Mahmoud Abbas -Paus Fransiskus, Bahas Timur Tengan di Vatikan

158
Timur Tengah - Istimewa

MADRID – Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan Paus Fransiskus, melakukan pertemuan untuk membahas masalah Timur Tengah, di Vatikan.

Dalam pertemuan yang digelar di Istana Apostolik tersebut, Abbas dan Paus, saling menyampaikan harapan, adanya perdamaian pada Natal tahun ini. Paus juga menyampaikan harapannya kepada presiden Palestina, adanya perdamaian di Timur Tengah. Selama pertemuan, kedua belah pihak saling memberikan hadiah dan kenang-kenangan.

“AS tak bisa menjadi satu-satunya penengah di Timur Tengah. Satu negara yang terus-menerus menjatuhkan sanksi hukuman atas rakyat Palestina tak bisa menjadi penengah. Pemimpin AS adalah penghalang di Timur Tengah,” kata Abbas dalam kesempatan bertemu media usai pertemuan dengan Paus Fransiskus.

Abbas tegas menyebut, pihaknya tidak ingin bekerjasama dengan pemerintah AS, di bawah kendali Donald Trump. “Kami takkan setuju dengan keadaan yang melanggar hukum internasional,” tegasnya.

Tahun lalu, Presiden AS, Donald Trump, menyulut kemarahan internasional, dengan mengumumkan rencananya untuk memindahkan Kedutaan Besar Washington di Israel ke Jerusalem. Upaya tersebut diikuti dengan pengakuan kota itu sebagai ibu kota Israel. Sejak tindakan tersebut, pada Mei tahun ini, pemimpin Palestina di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan, telah menolak setiap perang penengahan oleh AS, dalam proses perdamaian Timur tengah, yang hampir mati.

Hukum internasional tetap memandang, Jerusalem Timur, bersama dengan seluruh Tepi Barat Sungai Jordan, sebagai wilayah yang diduduki, dan menganggap semua permukiman Yahudi di sana tidak sah. Pada Jumat (30/11/2018), duta besar Liga Arab untuk Uni Afrika menyerukan, dilancarkannya upaya internasional, guna menghidupkan kembali penyelesaian dua-negara antara Palestina dan israel. “Masyarakat internasional memiliki tanggung-jawab untuk mencegah penyelesaian dua-negara ambruk,” kata Sahboun Meloud, saat memberi sambutan kepada ratusan diplomat dan pejabat Uni Afrika dan PBB.

Pernyataan tersebut, disampaikan dalam peringatan Hari Internasional, bagi Solidaritas untuk Rakyat Palestina, yang diperingati berdasarkan resolusi PBB. “Kami menolak pengakuan AS mengenai Jerusalem sebagai ibu kota Israel,” kata Meloud, yang menggambarkan keputusan AS tersebut sebagai keputusan yang tidak bisa diterima baik.

Meloud mengatakan keputusan AS dan pemindahan kedutaan besarnya ke Jerusalem menghancurkan hak bangsa Arab. “Itu juga menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen AS bagi perdamaian di dunia,” katanya.

Duta Besar palestina untuk Ethiopia, Nasri Abujaish, yang berbicara dalam forum tersebut mengatakan, meskipun sejumlah resolusi dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB, tak satupun yang telah dipatuhi dan dilaksanakan oleh Israel. Sementara itu Kwesi Quartey, Wakil Ketua Komisi Uni Afrika, menyampaikan, komitmen badan pan-Afrika tersebut, untuk memeliharakan masalah Palestina, dengan dasar keabsahan dan hukum internasional. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...