Mekarsari Siap Luncurkan Nanas Tanpa Mahkota

Editor: Satmoko Budi Santoso

618

BOGOR – Mempertimbangkan sisi pengemasan dan kemudahan para penyuka nanas untuk memegang, tim R&D Taman Buah Mekarsari, memulai penelitian untuk menciptakan nanas tanpa mahkota.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener, Junaedi, menyatakan bahwa ketiadaan mahkota pada nanas tidak akan mempengaruhi rasa dari nanas tersebut.

“Kita harapkan, dengan tidak adanya mahkota ini, pengemasan nanas akan lebih mudah. Sehingga dalam satu tempat akan mampu menampung lebih banyak nanas. Kan jadinya lebih menguntungkan,” kata Junaedi pada Cendana News, Sabtu (29/12/2018).

Selain itu, dengan tidak adanya mahkota, juga akan memudahkan orang untuk memegang buah nanas.

“Pengaruh mahkota pada kualitas nanas itu tidak ada. Rasa manis dan ukuran nanas itu bisa dilihat dari daun yang ada pada batang nanas. Jika daunnya tidak kusam, warnanya hijau keabu-abuan dan tidak kering. Artinya suplai makanan pada buah itu bagus. Tentu dilihat dari jenis nanas itu sendiri,” lanjut pria yang akrab dipanggil Jun ini.

Junaedi menjelaskan bahwa mahkota nanas memang dapat digunakan untuk proses pengembangbiakan, tapi hanya dapat menghasilkan satu tumbuhan nanas dari satu mahkota.

Mahkota nanas yang sudah memiliki akar serabut dan siap untuk ditanam di tanah – Foto Ranny Supusepa

“Mahkota nanas ini bisa kita tusuk dengan lidi lalu kita taruh di atas air. Nanti akan tumbuh akarnya yang berbentuk serabut. Kalau sudah muncul akarnya, tinggal ditancapkan di tanah, nanti akan tumbuh dalam waktu 1-2 minggu,” urai Jun.

Cara pengembangbiakan lainnya adalah dengan menggunakan anakan.

“Saat tumbuhan nanas memasuki masa matang, dari ketiak daun biasanya akan muncul anakan. Dari satu tanaman nanas bisa memunculkan beberapa anakan,” papar Junaedi seraya menunjukkan nanas arniss yang memiliki 2 anakan yang sudah tumbuh besar.

Penelitian terkait nanas tanpa mahkota ini menurut Junaedi sudah memakan waktu sekitar 4 tahun. Proses penelitian yang lama ini menurut Junaedi disebabkan karena nanas memiliki masa tumbuh kembang yang memakan waktu 9-12 bulan.

“Setelah kita silangkan, baru ketahuan hasilnya dalam waktu setahun. Kalau memang masih ada yang kurang, ya kita silangkan kembali. Jadi memang butuh waktu lama,” ujar Jun.

Dari hasil penelitian ini, Junaedi menyebutkan, baru tahun depan akan mulai disosialisasikan.

“Tahun 2019 nanti kita akan mulai sebarkan di  media sosial milik Mekarsari,” ujarnya.

Nanas merupakan tanaman yang hanya sekali berbuah. Artinya, jika sudah berbuah, maka tanaman nanas akan mati.

“Jika sudah mendapatkan bibit yang sesuai, maka kita akan melakukan teknik kultur jaringan untuk memperbanyak tanaman nanas. Kenapa kultur jaringan? Karena dengan sistem ini, maka bisa didapatkan ribuan bibit nanas dengan kualitas dan ukuran yang sama. Bahkan bisa dipanen pada saat yang juga bersamaan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...