastik yang harganya lebih murah dan ringan.

“Maka sekarang saya cuma anyam seneng dan bakul saja, yang biasa dipergunakan untuk pesta atau acara adat. Itu pun dalam seminggu jumlahnya juga tidak seberapa. Paling banyak 10 buah saja,” ungkapnya.

Padahal, bahan baku daun Gebang dan Lontar, banyak sekali dan mudah diperoleh. Namun tidak dipergunakan secara maksimal. Sebagai perajin tentu dia harus menerima kenyataan ini. Sebab masyarakat saat ini lebih memilih menggunakan berbagai produk dari bahan plastik.

“Kalau kami disuruh anyam, pasti kami siap. Tapi siapa yang mau beli. Di desa juga banyak orang yang bisa menganyam sehingga produk anyaman kami tidak bisa dibeli orang desa,” ungkapnya.

Lusi berharap, pemerintah bisa mencari pasar untuk produk anyaman, khususnya produk anyaman khas daerah seperti Seneng. Pemerintah juga bisa mengucurkan modal usaha dan meminta perajin membentuk kelompok agar bisa juga diberikan pelatihan menganyam aneka produk yang digemari pasar.

Mery Riwu, pedagang aneka barang anyaman untuk keperluan pesta, saat ditemui di Pasar Alok juga mengatakan hal yang sama. Dirinya selalu memesan produk anyaman dari perajin di wilayah barat Kabupaten Sikka atau dari daerah Lio.

Mery Riwu pedagang aneka anyaman dari daun Lontar atau Gebang saat berjualan di Pasar Alok Maumere. Foto: Ebed de Rosary

“Orang yang anyam pun rata-rata sudah berumur 60 sampai 70 tahun. Kalau mereka sudah meninggal, tidak ada lagi anak-anak muda yang bisa menganyam. Karena memang menganyam hanya pekerjaan sambilan saja,” tuturnya.

Mery pun mengaku, masih setia menjual aneka barang anyaman karena pesanan selalu saja ada setiap hari. Paling sehari hanya bisa laku satu dua anyaman saja. Seperti Seneng yang dipakai untuk mengisi barang-barang hantaran terutama saat pesta atau acara adat tersebut.

“Kami yang jual anyaman di Pasar Alok kini cuma 3 pedagang saja,” ungkapnya.

Pedagang anyaman pun, kata Mery, kesulitan untuk memasarkan produk mereka di tempat lain. Karena pasti tidak ada yang beli. Maka, dirinya tetap bertahan berjualan di Pasar Alok karena sudah banyak pembeli yang mengetahui.

“Kalau tidak ada pesta atau acara adat, anyaman kami tidak ada yang beli. Paling kami cuma tidur-tiduran saja. Maka, saya juga membuka usaha toko sembako di kompleks perumahan. Karena bila hanya mengandalkan menjual anyaman, pasti rugi,” pungkasnya.

Lihat juga...