Mengenal Daerah Tabek, Kampung Terpencil Nan Kini Populer

Editor: Mahadeva

SOLOK – Kampuang nan jauh di mato. Gunuang sansai bakuliliang. Den takana jo kawan, kawan lamo. Sangkek den basuliang suliang.

Panduduaknya nan elok nan. Nan suko bagotong royong. Sakik  sanang samo samo diraso. Den takana jo kampuang.

Takana jo kampuang. Induak ayah adiak sadonyo. Raso mahimbau himbau den pulang. Den takana jo kampuang. 

Sepenggal lirik dari lagu daerah Minangkabau yang berjudul ‘Kampuang Nan Jauh Di Mato’, yang diciptakan oleh A. Minos ini, menghantarkan imajinasi seseorang ke sebuah kampung yang begitu indah. Kampung yang dikelilingi gunung-gunung, suasana yang asri, dan udara yang serasa sejuk. Rasa alam yang damai ini, sebenarnya sangat nyata, dan berada di Jorong Tabek, Kenagarian Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Keasrian alam di Jorong Tabek, bukanlah sebuah hal biasa yang dialami oleh masyarakat setempat. Dulu, Jorong Tabek dikenal dengan kawasan yang gersang dan terbelakang. Hal ini dikarenakan, Tabek merupakan salah satu jorong yang tergolong tertinggal di Sumatera Barat. Persoalan ekonomi lemah, seakan menjadi pemandangan yang biasa di daerah penghujung Kabupaten Solok ini. Sehingga berdampak kepada pola pikir masyarakat, yang membuat Jorong Tabek jadi kurang tertata.

Mewujudkan Jorong Tabek menjadi sebuah daerah yang indah dan nyaman, memiliki cerita, setelah adanya peristiwa kebarakan kampung pada bulan September 2015 lalu. Peristiwa tersebut seakan memunculkan cahaya harapan bagi kampung penghung negeri itu. Akhirnya, CST PT astra International Tbk berhasil menoleh ke Jorong Tabek, dan terciptanya Kampung Berseri Astra (KBA).

Adanya KBA ini, bentuk pengabdian PT Astra International TbK selama setengah abad di negeri ini. Sebuah perjalanan yang panjang, tentu banyak hal yang telah disaksikan oleh Astra bagi bumi Pertiwi. Berbicara tentang kondisi Indonesia, Astra mengetahui betul, bagaimana Indonesia dari waktu ke waktu. Sehingga, munculnya cita-cita dari Astra untuk Indonesia yang lebih baik.

Cita-cita yang ingin diwujudkan Astra yakni sejahtera bersama bangsa. Komitmen ini senantiasa diwujudkan dalam bentuk program tanggung jawab sosial (CSR) yang proaktif, terstruktur, dan berkesinambungan. Program CSR Astra menekankan pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program kewirausahaan.

Keinginan dari cita-cita itu, juga sejalan mendukung program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan, melalui percepatan pembangunan desa, Astra mencanangkan program Kampung Berseri Astra (KBA) menuju Desa Sejahtera. Sesuai yang disebutkan di website resmi Astra www.satu-indonesia.com. Program tersebut fokus pada peningkatan ekonomi berbasis masyarakat, dengan mengoptimalkan potensi lokal yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa, melalui pengembangan Prukades (Produk Unggulan Kawasan Pedesaan) sesuai daerahnya masing-masing.

Melalui program Kampung Berseri Astra ini, Astra mengharapkan masyarakat dan perusahaan dapat berkolaborasi untuk bersama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif. Sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra. Kini Kampung Berseri Astra telah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok.

Tentang Nagari Talang Babungo

Ketua KBA Tabek Talang Babungo Solok Kasri/Foto: M. Noli Hendra

Nagari Talang Babungo merupakan salah satu nagari/desa dari 74 nagari yang ada di Kabupaten Solok, yang terletak di Kecamatan Hiliran Gumanti dan merupakan ibu Kecamatan Hiliran Gumanti. Daerah tersebut memiliki luas wilayah 8.514 Ha, yang terdiri dari 7 Jorong, yakitu Talang Barat, Talang Timur, Tabek, Taratak Jarang, Bulakan, Silanjai, dan Jorong Taratak Dama.

Berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk dan pertimbangan pelayanan, serta peningkatan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat atas usulan dari masyarakat, serta hasil musyawarah lembaga nagari dan dengan pemerintah nagari, telah disepakati untuk pemekaran 3 jorong yaitu Jorong Taratak Jarang menjadi Jorong Taratak Jarang dan Jorong Kayu Jangguik. Jorong Bulakan menjadi Jorong Bulakan dan Jorong Padang Laweh. Jorong Taratak Dama menjadi Jorong Taratak Dama dan Jorong Pinti Kayu.

Kondisi topografi Nagari Talang Babungo, sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan terletak pada dataran tinggi terasa dingin dan sejuk, suhu tercatat antara 19 derajat celcius hingga 22 derajat celcius dengan iklim sub tropis. Ketinggian adalah 900 sampai 1200 m di atas permukaan laut dengan dataran tinggi 65 persen dan dataran rendah persen.

Jumlah penduduk di daerah ini mencapai 8.834 jiwa. Data penyebaran penduduk tidak merata, dimana penduduk tertinggi terdapat pada Jorong Talang Barat dan terendah pada Jorong Taratak Dama. Di Nagari Talang Babungo yang merupakan pusat Kecamatan Hiliran Gumanti pada saat ini kondisi jalan yang ada, baik jalan Kabupaten maupun jalan Nagari kondisinya sudah cukup baik.

Sehubungan telekomunikasi, Wali Nari Talang Babungo, Zulfatriadi, menjelaskan di Talang Babungi jaringan telekomunikasi melalui jaringan telepon seluler telah cukup baik sehingga masyarakat sudah lebih cepat mendapatkan hubungan komunikasi dari dan ke Talang Babungo begitu juga jasa Pos juga sudah cukup lancar.

Begitu juga dengan listrik, di daerah ini kebutuhan listrik dari 7 Jorong yang belum dialiri listrik PLN hanya Jorong Taratak Dama, sebagian Jorong Bulakan, sebagian Jorong Silanjai dan sebagian Jorong Tabek. Sedangkan untuk persoalan air bersih, di Nagari Talang Babungo, untuk Jorong Talang Barat telah dilayani oleh PDAM Kabupaten Solok . Begitu juga Jorong Talang Timur, Jorong Tabek, Taratak Jarang, Bulakan dan Taratak Dama, dimanfaatkan air bersih dari kegiatan Pansimas dan kondisi baik/lancar ke rumah-rumah.

Untuk Jorong Silanjai juga telah diadakan pengadaan air bersih dengan kegiatan WESLIC tapi kondisinya sudah tidak berfungsi (rusak berat) sehingga masyarakat kembali memanfaatkan air sumur maupun air mata air. Sementara untuk perekonomian masyarakat di Talang Babungo, perekonomian masyarakat di daerah yang cukup sejuk ini, terdiri dari beberapa sektor diantaranya sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan industri kerajinan.

Untuk pertanian, dari luas wilayah Nagari Talang Babungo 8514 Ha, 915 Ha diantaranya untuk pertanian. Sehingga hal ini bisa dilihat dengan hamparan sawah yang ada disekitar nagari. Dalam rangka meningkatkan hasil pertanian masyarakat maka masyarakat berdasarkan sosialisasi pemerintah Kabupaten Solok maupun Nagari, telah membentuk sebanyak kelompok tani selanjutnya juga telah diberikan bantuan pertanian teknis maupun permodalan.

Sedangkan untuk perkebunan, potensi perkebunan yang dimiliki oleh Nagari Talang Babungo adalah perkebunan tebu, kopi, kulit manis dan lainnya. Khusus untuk kebun tebu tahun 2011 lalu telah diremajakan oleh Pemda Kabupaten Solok seluas 20 Ha dan tahun 2012 35 Ha, yang hal ini sangat berdampak terhadap animo masyarakat untuk mengembangkan kebun tebu.

Melalui kerja sama Perguruan Tinggi Universitas Andalas Padang dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) ED Tabek telah dibangun satu unit penggilingan tebu. Sehingga hasilnya cukup baik bagi para petani tebu. Selanjutnya untuk peternakan, di sektor peternakan juga menjadi andalan bagi masyarakat Talang Babungo disamping pertanian. Sektor peternakan ini terdiri dari peternakan sapi dan peternakan ayam petelur dan ayam potong sehingga juga telah ada beberapa kelompok yang mengembangkan sektor peternakan ini.

