Mahasiswa FT UB Manfaatkan Air Buangan Sebagai Sumber Listrik

Editor: Koko Triarko

MALANG – Tiga mahasiswa jurusan teknik elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), kembali menghadirkan inovasi Wasted Hydropower (WAPO), yang diklaim mampu menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan air buangan.

Mereka adalah Muhammad Syukri, Abdul Jalil, Ariq Kusuma Wardana dan Muhammad Muchlis Triwahyudi.

Ketua tim, Muhammad Syukri, menjelaskan, pada gedung bertingkat biasanya sisa air buangan hanya dialirkan begitu saja ke saluran pembuangan akhir tanpa dimanfaatkan.

“Dari situ, kami mempunyai ide untuk memanfaatkan air buangan tersebut, untuk menghasilkan energi listrik dengan menggunakan WAPO. Dengan alat ini, kami mengkonversi energi potensial yang ada di air buangan untuk menjadi energi listrik, dengan menambahkan atau memberi sebuah kincir pada pipa saluran pembuangan,” jelasnya, Kamis (13/12/2018).

Ia menjelaskan, dari kincir tersebut energi potensial dari air buangan akan dikonversi menjadi energi mekanik berupa putaran. Selanjutnya putaran tersebut akan memutar generator DC, untuk menghasilkan tegangan atau daya listrik yang bisa langsung disimpan ke media penyimpanan berupa aki atau baterai.

“Daya listrik yang dihasilkan, kami menganalisisnya menggunakan gedung yang ada di Jakarta, yang memiliki tujuh lantai dengan ketinggian 24 meter. Gedung tersebut setiap hari menghasilkan air buangan sebesar 0,0012 meter kubik per detik,” sebutnya.

Dari ketinggian dan debit, katanyak, bisa mendapatkan daya output dengan persamaan massa jenis air dikalikan percepatan gravitasi dikalikan debit airnya dan ketinggiannya, sehingga didapatkan daya sebesar 281,4 watt untuk satu alat WAPO.

Hanya saja menurutnya, daya yang dihasilkan tersebut masih menggunakan asumsi, jika efisiensinya 100 persen. Namun bila efisiensinya lebih kacil dari 100 persen, maka dayanya tinggal dikalikan dengan efisiensi tersebut.

“Jadi, daya listrik yang bisa dihasilkan WAPO, jika angka efisiensi mencapai 100 persen adalah sebesar 281,4 watt. Daya tersebut bisa digunakan untuk beberapa ruangan yang ada di gedung,” ungkapnya.

Disampaikan Syukri, untuk membuat prototype WAPO, cukup mudah dan hanya membutuhkan biaya yang sangat murah. “Hanya dibutuhkan waktu dua hari untuk merancang WAPO, dengan biaya pembuatan kurang lebih 100 ribu rupiah,” pungkasnya.

Sementara itu, berkat inovasi ramah lingkungannya tersebut, mereka bertiga berhasil menjuarai lomba Gagasan dan Rancangan Kreatif (LoGrak) 2018 bertema ‘Internet of Thing (IoT) dan Renewable Energy Technolgy’.

Lihat juga...