Korban Tsunami Selat Sunda, Dimakamkan Tanpa Sepengetahuan Istri

Editor: Mahadeva

BANYUMAS – Pemakaman Aris Yuwono (29), salah satu korban tsunami Selat Sunda, yang merupakan warga Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, telah dilakukan Selasa (25/12/2018) sore. Pemakaman dilakukan pukul 17.20 WIB.

Aris Yuwono, menjadi korban tsunami Selat Sunda, bersama anak dan istrinya. Sang istri, Tri Rahmawati, selamat dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Tri Rahmawati belum mengetahui, kalau suami dan anak semata wayang mereka menjadi korban dan meninggaldunia.

Paman korban, Herno – Foto Hermiana E Ef

ʺKeponakan saya ini menjadi korban tsunami satu keluarga, mereka sedang mengikuti acara piknik dari kantor Aris. Aris dan anaknya, Sakti (5) meninggal, tetapi jenazah Sakti belum dibawa ke Banyumas. Kalau istrinya selamat dan masih menjalani perawatan, sehingga belum tahu kalau suami dan anaknya meninggal,ʺ kata paman korban, Herno, Selasa (25/12/2018).

Aris bekerja sebagai perawat, di Rumah Sakit Tarakan sejak empat tahun lalu. Istrinya dari Pemalang, dan selama ini mereka hidup terpisah. Anak dan istri di Pemalang, sementara Aris di Jakarta. Saat akhir pekan, Aris biasa pulang ke Pemalang dan terkadang menyempatkan diri singgah ke Banyumas untuk menengok kedua orang tuanya. Akhir pekan kemarin, kebetulan ada acara gathering, bersama karyawan di RS tempat Aris bekerja. Sehingga Aris tidak pulang dan anak-istrinya yang ke Jakarta untuk mengikuti acara tersebut.

Ketua RT 02 RW 01, Desa Kedungwuluh Kidul, yang  juga paman korban, Suradi mengatakan, keluarga di Banyumas pertama kali mendapat kabar duka pada Senin (24/12/2018). Kabar tersebut disampaikan oleh mertua Aris. ʺKeluarga mertuanya Mas Aris sekarang berada di Jakarta, untuk merawat istri korban, sehingga tidak bisa menyaksikan pemakaman Mas Aris,ʺ jelasnya.

Sementara itu, saat jenazah korban tiba, tangis keluarga korban pecah. Ibu korban, Natem, menangis histeris dan terus memanggil-manggil nama anak sulungnya tersebut. Ayah korban, Yudi Harsono, juga tak kuasa menahan tangis, dan hanya bisa duduk terpaku di kursi, sambil memandangi jenazah anaknya. Aris merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Menurut Herno, Aris terakhir pulang dua minggu lalu. Ia datang untuk menjemput adiknya, yang mau melamar kerja di rumah sakit tempatnya bekerja.

Jika pulang ke kampung halaman, Aris selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah saudara-saudaranya, termasuk ke rumah pamannya, Herno. ʺTerakhir bertemu keponakan saya itu, dua minggu lalu, saat ia pulang menjemput adiknya. Adiknya, mau melamar kerja di rumah sakit tempat Aris kerja. Sama sekali tidak ada firasat apa-apa waktu terakhir bertemu,ʺ pungkasnya.

Lihat juga...