Kisah Anthon, Pelukis Sumbar yang Mengais Rejeki di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

155

JAKARTA – Jemari tangan Ibnu Daiton Koto, sangat lincah melukis pemandangan alam Minangkabau, Sumatera Barat, ke dalam kain beludru warna hitam.

Berpadu ragam warna cat minyak, lukisan itu terlihat indah dan adem. Suasana hati pengunjung Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pun hanyut dalam keindahan alam Minangkabau.

Anthon demikian panggilan Ibnu Daiton Koto, adalah pelukis asal Sumatera Barat yang mengadu nasib di TMII, tepatnya di Anjungan Sumatera Barat (Sumbar).

“Alhamdulillah, saya sudah 26 tahun melukis di anjungan Sumbar ini. Saya tidak nyangka bisa mengais rejeki di TMII,” ujar Anton kepada Cendana News, Kamis (6/12/2018).

Anthon pun berkisah, kala duduk di kelas 3 SMP, ia mengikuti kegiatan Jambore Nasional ke 6 tahun 1981 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Saat itu, ia bertemu dengan Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto dan Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto.

Saat itu pula, Anthon bersalaman dengan Pak Harto dan Ibu Tien, serta berfoto bersama. Album foto itu menjadi kenangan terindah yang disimpannya hingga kini.

Lukisan karya Ibnu Daiton Koto atau Anthon, dipasarkan di Anjungan Sumatera Barat TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Anthon merasa bangga bisa bertemu dengan orang nomor satu Indonesia, kala itu. Dalam doanya, ia berharap bisa bertemu lagi dengan Pak Harto dan Ibu Tien, di suatu hari nanti.

“Alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah SWT, saya bisa bekerja jadi pelukis di TMII, dan kembali bertemu, salaman serta berfoto dengan Pak Harto dan Ibu Tien, saat Hari Anak Nasional di Istana Anak di tahun 1995,” ujarnya.

Memang diakuinya, pada HUT TMII, ia beberapa kali melihat Pak Harto dan Ibu Tien hadir di TMII. Tapi itu dari kejauhan, karena ketatnya penjagaan para ajudan.

“Ya saat di Istana Anak itu, saya bisa dekat dengan beliau. Saya sangat berterima kasih pada Pak Harto dan Ibu Tien yang telah membangun TMII, hingga saya bisa kerja di sini,” ucapnya lirih.

Kembali ia berkisah, menjadi pelukis di anjungan Sumbar TMII sejak tahun 1992. Awalnya, jelas dia, di tahun itu, ia bersama istri dan anaknya, ziarah ke makam mertua di Bekasi. Lalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke TMII.

Saat melihat anjungan Sumbar, ramai pengunjung. Anthon pun menemui kepala anjungan untuk memohon izin agar karya lukisannya bisa dipasarkan di anjungan Sumbar.

Gayung pun bersambut, kepala anjungan Sumbar mengizinkan Anthon memasarkan lukisannya. “Alhamdulillah saya diizinkan. Saya coba melukis, dan alhamdulillah lukisan pertama saya dibeli pengunjung Malaysia. Itu lukisan biasanya saya jual di kampung seharga Rp 25 ribu, di sini laku Rp Rp100 ribu,” tukasnya.

Menurutnya, kala itu dirinya tidak ada niat untuk tinggal di Jakarta. Namun karena melihat peluang karya lukisnya bisa dipasarkan di TMII, ia pun kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta dengan tinggal mengontrak rumah di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

“Saya coba tambah modal dengan menjual simpanan gelang emas punya istri. Saya beli bahan dan terus melukis. Alhamdulillah lukisan saya laku, sampai sekarang banyak turis yang membeli,” katanya.

Harga satu lukisan dipatok mulai Rp 200 ribu, Rp 400 ribu, Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Kisaran harga itu jelas dia, disesuaikan dengan besar kecilnya lukisan dan juga tingkat kesulitan saat melukis.

Lukisan alam Minangkabau karya Anthon ini, tiga dimensi dengan warna-warna cerah yang disukai turis China, Jepang, Malaysia dan lainnya.

