Kerukunan Warga Lampung Sediakan Dapur Umum hingga Pelosok Desa

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Bencana alam tsunami yang melanda wilayah Lampung dan Banten pada Sabtu (22/12) membangkitkan empati mendalam bagi masyarakat, relawan.

Memasuki awal pekan kedua kepedulian masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi pengungsi, relawan serta pihak terkait di posko pengungsian datang dari sejumlah pihak.

Hasran Hadi, sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) menyebut, guyup rukun masyarakat bahu membahu terlihat pasca bencana alam menimpa sebagian saudara di pesisir Lamsel.

Hasran Hadi bahkan menyebut energi empati dan keprihatinan tersebut telah terlihat semenjak hari pertama pasca tsunami melanda.

Sepanjang kejadian bencana alam di wilayah Lamsel diantaranya banjir di Kecamatan Sragi, banjir di Tarahan, badai siklon tropis Dahlia ia belum pernah melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam penyediaan dapur umum mandiri.

Sebelumnya dapur umum lapangan (Dumlap) identik dengan tugas Dinas Sosial (Dinsos) melalui Tagana.

“Saya terharu bercampur bangga karena saudara yang tidak tertimpa musibah ikut berpartisipasi, secara komunal digerakkan mandiri melakukan berbagai cara meringankan beban saudara kita yang tertimpa musibah tsunami pada pemenuhan kebutuhan pokok terutama konsumsi,” terang Hasran Hadi, sekretaris Tagana Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (30/12/2018).

Guyup rukun masyarakat pada wilayah bencana tersebut diakuinya tidak lepas dari adanya kampung siaga bencana (KSB). Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) meski tidak terimbas bencana bahu membahu membuat dapur umum pada wilayah yang tidak terjangkau oleh personil Tagana.

Secara mandiri warga bahkan membuat posko sekaligus dapur umum setelah peralatan memasak, rumah warga terdampak tsunami mengalami kerusakan.

Hasran Hadi menyebut, posko Tagana Lamsel dilengkapi fasilitas Dumlap telah disiagakan di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa sejak Minggu (23/12) silam.

Semenjak hari pertama porsi nasi bungkus yang disediakan di posko mengalami kenaikan rata rata 1000 hingga 2000 bungkus per hari. Selama sepekan kebutuhan nasi bungkus yang sudah didistribusikan ke pengungsi menurut Hasran Hadi berjumlah sekitar 11.000 lebih nasi bungkus.

Sesuai dengan kemampuan Dumlap, jatah makan bagi pengungsi diberikan dua kali dalam sehari pada siang serta sore.

Hasran Hadi (kanan) sekretaris Tagana Kabupaten Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Menu yang disediakan di Dumlap berupa nasi, sambal tahu, ikan, tempe, mie instan, sayur, telur dan daging. Menu tersebut diakuinya sesuai dengan kemampuan Dumlap sebagian bahkan mendapatkan bantuan dari masyarakat untuk sayuran dan lauk.

Selain bantuan kebutuhan untuk penyiapan menu, sebagian masyarakat disebut Hasran Hadi berbaur dengan personil Tagana sekaligus menjadi relawan untuk membantu proses memasak sebagian membungkus nasi hingga proses pendistribusian ke posko pengungsian.

Kepedulian akan pengungsi tersebut juga terlihat di dapur umum mandiri posko desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Sejumlah wanita melakukan proses pengolahan bahan makanan menjadi menu untuk para pengungsi.

Berbagai jenis bantuan berupa beras, mie instan, telur serta kebutuhan makanan diolah secara mandiri. Hal yang sama dilakukan masyarakat di posko Desa Totoharjo kecamatan Bakauheni dengan pemberlakuan sistem terjadwal untuk memasak.

“Setiap wanita di sejumlah dusun desa Totoharjo diberi jadwal untuk memasak di dapur umum untuk makan siang dan sore. Jadwal sudah disusun sehingga proses memasak berjalan lancar hingga pendistribusian,” beber Suparti.

Suparti menyebut, meski tidak menjadi kawasan terdampak bencana, namun kepedulian warga cukup tinggi. Guyub rukun dalam menyediakan konsumsi bagi pengungsi dimulai dari proses mengolah makanan hingga siap disajikan.

Sesuai dengan jumlah pengungsi rata rata di posko pengungsian dengan penyediaan dapur umum mandiri menyiapkan sebanyak 300 hingga 500 bungkus per hari. Kegiatan memasak oleh kaum perempuan di dapur umum disebut Suparti menjadi hal biasa bagi warga terutama saat terjadi musibah tanpa dikomando warga mulai membantu menyediakan kebutuhan bagi pengungsi.

Kepedulian kepada pengungsi juga dilakukan oleh sejumlah masyarakat dengan teknis yang berbeda. Pada sejumlah desa di wilayah Penengahan dan Kalianda, sejumlah kepala desa menginstruksikan setiap dusun hingga kepala keluarga membuat nasi bungkus.

Tekhnis pelaksanaannya sejumlah warga mengumpulkan donasi berupa uang, beras, mi instan, telur. Selanjutnya bahan mentah tersebut diolah dan dibungkus untuk dikirimkan ke posko pengungsian.

Selain inisiatif desa, komunitas Pemuda Pasuruan Serentak (Pempas) Peduli yang pernah membantu korban tsunami Pasigala (Palu Sigi dan Donggala) membuat program satu keluarga tiga nasi bungkus. Konsep tersebut, menurut Aristoteles, salah satu anggota Pempas Peduli dilakukan untuk membantu pengungsi untuk kebutuhan makanan.

Nasi bungkus dari setiap warga akan dikirimkan ke pos pengungsian setelah sebelumnya dikumpulkan di pos Pempas Peduli. Selain makanan siap santap bantuan berupa beras, mie dan pakaian layak pakai juga disalurkan ke sejumlah posko pengungsian.

Kepedulian masyarakat untuk membantu disebut Aristoteles menjadi energi positif guyup rukun masyarakat Lamsel pada sesama yang tertimpa musibah bencana.

Lihat juga...