Komitmen Politik Pemprov NTT Perangi Penyakit Masih Rendah

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Masih banyaknya warga NTT yang terserang penyakit berbasis lingkungan seperti Malaria, Demam Berdarah (DB), serta filariasis atau kaki gajah, memperlihatkan masih rendahnya komitmen pemerintah daerah setempat terhadap penanganannya.

Dosen Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr.Pius Weraman Making,SKM,Mkes.Foto : Ebed de Rosary

“Penyakit yang diderita warga NTT, masih dipengaruhi komitmen politik pemerintah daerah masih rendah terhadap penanganannya,” sebut Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Pius Weraman Making, SKM, Mkes, Rabu (19/12/2018).

Selain lemahnya komitmen pemerintah daerah setempat, partisipasi masyarakat juga dalam kondisi yang sama. Kedua hal itu, harus diatasi bersama, agar berbagai penyakit tersebut tidak kembali diderita warga. “Penyakit malaria dan filariasis, faktor resikonya yang paling mungkin yakni manusia, agennya atau kuman penyakit serta lingkungannya. Ketiga faktor besar tersebut, perlu perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk dikendalikan,” tegasnya.

Selain pengobatan, masyarakat harus dijaga agar tetap sehat. Dan hal itu membutuhkan kesadaran semua pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, menjelaskan, di 2017, ada tujuh tujuh kabupaten yang masuk kategori Endemis Tinggi (High Case Incidence/HCI). Kabupaten tersebut adalah, Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Lembata, Belu dan Malaka. Ketujuh kabupaten tersebut, Annual Parasite Incidence (API)-nya lebih besar dari lima. Artinya, dari 1.000 penduduk, lebih dari lima orang menderita penyakit malaria.

Sementara, enam kabupaten di NTT, berstatus MCI (Moderate Case Incidence), atau endemis sedang. Dimana API-nya antara satu hingga lima. Kabupaten tersebut adalah, Kupang, Sabu Raijua, Flores Timur, Ende, TTS dan  Alor. Kemudian sembilan kabupaten dan kota masuk kategoris endemis rendah atau LCI (Low Case Incidence). Daerah dengan angka API lebih kecil dari satu adalah, Manggarai Timur, Manggarai, Nagekeo, Ngada, TTU, Sikka, Manggarai Barat, Rote Ndao dan kota Kupang.

Untuk kasus Filariasis, atau penyakit kaki gajah, sampai 2017, ada dua kabupaten yakni, Alor dan Rote Ndao, yang sudah dapat Sertifikat Eliminasi Filariasis dari Menteri Kesehatan. Khusus untuk Ende, masih tahap evaluasi penularan. Sementara untuk 14 kabupaten lain, sudah dan sedang melaksanakan Pemberian Obat Penyakit Massal (POPM) Filariasis, untuk tahap lanjutan tahun kedua dan ketiga.

Lihat juga...