Dalam sehari, Anthon bisa menyelesaikan dua lukisan ukuran kecil. Namun untuk lukisan besar dibutuhkan waktu seharian. Lukisan hasil karyanya harus dikeringkan dulu, baru bisa dibeli pengunjung.

Menurutnya, pembelinya memang lebih banyak turis. Bahkan ada orang Jepang yang memesan lukisan dia. Warga Amerika Serikat (AS) juga ada yang datang ke TMII, sengaja membeli lukisannya, setelah melihatnya di media sosial (medsos).

Selain itu, pengunjung warga Indonesia pun ada yang membeli lukisan dia. Saat ini saja, Anthon sedang merampungkan dua lukisan pesanan warga Cakung, dan Cengger, Jakarta Timur.

“Alhamdulillah sehari bisa terjual dua lukisan, kadang juga satu ya. Dalam seminggu ya lumayan, dan omzet sebulan kisaran Rp 10 juta,” ujar pria kelahiran 55 tahun tersebut.

Dari mengais rejeki dengan profesi pelukis di TMII, Anthon merasa bersyukur. Kini dirinya sudah memiliki rumah sendiri dan membeli tanah di kampung halamannya di Sumbar. Bahkan ia juga bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga ke perguruan tinggi di Jakarta.

“Alhamdulillah dari hasil melukis, saya sudah beli rumah dan tanah di kampung, serta bisa nyekolahin anak hingga kuliah. Sekarang mereka sudah kerja,” ujarnya.

Anthon merasa bangga bisa kerja di TMII, sesuai dengan bakatnya. Ia berharap bisa menjadi motivasi generasi muda yang berkunjung ke anjungan Sumbar untuk berkreasi melukis budaya Indonesia.

Ia pun kerap mengajarkan teknik melukis di saat ada pengunjung yang bertanya. Menurutnya, berbagi ilmu adalah ibadah. Apalagi yang dilukis adalah khazanah seni budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan.

“Saya melukis tentang alam Minangkabau. Jadi sekaligus mempromosikan potensi alam Sumbar kepada pengunjung, khususnya turis,” jelasnya.

Atas berkah mengais rejeki di TMII, lagi-lagi Anthon mengucapkan terima kasih kepada Pak Harto dan Ibu Tien. Di mata Anthon, Ibu Tien adalah sosok ibu teladan yang berjiwa besar mempersatukan masyarakat Indonesia dengan ragam budayanya dalam miniatur Indonesia, bernama TMII. Sehingga khazanah seni budaya Indonesia bisa dikenal turis asing.

Karena manakala mereka berkunjung ke TMII, semua ragam budaya daerah dari 34 provinsi tersaji di sini. Begitu juga sejarah bangsa bisa dilihat di museum-museum. Pengunjung juga bisa menikmati wahana rekreasi yang ada di TMII.

“Saya nggak nyangka bisa berkarya di TMII. Pak Harto dan Ibu Tien, pahlawan untuk kehidupan saya. Dengan adanya TMII, saya bisa hidup mengais rejeki di sini,” tegasnya.

Keinginan Anthon adalah ziarah ke makam almarhum Pak Harto dan Ibu Tien ke Astana Giribangun, Solo, Jawa Tengah. Dalam doanya, Anthon tak henti memohon kepada Allah SWT agar amal ibadah almarhum Pak Harto dan Ibu Tien diterima dan ditempatkan di surga.

“Insyallah, saya tahun depan ziarah ke makam almarhum Pak Harto dan Ibu Tien. Itu keinginan sudah lama, semoga niat saya ini terlaksana,” ujarnya.

Selain itu, Anthon juga ingin memberikan karya lukisannya kepada putri sulung Pak Harto, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto.

“Saya ingin kasih lukisan ke Bu Tutut tentang alam Minang, sebagai ucapan terima kasih saya,” ujar pria lulusan Seni Lukis, IKIP Padang, Sumbar.

Baca Juga
Lihat juga...