Kalau berbicara industri, di Talang Babungo cukup banyak berkembangnya usaha industri, seperti Industri Gula tebu dan Gula Aren, Industri Rotan, Industri Bubuk Kopi, Industri Tembakau, Industri Tahu , Tempe, Industri karajinan Kayu, Industri Makanan Khas Nagari Talang Babungo yaitu,Kue Kareh – Kareh dan Pinyaran hitam.

Lalu untuk sektor pendidikan, sesuai dengan program pemerintah, bahwa salah satu sektor yang manjadi perhatian utama adalah sektor pendidikan, karena tingkat kemajuan dan perkembangan suatu negara sampai ke nagari ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yang mampu bersaing dan hal ini disadari oleh masyarakat akan penting Ilmu Pendidikan Umum maupun Agama.

Di Talang Babungo jika dihitung dari segi jumlah, melihat kepada Pendidikan Usia Dini TK/PAUD ada sebanyak 11 unit sekolah. Sekolah Dasar Negeri ada 9 unit. Madrasah Ibtidaiyah Swasta, Sekolah Dasar Gendongan, SMP, MTsN, SMKN masing-masingnya ada 1 unit sekolah, dan untuk SMAN ada 2 unit. Kalau melihat dar sektor kesehatan, di Talang Babungo berupaya meningkatkan kesehatan kepada masyarakat. Buktinya, setiap tahun Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Nagari serta masyarakat, selalu berusaha melengkapi di bidang kesehatan, dengan melengkapi sarana prasarana kesehatan.

Di Nagari Talang Babungi ini, terdapat 3 unit Pos Kesehatan Nagari (Poskesri) dan juga terdapat 1 unit Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) induk. Khusus Puskesmas Induk pada Tahun Anggaran 2012, berdasarkan skala prioritas terhadap pemenuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Hiliran Gumanti umumnya dan Nagari Talang Babungo pada khususnya, telah di bangun oleh masyarakat satu unit ruangan rawat inap lingkup dengan peralatan nya yang telah di resmikan secara resmi oleh Wakil Bupati Solok ketika itu pada Tanggal 26 Januari 2013.

Terakhir tentang pelestarian nilai-nilai adat, budaya dan agama. Seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolog,i sehingga telah berdampak terhadap sebagian masyarakat, khususnya generasi muda secara perlahan-lahan mulai lupa dengan nilai-nilai adat, budaya dan agama. Terkait pelestarian nilai adat ini, sesuai dengan adat salingka nagari maka Ninik Mamak telah mengeluarkan surat pada MTTS Tanggal 28 November 2011 antara lain mencakup pelaksanaan nikah kawin antara lain, pelaksanaan batagak gala. Pelaksanaan turun mandi. Adat yang diadatkan. Larangan, pantangan dalam nagari. Pendidikan, Ekonomi, pembangunan dan sosial budaya, dan beberapa hal lainnya.

Dari segala kondisi dan situasi yang ada di Nagari Talang Babungo itu, Zulfatriadi mangku hal yang demikian membuat PT Astra International Tbk memilih Talang Babungo jadi Kampung Berseri Astra, pada tahun 2016 lalu.

Adanya Kampung Berseri Astra di Talang Babungo

Ketua KBA Tabek Talang Babungo Solok Kasri menjelaskan dahulunya kondisi ekonomi di Jorong Tabek tergolong ekonomi lemah. Masyarakat yang pada umumnya bekerja sebagai petani, membuat sebagian besar penduduk di Tabek hidup dalam status ekonomi lemah.

Ia mengatakan Jorong Tabek merupakan salah satu jorong tertinggal di Sumatera Barat. Dengan kondisi yang demikian, jangankan orang lain ingin datang ke daerah tesebut, mendengarkan Jorong Tabek saja, orang lain seakan patah semangat untuk datang menikmati keasrian Tabek.

“Jadi ada pengakuan dari masyarakat asli Tabek, jikalau keluar dari daerah Tabek ini, dan apabila ada yang bertanya berasal dari mana, mereka malu mengaku berasal dari Jorong Tabek. Artinya, Tabek adalah daerah yang benar-benar tidak ada yang dibanggakan, dulunya,” katanya ketika dihubungi CendanaNews dari Padang, Rabu (26/12/2018).

