Kreasi Ornamen Gua Natal, Hidupkan Budaya Berbagi

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Salah satu budaya atau tradisi umat Katolik menjelang Natal adalah membuat ornamen gua Natal. Tradisi ini masih kerap dibuat oleh sejumlah keluarga Gereja Katolik di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel)  untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus.

Lusia Purwantiningsih (36) salah satu umat Katolik di stasi Pasuruan menyebut, tradisi membuat gua Natal masih dilestarikan hingga sekarang. Tradisi yang berhubungan erat dengan peristiwa kelahiran Sang Juru Selamat dalam suasana kesederhanaan tersebut memiliki makna mendalam.

Gua Natal yang dibuat oleh keluarganya, disebut Lusia Purwatiningsih, dikerjakan bersama sang suami, Felix Susanto (40) dan dua anaknya Geraldus (7) dan Rika Amelia (12). Proses pembuatan gua Natal disebut ibu yang akrab dipanggil Nining tersebut, memanfaatkan sejumlah barang bekas jenis kertas koran serta kayu tidak terpakai.

Sejumlah ornamen pelengkap di antaranya dengan patung tiga dimensi Yesus Kristus dalam palungan, Yusuf dan Maria serta orang Majus, para gembala, malaikat dan bintang Betlehem.

Tradisi tersebut, diakui Nining, masih dipertahankan hingga sekarang, sebagai bagian ungkapan iman Katolik.

Ia kerap mempersiapkan semua bahan tersebut sepekan sebelum proses pembuatan gua Natal. Bertepatan dengan momen hari libur sekolah, Nining memastikan, beberapa bagian gua Natal dibuat sebagai gambaran kondisi ladang penggembalaan, kandang ternak menyerupai aslinya. Nining mengaku membuat gua Natal dengan ukuran kecil menyesuaikan kondisi ruangan.

“Pembuatan gua Natal syarat utamanya memperhatikan ukuran patung tiga dimensi. Menggambarkan suasana tersebut seperti asli sehingga membutuhkan ketelatenan, kesabaran selama proses pengerjaan pembuatan,” terang  Lusia Purwatiningsih, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (23/12/2018).

Pembuatan gua Natal yang rutin dilakukan saat Natal tiba, disebut Nining, menjadi tradisi yang sangat dinanti anak anak. Ia menyebut, bahan berupa koran bekas dibeli dari penjual koran. Kerangka kayu serta sejumlah bunga di antaranya disediakan secara khusus beberapa hari sebelum perakitan.

Setelah kerangka terbuat dari bambu selesai dibuat, keras koran akan disusun sedemikian rupa menggambarkan suasana alam seperti aslinya. Sejumlah ornamen bahkan menggunakan pohon hidup seperti pohon cemara, bunga serta rumput.

Pembuatan gua Natal dikerjakan bersama sang anak, supaya anaknya tahu proses berkreasi. Saat ia masih kecil, proses pembuatan gua Natal juga melibatkan seluruh anggota keluarga sesuai dengan kemampuan. Butuh biaya lebih dari Rp100.000  untuk pembuatan kreasi gua Natal tersebut. Dengan mengajak serta anak-anak, ia mengaku, juga meminta sang anak agar menabung untuk membeli sejumlah peralatan guna pembuatan kreasi gua Natal tersebut.

“Proses pembuatan gua Natal menjadi salah satu cara melatih anak-anak untuk berhemat, sekaligus menyisihkan uang jajan untuk berbagi kepada sesama,” beber Nining.

Proses penyusunan sejumlah ornamen Natal, disebut Nining, harus dikerjakan dengan sangat hati-hati. Sebab proses merangkai kertas koran bekas yang dibentuk menjadi pegunungan, tebing serta bebatuan, membutuhkan ketelatenan tersendiri.

Butuh waktu selama tiga hingga empat hari untuk pembuatan gua Natal ukuran sedang. Setelah semua ornamen selesai dipasang aksesoris pelengkap, terakhir biasanya dipercantik lampu warna warni. Terakhir tugas anak-anak adalah membuat kado Natal yang diletakkan di dekat gua Natal.

Kado yang dibuat oleh anakanak tersebut, dibuat dari bekas kotak kue dan sejumlah kotak lain. Selanjutnya kertas yang disiapkan untuk menghias merupakan kertas minyak atau kertas manila warna warni.

Sebelum kotak dibungkus dengan rapi di dalamnya diisi dengan makanan ringan kemasan serta sejumlah uang dengan nominal bervariasi mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000. Uang yang digunakan kerap merupakan hasil menabung anak-anak selama satu tahun yang diperuntukkan untuk perayaan Natal.

“Total ada puluhan bahkan ratusan kado yang di dalamnya berisi uang dan makanan ringan untuk bisa diambil oleh sesama anak anak yang berkunjung,” terang Nining.

Kado Natal yang diletakkan di depan gua Natal  memiliki makna memberi persembahan kepada bayi Yesus. Hal tersebut diakuinya menyimbolkan persembahan anak-anak seperti yang dilakukan para Majus dari Timur sesuai dengan Injil Lukas 2:7-16.

Selain sebagai simbol persembahan, kado Natal tersebut akan dibagikan sebagai hadiah. Pemberian tersebut menjadi cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama terutama anak-anak sebaya.

Rika Amelia, sang anak yang membuat kado Natal mengungkapkan, meski diisi dengan makanan ringan dan uang, bentuk kado dibuat semenarik mungkin. Kado tersebut sekaligus menyimbolkan bentuk upaya menyisihkan sebagian uang jajan untuk dibelikan makanan tradisional. Selama beberapa tahun membuat gua Natal berikut kadonya, Rika Amelia yang duduk di bangku SD tersebut merasa senang.

“Saat ada kawan sebaya datang, maka saya akan memberikan hadiah kado untuk dibawa pulang,” terang Rika Amelia.

Rika Amelia (paling kiri) menyiapkan kado Natal di sekitar patung para majus dari Timur yang membawa persembahan untuk bayi Yesus – Foto Henk Widi

Tradisi membuat gua Natal, disebut Rika Amelia, mulai banyak dilakukan oleh keluarga yang memiliki anak kecil. Saat perayaan Natal yang diawali dengan Misa malam Natal, anak-anak akan berkeliling ke sejumlah keluarga yang merayakan Natal.

Sejumlah keluarga pembuat kado Natal akan memberikan kado saat anak-anak berpamitan. Pembuatan kado Natal sebagai pelengkap gua Natal kerap menyesuaikan jumlah rekan sebaya sehingga semua anak akan mendapat hadiah.

Meski sederhana, namun cara tersebut menjadi tradisi bagi anak-anak untuk hidup sederhana dan rela berbagi.

Lihat juga...