Lelaki Penjaga Sungai Cimanuk

CERPEN FARIS AL FAISAL

BERDIRILAH kau di bantaran sungai yang telah menjadi Taman Tjimanoek. Tegak seperti tiang lampu taman yang menerangi malam gulita sekali pun tanpa cahaya purnama.

Kaki-kakimu bagai mengakar belukar ke urat-urat tanah pesisir yang beraroma garam. Apa lagi yang kau lihat selain sungai Cimanuk yang meliuk? Selain itu, hanyalah buaya. Ya, buaya.

Kau tertegun memandangi alirannya. Pada riak dan jeramnya seolah melantunkan tembang tarling yang memainkan drama kehidupan orang-orang pantai utara. Sebuah perahu kayu yang baru pulang melaut dikayuh lelaki tua, membelah permukaan air dengan tenangnya seolah juga melintasi sungai di kepalamu.

Tiba-tiba berkelebat kenang, cerita mitologi dari Kakek Abuk tentang lelaki sungai yang sering ia ceritakan berulang pada masa kecilmu. Lelaki itu, katanya, makhluk yang menjaga sungai Cimanuk agar terus meliuk menemukan bentuk.

Cimanuk dengan peradaban baru –kota yang dibangun Arya Wiralodra di bantaran Cimanuk pun kabarnya tak lepas dari bantuan lelaki sungai itu– yang di bangun di atasnya.

Bukan sesuatu yang mustahil, jika kota-kota yang diatur peradabannya sekarang merupakan bangunan baru yang ditegakkan di atas reruntuhan bangunan dan peradaban lama. Penghuni yang bermukim sebelumnya tidak semuanya musnah atau hancur.

Tidak juga semua mengganggu karena terusik ekosistem alamnya. Bahkan banyak di antaranya justru bahu-membahu membangun kota dan tamadun di dalamnya. Seperti dalam mitologi bangsa Nisnas yang mendiami Sbetzbergen, hidup sezaman dengan Jin dan Dinosaurus. Mereka konon disebut-sebut turut membangun Swedia menjadi kota yang berkebudayaan dan bahkan negara yang berkemajuan.

“Apakah ia tinggal di sungai, Kek?” tanya kau yang mulai tertarik akan kisahnya.

“Sepanjang hidupnya, bahkan. Ia menempati istana di bawah sungai Cimanuk, Pulomas ,” jelasnya lagi.

“Lelaki yang menjadi raja kerajaan Manuk Rawa yang terkubur dalam banjir bandang Cimanuk masa silam . Manuk Rawa tidak lenyap, ia hanya berpindah alam. Seluruh rakyat dan rajanya pun berubah wujud yang lain.”

“Seperti apakah wujudnya, Kek?”

“Buaya.”

“Buaya?”

“Iya, buaya, Nak!”

***

KAU menatap kecipak buaya itu di riak Cimanuk. Bentuknya sebagaimana umumnya buaya air. Hanya punggungnya kelihatan berwarna kehijauan karena lumut sungai yang menempel dan tumbuh berbilang tahun di sisik-sisiknya. Barangkali karena telah begitu lama hidup dalam air sungai.

Ia bukan Jaka Bajul yang menjadi legenda orang-orang di bantaran Cimanuk, kata Kakek Abuk. Mereka keliru menganggap buaya itu jelmaan dari lelaki bangsa siluman yang menghuni aliran sungai Cimanuk.

Jaka Bajul –jelmaan buaya yang menikahi gadis dari Jati Sawit– hanyalah salah seorang prajurit dari Kerajaan Manuk Rawa. Bahkan dalam ceritanya, Kakek Abuk pernah dibawa lelaki sungai itu melayari  Cimanuk.

Ia naik ke atas punggung buaya seperti patung di Venesia Italia, Saint Theodore of Amasea, menginjak seekor buaya. Diajaknya ia menyusuri sungai Cimanuk –sungai yang hulunya di gunung Papandayan dan berhilir di Laut Jawa.  Bagian yang sulit dimengerti, tahu-tahu memasuki sebuah gerbang yang mirip benteng. Pulomas, jelasnya.

Istananya lebih indah dari Neuschanstein Castle pada musim salju. Kerajaan Manuk Rawa yang bergemerlapan emas dilarungkan dalam sungai Cimanuk yang bening diterangi cahaya bulan purnama.

Prajurit dan pengawal menyambut. Mereka, kata Kakek Abuk, adalah buaya-buaya jelmaan. Salah satu dari buaya itu menyebut lelaki yang bersama Kakek Abuk dengan panggilan Raden Werdinata –pemilik pusaka kopyahwaring, senjata berupa tameng yang mampu mengungguli pusaka Arya Wiralodra, Cakra Udaksana.

Dari pertarungan –Arya Wiralodra dan Raden Werdinata sempat mengadu kesaktian saat ia membuka hutan di bantaran Cimanuk yang dianggap mengusik penghuni istana Pulomas– itulah kemudian terjalin persahabatan antara pendiri Indramayu dengan Raden Werdinata.

Keduanya sepakat untuk tidak saling mengganggu dan saling bekerja sama membangun peradaban dan kebudayaan Cimanuk.

Ah, aku membayangkan, betapa kejadian luar biasa yang pernah dialami Kakek Abuk adalah keajaiban setingkat di bawah mukjizat. Dan kisah mitologi yang ia ceritakan begitu membekas serta mempengaruhi alam pikiranku.

Lantas terbesit dalam pikiranku sebuah pertanyaan. Apakah buaya yang kulihat mengapung di sungai Cimanuk adalah lelaki sungai yang dulu pernah diceritakan Kakek Abuk?

***

DI RUMAHNYA yang hanya belasan meter dari bantaran Cimanuk, Kakek Abuk memelihara anak-anak buaya. Ia begitu menyayangi layaknya anak-anaknya sendiri. Tak ada yang tahu darimana ia mendapatkannya.

Namun padamu, Kakek abuk bercerita jika anak-anak buaya berukuran ± 20 cm itu didapatkan dari lelaki sungai itu. Katanya, ia adalah anak-anak penghuni Pulomas yang dititipkan untuk dijaga.

Anak-anak buaya itu tidak ditempatkan pada kolam atau sumur pada umumnya orang memelihara –reptil bertubuh mirip cicak yang hidup di air. Ia di tempatkan tinggal di dalam kamar pada sebuah ranjang besi dengan kasur kapuk dari pohon randu.

Makanannya pun hanya air susu sapi sebagaimana bayi manusia. Sesekali diajaknya anak-anak buaya itu bermain air di tepian sungai Cimanuk sebelum benar-benar dikembalikan pada lelaki sungai itu.

Jika dianggap sudah memiliki kemampuan untuk hidup di alam bebas, anak-anak buaya itu dilepas dengan ritus sungai yang akan dihadiri lelaki sungai dan penghuni Pulomas. Ritus itu berupa ritual membawa anak-anak buaya ke tengah sungai Cimanuk lalu dengan pembacaan kiser pesisiran diserahkan kepada lelaki sungai yang sudah berwujud buaya.

Kata Nenek, suaminya itu penganut kepercayaan pada sungai, entah apa namanya. Namun saban sungai meluap atau mengering, ritus sungai akan dilakukannya.

Lihat juga...