Megibung, Merajut Kebersamaan di Tengah Masyarakat

Editor: Satmoko Budi Santoso

243

GIANYAR – Makan secara bersama-sama atau megibung merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama dalam kultur masyarakat Bali. Biasanya, kegiatan megibung ini dilakukan dalam suasana tertentu, misalnya hajatan desa adat dan kepentingan umum lainnya.

Cara inilah yang juga dilakukan oleh jajaran pemerintah Kabupaten Gianyar untuk menyambut tahun baru 2019 sekaligus wujud syukur atas suksesnya pelaksanaan Pilkada di Gianyar yang berlangsung aman dan damai.

“Kami datang untuk berbaur dan megibung dengan masyarakat sekaligus menyambut tahun baru 2019,” ujar Bupati Mahayastra, saat ditemui di lokasi acara makan bareng atau megibung dengan masyarakat Desa Adat Tojan, Blahbatuh, Gianyar, Sabtu (29/12/2018).

Megibung bagi Bupati Mahayastra adalah tradisi yang patut dilestarikan karena mengandung unsur kebersamaan. Selain itu, kegiatan ini bisa menjadi sarana edukasi kepada para pemuda untuk jangan sungkan makan makanan sederhana.

“Jadi saya melihat ini penting untuk melestarikan budaya leluhur kita,” kata Mahayastra.

Sementara, Bendesa Pakraman Tojan, Anak Agung Ngurah Gede Udayadnya, mengatakan, megibung sudah menjadi tradisi turun temurun di Desa Pakraman Tojan.

“Megibung kami lakukan saat ada upacara adat dan yadnya di desa adat kami,” terang Anak Agung Udayadnya.

Dalam kesempatan itu, Anak Agung Udayadnya juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Gianyar beserta jajarannya yang telah meluangkan waktu untuk megibung bersama warga Tojan. Ini menunjukkan seorang pemimpin merakyat berbaur bersama warga duduk beralaskan tikar, makan bersama tanpa ada sekat pemisah.

“Ini merupakan wujud kebersamaan warga kami,” ungkap Anak Agung Udayadnya.

Untuk menampung ratusan warga, tempat megibung dilaksanakan di tempat terbuka, di areal Jaba Pura Dalem beralaskan tikar.

Baca Juga
Lihat juga...