Memprihatinkan, Sejumlah Sungai di Purwokerto, Tercemar

Editor: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Edy Wahono, menyatakan rasa keprihatinan karena sebagian besar sungai di Kota Purwokerto sudah tercemar. Dari lima sungai yang melintas di Kota Purwokerto, empat di antaranya sudah tercemar limbah rumah tangga.

Edy merinci, ada lima sungai yang melintas di wilayah perkotaan, yaitu Sungai Deng, Sungai Bener, Sungai Pengarengan, Sungai Kranji dan Sungai Banjaran. Dari lima sungai tersebut, yang kondisinya masih tergolong sehat hanya Sungai Kranji.

Meskipun sebenarnya sungai yang membelah pusat kota ini juga sudah tercemar limbah rumah tangga, tetapi masih di bawah ambang batas pencemaran.

ʺ Di wilayah perkotaan, semua sungai sudah tercemari limbah rumah tangga. Karena itu yang mendesak dilakukan adalah membangun kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap sungai. Serta melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air. Kalau dinas terkait hanya sebagai fasilitator dan motivatior saja. Sebab ujung tombaknya adalah masyarakat terutama di sekitar sungai,ʺ terangnya.

Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Edy Wahono – Foto: Hermiana Effendi

Ruang untuk mengedukasi masyarakat pinggir sungai di Kabupaten Banyumas sudah banyak. Yaitu dengan dibentuknya lembaga-lembaga pecinta sungai. Seperti Masyarakat Peduli Sungai dan sebagainya. Hanya saja, kurang dilakukan pembinaan secara rutin sehingga peran lembaga-lembaga tersebut juga kurang maksimal.

Sungai Kranji adalah sungai yang melintas di jantung Kota Purwokerto. Diharapkan selalu berdaya guna bagi masyarakat. Serta bisa menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan sungai.

Menurut Edy, sungai juga bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk lahan pertanian dan kebutuhan lainnya.

ʺMasyarakat sekitar sungai juga harus diberi pemahaman tentang pengendalian daya rusak sungai. Yaitu dengan cara menyusun secara terpadu pola pengelolaan sumber daya sungai dengan menjaga keseimbangan dari hulu sampai hilir sungai,ʺ katanya.

Untuk sungai terbesar yang melintas di lima kabupaten, yaitu Sungai Serayu, lanjut Edy, saat ini kondisinya juga sudah darurat tercemar. Sebab, sungai tersebut menjadi sarana pembuangan limbah dari lima kabupaten. Padahal sungai tersebut merupakan kebanggaan warga Banyumas dan sekitarnya.

ʺSungai itu neraca kehidupan dan menjadi cermin budaya kita. Jika sungai kita bersih dan sehat, bisa dipastikan budaya hidup masyarakat sekitarnya juga bersih dan sehat. Begitu pun sebaliknya,ʺ tuturnya.

Lihat juga...