Malut Dapat Investor Kopra dari Jawa

193
Petani kopra menjemur kelapa yang sudah dikupas untuk pembuatan kopra bahan baku minyak goreng - Foto: Dok. CDN
TERNATE – Pemprov Maluku Utara berhasil mendapatkan investor yang akan membeli kopra petani dengan harga lebih tinggi, sebagai jawaban atas keluhan petani kelapa di Maluku Utara (Malut) yang harganya anjlok.
“Investor dari Jawa itu akan membeli kopra petani seharga Rp5.000 per kilogram, atau lebih tinggi dari harga pembelian para pengusaha pengumpul kopra di Malut, yang paling tinggi Rp4.000,” kata Sekretaris Pemprov Malut, Muabdin H Radjab, di Ternate, Sabtu (1/12/2018).
Walaupun harga kopra Rp5.000/Kg itu masih di bawah harga yang diharapkan petani, yakni di atas Rp7.000/Kg, dinilai sudah cukup menolong petani, karena selain bisa menutupi biaya produksi kopra, juga ada sisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut dia, investor tersebut akan membeli langsung kopra kepada petani, kalau membeli melalui pedagang pengumpul dikhawatirkan pedangang pengumpul akan mengambil untung, sehingga harga di tingkat petani kurang dari Rp5.000/Kg.
Para petani kelapa di Malut selama ini mendapatkan harga kopra jauh lebih rendah, jika dibandingkan dengan harga di tingkat pengusaha antarpulau, apalagi di daerah tujuan antarpulau kopra Malut, seperti Sulawesi Utara dan Jawa Timur, karena pedagang pengumpul mengambil untung terlalu besar.
Investor tersebut, kata Muabdin H Radjab, selain membeli kopra petani, juga akan membantu petani mengolah kopra dan produk lainnya dari kelapa menjadi produk yang memiliki nilai tambah, kopra misalnya menjadi minyak goreng.
“Kalau petani di Malut bisa melakukan hal seperti itu, maka mereka akan mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi, selain itu walaupun harga kopra anjlok, tetap memiliki sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhannya,” katanya.
Ia menambahkan, Pemprov Malut akan terus melakukan terobosan untuk menolong petani kelapa dari anjloknya harga kopra, mengingat sebagian besar petani di Malut adalah petani kelapa, di samping petani pala dan cengkih.
Areal perkebunan kelapa di Malut mencapai 260.000 hektare lebih, yang semuanya merupakan perkebunan rakyat atau terluas keempat di Indonesia setelah Riau, Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...