Kisah Anthon, Pelukis Sumbar yang Mengais Rejeki di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Jemari tangan Ibnu Daiton Koto, sangat lincah melukis pemandangan alam Minangkabau, Sumatera Barat, ke dalam kain beludru warna hitam.

Berpadu ragam warna cat minyak, lukisan itu terlihat indah dan adem. Suasana hati pengunjung Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pun hanyut dalam keindahan alam Minangkabau.

Anthon demikian panggilan Ibnu Daiton Koto, adalah pelukis asal Sumatera Barat yang mengadu nasib di TMII, tepatnya di Anjungan Sumatera Barat (Sumbar).

“Alhamdulillah, saya sudah 26 tahun melukis di anjungan Sumbar ini. Saya tidak nyangka bisa mengais rejeki di TMII,” ujar Anton kepada Cendana News, Kamis (6/12/2018).

Anthon pun berkisah, kala duduk di kelas 3 SMP, ia mengikuti kegiatan Jambore Nasional ke 6 tahun 1981 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Saat itu, ia bertemu dengan Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto dan Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto.

Saat itu pula, Anthon bersalaman dengan Pak Harto dan Ibu Tien, serta berfoto bersama. Album foto itu menjadi kenangan terindah yang disimpannya hingga kini.

Lukisan karya Ibnu Daiton Koto atau Anthon, dipasarkan di Anjungan Sumatera Barat TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Anthon merasa bangga bisa bertemu dengan orang nomor satu Indonesia, kala itu. Dalam doanya, ia berharap bisa bertemu lagi dengan Pak Harto dan Ibu Tien, di suatu hari nanti.

“Alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah SWT, saya bisa bekerja jadi pelukis di TMII, dan kembali bertemu, salaman serta berfoto dengan Pak Harto dan Ibu Tien, saat Hari Anak Nasional di Istana Anak di tahun 1995,” ujarnya.

Memang diakuinya, pada HUT TMII, ia beberapa kali melihat Pak Harto dan Ibu Tien hadir di TMII. Tapi itu dari kejauhan, karena ketatnya penjagaan para ajudan.

“Ya saat di Istana Anak itu, saya bisa dekat dengan beliau. Saya sangat berterima kasih pada Pak Harto dan Ibu Tien yang telah membangun TMII, hingga saya bisa kerja di sini,” ucapnya lirih.

Kembali ia berkisah, menjadi pelukis di anjungan Sumbar TMII sejak tahun 1992. Awalnya, jelas dia, di tahun itu, ia bersama istri dan anaknya, ziarah ke makam mertua di Bekasi. Lalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke TMII.

Saat melihat anjungan Sumbar, ramai pengunjung. Anthon pun menemui kepala anjungan untuk memohon izin agar karya lukisannya bisa dipasarkan di anjungan Sumbar.

Gayung pun bersambut, kepala anjungan Sumbar mengizinkan Anthon memasarkan lukisannya. “Alhamdulillah saya diizinkan. Saya coba melukis, dan alhamdulillah lukisan pertama saya dibeli pengunjung Malaysia. Itu lukisan biasanya saya jual di kampung seharga Rp 25 ribu, di sini laku Rp Rp100 ribu,” tukasnya.

Menurutnya, kala itu dirinya tidak ada niat untuk tinggal di Jakarta. Namun karena melihat peluang karya lukisnya bisa dipasarkan di TMII, ia pun kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta dengan tinggal mengontrak rumah di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

“Saya coba tambah modal dengan menjual simpanan gelang emas punya istri. Saya beli bahan dan terus melukis. Alhamdulillah lukisan saya laku, sampai sekarang banyak turis yang membeli,” katanya.

Harga satu lukisan dipatok mulai Rp 200 ribu, Rp 400 ribu, Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Kisaran harga itu jelas dia, disesuaikan dengan besar kecilnya lukisan dan juga tingkat kesulitan saat melukis.

Lihat juga...