Legislator: Dengan Iptek, Kopi Jepara Bisa Menasional

173
Petani menjemur kopi, ilustrasi -Dok: CDN

JEPARA – Kopi hasil produksi masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dinilai layak masuk nasional, karena kualitasnya yang cukup baik.

“Bahkan, dilihat dari kualitas kopi saat dipanen, masih memungkinkan dikembangkan lagi, agar nantinya juga bisa tembus pasar internasional,” kata Anggota Komisi VII DPR RI, Daryatmo Mardiyanto, di Jepara, Minggu (2/12/2018).

Dalam rangka mendukung pengembangan tersebut, kata dia, dirinya mengajak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) datang langsung ke Desa Tempur untuk melihat potensinya, karena Komisi VII juga bermitra dengan LIPI.

Menurut dia, kehadiran LIPI sangat penting untuk melakukan penelitian yang hasilnya bisa bermanfaat untuk masyarakat. Ia ingin ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari urusan pra hingga pascapanen.

“Hal itu penting untuk memberi nilai tambah dan menggenjot daya saing produk kopi Tempur,” ujar Daryatmo.

Kegiatan pra yang dimaksudkan, misalnya urusan penggunaan pupuk organik hingga pascapanen, seperti cara pengolahan dan pengemasan kopi.

Daryatmo optimis, dengan sentuhan iptek, kopi asal Desa Tempur bisa tembus pasar nasional maupun pasar internasional, sehingga kesejahteraan masyarakat juga bisa meningkat.

Luasan lahan kopi di Desa Tempur mencapai ratusan hektare, di antaranya 360 hektare lahan milik warga, dan sekitar 200 hektare lahan milik Perhutani yang digarap oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat.

Ia juga mengapresiasi digelarnya Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI, dengan tema Pemanfaatan dan Penerapan Iptek Untuk Masyarakat, yang digelar di Balai Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Kepala Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI, Agus Fanar Syukri, menganggap adanya sentuhan iptek memang berpotensi meningkatkan nilai jual kopi Tempur hingga beberapa kali lipat.

“Jika dijual dalam bentuk bahan mentah, tentunya hanya Rp20.000 per kilogram. Setelah diolah dan dipasarkan di hotel, bandara atau tempat strategis lain, harga per cangkir kopi bisa mencapai Rp100 ribu,” ujarnya.

Ketika menjadi komoditas ekspor, kata dia, keuntungannya tentu bisa meningkat lagi. Apalagi, kopi tidak hanya bisa diolah menjadi minuman, namun bisa dalam bentuk produk lain.

Rencananya, kata dia, tim LIPI akan berkunjung kembali ke Desa Tempur pada Sabtu (8/12). Petani kopi setempat akan diajari cara mengolah pupuk cair organik hayati hingga pengoperasian alat pengemasan hasil produk unggulan.

Dengan pemanfaatkan pupuk organik, katanya, lebih ramah lingkungan serta bisa menekan biaya produksi, sedangkan teknologi pengemasan juga bisa diajarkan agar kopi lebih awet.

Kepala Desa Tempur, Sutoyo, mengakui hasil panen tanaman kopi di wilayahnya tergolong melimpah, namun petani masih membutuhkan sentuhan iptek agar hasil dan kualitasnya juga meningkat.

“Beberapa petani, lanjut dia, memang mulai merintis pengolahan kopi organik agar bisa tembus pasar nasional maupun pasar ekspor,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...