Manisnya Dodol Naga Asal Banyuwangi

Editor: Satmoko Budi Santoso

BANYUWANGI – Siapa yang tidak kenal dengan buah naga? Boleh jadi hampir semua dari kita pernah atau bahkan menyukai buah ini.

Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu daerah penghasil buah di Indonesia. Terdapat banyak petani yang membudidayakan jenis tumbuhan kaktus ini. Salah satunya di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pesanggrahan.

Potensi buah naga dimanfaatkan oleh  warga untuk berinovasi membuat bahan olahan menjadi produk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memiliki harga kompetitif.

Hal tersebut dilakukan oleh sebuah Kelompok Paguyuban UMKM di Banyuwangi. Kelompok tersebut merupakan binaan  PT Bumi Suksesindo (BSI). Sudah beraneka ragam produk olahan berhasil diciptakan. Misalnya menjadi dodol dan suwar suwir.

Ketua Paguyuban UMKM Center Banyuwangi Selatan, Agustin, menjelaskan, buah naga didapat dari warga setempat yang memang menjadi petani dadakan. Bahan olahan yang dibuat salah satunya adalah dodol buah naga.

Ketua Paguyuban UMKM Center Banyuwangi Selatan, Agustin.-Foto: Sultan Anshori.

“Karena potensi yang ada sebagai penghasil buah naga. Termasuk di desa kami adalah buah naga. Hampir dari seluruh penduduk menanam pohon buah naga. Baik di lahan pertanian maupun di pekarangan rumah masing-masing. Potensi inilah yang coba dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan terobosan baru di bidang pertanian. Terutama di saat harga buah naga di pasaran turun,” ucap Agustin, saat ditemui, Minggu (23/12/2018) pagi.

Agustin mengatakan, bahan dasar pembuatan dodol buah naga terbilang cukup sederhana. Bahan-bahan yang digunakan seperti buah naga sebagai bahan utama, kemudian gula putih, tepung ketan dan santan.

Cara membuatnya pun juga terbilang cukup mudah. Daging buah naga dihaluskan. Kemudian dicampur dengan tepung ketan dan gula pasir. Saat proses pemanasan dilakukan, barulah santan kelapa dicampurkan.

Setidaknya, dibutuhkan selama empat jam proses pembuatan. Dari segi rasa, kata Agustin, tidak kalah dengan dodol lainnya. Rasa manis dengan rasa buah naga tentu sangat terasa. Uniknya, saat dodol digigit akan terasa seperti ada yang meledak kecil di lidah. Karena biji buah naga yang masih ikut. Meski produksinya tidak banyak, namun kelompok ini secara konsisten menghasilkan produk olahan dodol dan suwar suwir buah naga.

“Produk yang kami buat ini alhamdulillah sudah menjadi ikon di desa kami. Banyak dari warga yang benar-benar merasakan dampak,” imbuhnya.

Untuk harga jual dodol olahan buah naga terbilang cukup ekonomis. Kemasan 1/4 kg dijual dengan harga Rp15 ribu dan 1/2 kg Rp30 ribu. Sementara untuk penjualan masih melayani pesanan partai kecil.

“Ada juga pesanan dari luar daerah seperti Surabaya, Bali, dan Jakarta. Bahkan tak jarang juga mendapat order dari para TKI asal Banyuwangi yang bekerja di luar negeri seperti Hongkong, Singapura dan Arab Saudi,” tegas ibu dengan dua anak ini.

Lihat juga...