Longsor Robohkan Jembatan di Bener Meriah

Ilustrasi - Dok CDN

BANDA ACEH – Bencana tanah longsor terjadi di wilayah dataran tinggi Aceh. Bencana tersebut, merobohkan satu jembatan, yang menghubungkan jalan lintas nasional Kabupaten Bireuen-Aceh tengah. Jembatan tersebut, tepatnya berada di Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Teuku Ahmad Dadek, mengatakan, peristiwa longsor tersebut, telah mengakibatkan bahu di ruas jalan Bireuen-Aceh Tengah sepanjang 30 meter amblas. “Akibat hujan lebat secara terus menerus dalam sepekan terakhir, sehingga pergerakan tanah menjadi labil, menyebabkan tanah longsor, dan meningkatnya debit air sungai setempat, sehingga terjadi banjir bandang pada Rabu (19/12/2018),” ungkapnya.

Menurutnya, bahu jalan lintas nasional yang amblas, sepanjang 200 meter, berada tidak jauh dari lokasi robohnya jembatan di Jamur Ujung. Hal itu membuat akses ke Bireuen atau Takengon terganggu. Masyarakat harus melewati jalan alternatif. Masih di desa yang sama, peristiwa tanah longsor juga telah menyebabkan dua unit rumah amblas. Sehingga ada dua Kepala Keluarga (KK) yang menjadi korban. Sedangkan di Dusun Darus, Desa Nosar, Kecamatan Permata, Bener Meriah, dilaporkan satu unit rumah terendam banjir bandang.

Banjir bandang membawa material kayu dan lumpur, menutupi badan jalan, yang merupakan akses dari Bener Meriah-Lhoksemawe, Aceh. Tepatnya di eks PT Kertas Kraft Aceh (Persero). “Kami melalui BPBD Bener Meriah telah membantu korban terdampak banjir, seperti melakukan pembersihan, evakuasi, dan memberikan pertolongan kepada rumah warga yang tertimpa tanah longsor,” tutur Dadek.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional I Banda Aceh, Achmad Subki, telah melaporkan kondisi jembatan yang tidak bisa dilintasi kendaraan bermotor, kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Jakarta. “Jembatan Jamur Ujung amblas, dan terputus tidak bisa dilewati di KM 296+600 pada penghubung lintas Bireuen-Takengon, Aceh Tengah, akibat abutment di sisi jembatan runtuh yang disebabkan terjangan air bah,” katanya.

Jembatan di Desa Jamur Ujung tersebut, dibangun pemerintah pusat pada 1967. Memiliki bentangan 32 meter, lebar enam meter, dan abutment dari pasangan batu. “Saat ini tengah diupayakan mendapatkan pinjaman jembatan bailey 30 meter dari Dinas Pekerjaan Umum Aceh, dan menelusuri jalur-jalur alternatif. Telah dilakukan pengamanan, dan pemasangan rambu-rambu,” pungkas Achmad. (Ant)

Lihat juga...