Libur Nataru, Berkah Pedagang Durian di Jalinsum Lamsel

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Arus libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 (Nataru), dari sejumlah kota di Sumatera menuju ke pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) mulai terlihat. Libur nataru kali ini, bertepatan dengan puncak panen buah durian. Oleh karenanya liburan kali ini, menjadi berkah bagi sejumlah pedagang buah durian dadakan, yang ada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Kendi, salah satu pedagang buah asal Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, mengaku, sudah berjualan durian sejak sepekan terakhir. Menjual durian dilakukan, saat musim buah durian datang, seperti di akhir tahun ini. Durian mulai berbunga pada September hingga Oktober, dan  mulai matang di Desember hingga Januari. Kendi mencoba peruntungan dengan mencari durian bersama kerabatnya Hamdan. Mereka mencari durian di pemilik kebun secara langsung.

Buah durian keong asal Desa Kelaten Kecamatan Penengahan yang banyak dijual di sepanjang Jalinsum – Foto Henk Widi

Durian yang dijual merupakan buah masak jatuh. Dia tidak menjual buah hasil peraman, yang dimatangkan dengan menggunakan karbit. Durian dibeli langsung dari petani, dengan pemesanan buah durian yang jatuh. Aroma wangi dan buah yang manis durian jenis keong, kerap banyak diperoleh dari kebun warga di Desa Kelaten, Banjarmasin, Way Kalam. “Buah durian dikumpulkan dari petani, dipajang digantung di lapak, agar pembeli bisa melihat langsung,” terang Kendi, Kamis (20/12/2018).

Harga durian jenis keong ukuran kecil, dijual Rp35.000, ukuran sedang Rp45.000 dan ukuran besar Rp55.000. Dari berjualan durian, Kendi mengaku mendapatkan keuntungan Rp5.000 hingga Rp15.000 perbuah. Harga tersebut belum harga pasti dan masih bisa ditawar. Dengan harga yang diberikan, Kendi, berani menjaminan durian yang dibeli darinya merupakan buah durian jatuhan. “Buah durian jatuhan sebagian memiliki ciri khas retak pada bagian kulit bisa dicicipi rasa daging buahnya, kalau cocok pembeli bisa membelinya,” beber Kendi.

Peruntungan menjual durian juga dilakukan, Samsudin, warga Desa Pasuruan. Pemilik sejumlah pohon durian tersebut mengatakan, musim buah kali ini terjadi dalam keadaan mucuk. Pematangan durian terjadi bersamaan dengan munculnya daun muda. Hal itu disebutnya, membuat produksi buah menurun. Selain produksi yang menurun, menurutnya, rasa buah durian pada musim tahun ini, tingkat rasa manisnya berkurang. Sebagian buah saat proses pematangan, banyak yang rontok sebelum matang sempurna. “Sebagai antisipasi saya gunakan tali untuk mengikat buah yang tua, agar saat waktunya jatuh hanya tergantung dan tidak langsung ke tanah,” beber Samsudin.

Penjaga kebun buah durian, Maman, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang menyebut, pada musim tahun ini, dari 100 batang pohon durian, hanya 60 yang berbuah. Sebagian pohon durian jenis keong dan montong, tidak berbuah karena memasuki masa tidak produktif. Karena kondisi tersebut, petani banyak yang menjual dengan sistem borong. “Sistem borongan dilakukan, dengan membeli satu bulan sebelum panen, dengan harga sesuai kesepakatan,” beber Maman.

Pemborong menawar untuk 60 pohon durian berkisar Rp5juta hingga Rp8juta. Buah yang tidak lebat dibandingkan musim sebelumnya, membuat pemborong menawar dengan harga rendah. Rasa buah durian yang tidak terlalu manis, menjadi faktor murahnya harga di tingkat petani. Durian tersebut, selanjutnya dijual kembali dengan sistem eceran di sepanjang Jalinsum.

Lihat juga...