Kopi Samosir Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

180
Ilustrasi - Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA – Kopi Samosir, resmi mengantongi sertifikat perlindungan Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM. Proses sertifikasi, difasilitasi oleh Deputi Fasilitas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Salah satu dari enam produk yang memiliki potensi IG tersebut adalah Kopi Samosir, yang sertifikat perlindungannya resminya telah diberikan. “Pada 2017-2018, bekerjasama dengan DJKI Kementerian Hukum dan HAM dan tim ahli IG, ada enam produk yang memiliki potensi IG dan telah difasilitasi untuk memperoleh sertifikat perlindungan IG,” ujar Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Ricky Joseph Pesik.

Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, mengatakan, sertifikat perlindungan Indikasi Geografis, dapat meningkatkan penghasilan para petani secara khusus. “Karena kita diakui kualitasnya, sehingga penjualan atau penyebaran kopi ini akan mempunyai dampak diketahui masyarakat secara kualitas,” kata Rapidin Simbolon.

Keuntungan utama yang akan dirasakan oleh petani kopi adalah harga yang lebih tinggi. “Kami sekarang sedang mengupayakan nilai tambah, artinya kami buat kelompok-kelompok tani ini untuk mengelola sendiri menjadi sebuah roastingan kopi yang bagus, dan ini dijual kepada para wisatawan,” tandasnya.

Sertifikat tersebut, juga membuka peluang terciptanya usaha baru. Saat ini, telah terdapat dua rumah produksi, dan dua rumah produksi lagi akan dibuka di 2019 mendatang. Dengan produksi hampir 5.000 ton biji kopi per tahun, dengan luas lahan total 4.913,24 hektare, saat ini, Kopi Samsosir telah diekspor ke Thailand dan ke sejumlah negara di Eropa, termasuk Prancis.

Kualitas Kopi Samosir telah mendapat pengakuan excellent, dengan skor di atas 85, dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember. Hal ini, menurut Rapidin Simbolon dikarenakan Kopi Samosir ditanam di atas ketinggian 1450 dpl (dari permukaraan laut) dan ditanam di lahan bekas letusan gunung berapi.

Dalam meningkatkan nilai tambah bagi para petani, Kopi Samosir masih terkendala pedagang besar, yang ingin mengendalikan harga. Untuk itu, pemerintah daerah berencana untuk menampung secara keseluruhan produksi kopi samosir, pada saat musim panen. “Nanti pada saat musim tidak panen bisa kita jual dalam bentuk biji kering,” ujar Rapidin Simbolon.

Dia juga akan menerapkan kebijakan dari hulu ke hilir untuk melindungi Kopi Samosir. “Para petani di sektor hulu, sementara para hotel di sektor hilirnya kemudian juga pengusaha pengusaha kecil, coffee shop yang bisa menjual kopi ini langsung kepada wisatawan,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...