Masa Paceklik, Nelayan Cakalang Kupang Terpaksa Beralih Profesi

Ilustrasi - Nelayan - Dok: CDN

KUPANG — Nelayan tangkap cakalang di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mulai memarkirkan kapalnya karena memasuki masa paceklik akibat cuaca buruk di perairan.

“Sekarang kami mulai menghadapi masa paceklik yang berlangsung hingga tiga sampai empat bulan ke depan,” kata Muhamad Nasir di Kupang, Senin (17/12/2018).

Nahkoda sekaligus pemilik kapal nelayan pole and lain KM Nurul Hikmah ini mengatakan, jumlah kapal cakalang yang berbasis di Kota Kupang sekitar 14 kapal yang saat ini terpaksa parkir akibat cuaca buruk.

Nelayan tangkap ikan cakalang yang berbasis di TPI Tenau, Kupang ini juga menyebutkan, kapal-kapal bagan yang melaut di perairan dekat dan menjadi pemasok ikan-ikan hidup untuk umpan bagi kapal cakalang juga berhenti melaut.

“Sekarang pasokan umpan juga lagi kosong karena kapal bagan banyak yang parkir di Sulamu,” katanya .

Menurut Nasir, kondisi cuaca buruk seperti ini sangat menyulitkan perekonomian nelayan setempat.

Ditambahkan pada saat masa panen ikan, kapal-kapal cakalang bahkan bisa meraup keuntungan lebih dari Rp50 juta sekali melaut dengan hasil tangkapan di atas lima ton.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) NTT Wham Nurdin mengatakan masa paceklik selalu menjadi masa yang sulit bagi perekonomian masyarakat nelayan setempat.

Di saat paceklik, lanjutnya, nelayan hanya bisa mencari pekerjaan serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Nelayan terpaksa mencari pekerjaan dadakan, jadi sopir, kondektur, buruh, kuli bangunan, tukang, dan lainnya untuk bertahan hidup,” katanya.

Ia mengatakan, dalam banyak kesempatan pihaknya juga mendorong nelayan agar mau menciptakan usaha lain sebagai sumber pendapatan seperti usaha budidaya perikanan.

“Namun tergantung kemauan nelayan sendiri, di sisi lain juga perlu dukungan modal usaha yang cukup,” katanya. [Ant]

Lihat juga...