Masjid Pangeran Diponegoro TMII, Wujud Penghargaan Ibu Tien untuk Pahlawan Nasional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

195

JAKARTA — Masjid Pangeran Diponegoro, sebuah tempat beribadah bagi umat Islam ini berdiri megah di depan sebelah kanan gedung Sasana Kriya dan berdampingan dengan gereja Santa Chatarina. Masjid ini menempati deretan pertama rumah ibadah di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menandakan sebagai simbol kerukunan umat beragama di Indonesia.

TMII
Anggota Dewan Masjid Pangeran Diponegoro, Agus Hermawan. Foto : Sri Sugiarti

“Kami sangat bangga pada Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, yang menyatukan keragaman budaya dan kerukunan umat beragama dalam hamparan miniatur Indonesia. Masjid Pangeran Diponegoro, dibangun berdampingan dengan rumah ibadah lainnya,” kata Anggota Dewan Masjid Pangeran Diponegoro TMII, Agus Hermawan kepada Cendana News, Jumat (7/12/2018).

Arsitektur masjid ini, jelas dia, diambil dari perpaduan bangunan masjid Al Azhar Jakarta dan masjid Syuhada, Yogyakarta.

Bangunan masjid ini tidak memiliki hiasan dekoratif. Atapnya berbentuk kubah atau doom menyerupai gaya Bizantium yang dipengaruhi struktur ruangan Pantheon khas Yunani Kuno. Ini mengandung makna, bahwa kehidupan manusia merupakan bagian kecil dari struktur alam semesta dan bernaung dibawah kuasa sang Pencipta Allah SWT.

Pembangunan masjid di atas lahan 2.850 meter persegi dengan luas bangunan 760 meter persegi ini dilaksanakan pada 1973 dan diresmikan oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 1975.

“Masjid Pangeran Diponegoro dibangun berkat gagasan Ibu Tien dan diresmikan oleh Pak Harto. Saat meresmikan masjid ini, Pak Harto dan Ibu Tien, shalat berjamaah bersama kami pengurus masjid,” ujar Agus.

Pangeran Diponegoro dipilih untuk nama masjid, menurutnya, karena pertimbangan untuk mengabdikan nama seorang tokoh pahlawan nasional. Tokoh ini pun adalah pemimpin agama Islam yang bersama masyarakat Yogyakarta sangat gigih melawan penjajah Belanda.

“Masjid ini dibangun Ibu Tien, tujuannya untuk mengenang jasa pahlawan Pangeran Diponegoro yang dengan gigih menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan bersama masyarakat Yogyakarta melawan penjajah VOC atau Belanda,” tandasnya.

Masjid Pangeran Diponegoro ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk para jamaah menunaikan shalat. Tempat wudhu, kamar mandi, ruang tunggu, gudang, dapur, dan toko souvenir kaligrafi dan kelengkapan ibadah tersaji di lantai satu masjid ini.

Sedangkan lantai dua, jelas dia, yaitu tempat imam, khatib, dan mihrap. Serta menara berbentuk kubah ketinggian 26 meter untuk mengumandangkan adzan.

Masjid Pangeran Diponegoro dapat dipergunakan pengunjung dan masyarakat sekitarnya, juga karyawan TMII untuk menunaikan salat dan kegiatan lainnya, seperti perayaan hari besar keagamaan, ceramah, kajian agama dan belajar Al Qur’an.

“Setiap Selasa malam Rabu, ada pengajian Asmanul Husna, pesertanya karyawan TMII dan masyarakat sekitarnya,” ujar Agus.

Namun, sebut dia, untuk hari-hari besar, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, pelaksanaan dilakukan di Plaza Tugu Api Pancasila.

“Salat taraweh sebulan penuh dengan menghadirkan penceramah keagamaan. Yang bertujuan untuk menambah pengetahuan ilmu agama. Takjil gratis pun tersaji untuk buka puasa serta  santunan untuk kaum dhuafa,” ujarnya.

Selain kegiatan rutin keagamaan, menurutnya, Masjid Pangeran Diponogoro dapat digunakan untuk akad nikah, yang dilanjutkan dengan syukuran. Baik secara sederhana maupun meriah dengan menambahkan tenda di halaman masjid.

Masjid Pangeran Diponegoro ini merupakan tempat wisata religi yang ramai dengan wisatawan. Mereka menunaikan salat berjamaah dan bahkan mengikuti kajian agama.

Dengan pesona kemegahan, masjid ini memberikan sensasi pengetahuan agama bagi jamaahnya. Sehingga pengunjung yang wisata ke TMII, serasa tak nyaman jika tidak menunaikan salat di masjid ini.

“Pak Harto dan Ibu Tien, saat meresmikan gedung baru di TMII. Beliau selalu mampir ke Masjid Pangeran Diponegoro untuk menunaikan salat berjamaah bersama kami dan pengunjung TMII. Saya bangga bisa salat jamaah dengan Pak Harto,” ujar Agus mengenang.

Agus pun teringat akan pesan Ibu Tien, saat meresmikan Masjid Pangeran Diponegoro. Ibu Tien selalu berpesan kepada pengurus masjid ini agar melestarikan dan menjaga budaya bangsa sehingga kerukunan dan persatuan tercipta.

“Ibu Tien berpesan agar kami selalu menjaga budaya bangsa. Beliau sangat ramah tidak memandang sebelah mata pada seseorang. Selalu bertanya jika ada keluhan sampaikan saja katanya, kami merasa sangat dihargai,” ucap Agus, terlihat matanya berbinar.

Dalam doa, Agus memohon kepada Allah SWT, agar almarhum Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto diampuni dosa-dosanya serta ditempatkan di surga.

Terkhusus untuk TMII, ia berharap kedepannya lebih maju dan sukses dengan program inovasi pelestarian dan pengembangan khazanah budaya bangsa.

Baca Juga
Lihat juga...