Sebuah pengakuan yang begitu memilukan, seakan menjadi cambuk yang menghempas ke hati kecilnya. Kasri yang merupakan putra asli daerah setempat, yang telah mengenal pahit manisnya tinggal di Jorong Tabek, bangkit dari kondisi yang demikian. Bagaikan pahlawan yang baru pertama kali mendapatkan kekuatannya, Kasri pun terbang ke Kota Padang, untuk mencari jati dari desanya, dan menghantarkan situasi itu ke CSR PT Astra International Tbk, melalui perusahaan Astra yang berada di Padang.

Hal yang mendorongnya tetap ingin keluar dari fenomena itu, mendambakan Jorong Tabek memiliki wajah baru dan kondisi yang benar-benar tertata, meski masyarakatnya secara pendidikan, ada yang masih keterbelakangan. Caranya untuk mencapai keinginan itu, berpikir balik arah. Memperlajari Jorong Tabek dulu kalanya, sebelum disentuh oleh keramaian pendudukan, seperti yang ada saat ini.

“Soal sampah, masyarakat di sini masih belum begitu peduli dengan persoalan menjaga lingkungan. Dengan adanya KBA dari Astra, kebiasaan itu di ubah menjadi desa yang bersih, dan benar-benar tertata. Kini, Tabek dapat dijadikan sebuah desa wisata yang ada di Sumatera Barat,” jelasnya.

Empat Pilar di KBA Talang Babungo

Ada empat pilar yang menjadi acuan Jorong Tabek untuk mengubah wajah desanya, menjadi sebuah desa yang berseri. Pertama pilar pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan kewirausahaan. Di pilar pendidikan, Astra memiliki sekolah binaan setingkat Sekolah Dasar yang berbasis sekolah agama. Melalui sekolah itu, Astra turut membina generasi di Tabek menjadi generasi yang berakhlak mulia. Selain adanya SD, Astara juga membina sebuah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), melalui PAUD diharapkan anak-anak usia dini dapat lebih siap saat menjajaki pendidikan SD.

“Di sisi seni budaya kita mengangkat silet tuo. Di sini Astra membantu pakaian untuk silat. Adanya kepedulian ini, sehingga membuat budaya minang benar – benar hidup,” ucapnya.

Di pilar kesehatan, Astra lebih bergerak ke kesehatan PKK KBA Tabek. Di sini memiliki Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Astra turut membantu Posyandu Tabek berupa peralatan yang dibutuhkan disebuah Posyandu, seperti tempat tidur, timbangan, dan perlatan lainnya.

Di pilar lingkungan, dengan adanya KBA, Astra membuat Gapura atau halte yang dikenal dengan Kampung Seribu Bunga. Dengan adanya halte itu, Astra telah menciptakan suasana alam yang indah, sehingga bisa membawa masyarakat di Tabek nuansa minang dahulunya. “Jadi bila datang ke Tabek, dan singgah di halte itu, Anda akan bisa terbawa ke masa lalu kehidupan Minangkabau dulunya. Hal itupun dibantu oleh astra,” pengakuannya.

Tidak hanya itu, di pilar lingkungan Astra juga membuat taman-taman yang indah. Karena daerah Tabek memiliki banyak bunga, dengan adanya taman-taman, seakan lebih mempercantik suasana di Jorong Tabek. Selanjut juga bak sampah yang disedikan diberbagai sisi Tabek, tujuannya ialah agar sampah-sampah benar dapat dikumpulkan di dalam bak itu, dan tidak lagi bertebaran di jalan maupun di lingkungan rumah masyarakat.

“Kini dampak yang dapat dirasakan terlihatnya tren positif dari sisi lingkungan. Sampah sudah berkurang, lingkungan yang bersih dan berseri. Jadi perubahan lingkungan benar-benar 100 derajat,” tegasnya.

Seorang pekerja tengah merebus air tebu di bagian dapur hingga mengental untuk dijadikan gula merah. Kegiatan ini merupakan bagian dari pilar kewiraushaan yang diterapkan oleh Astra di Kampung Berseri Astra/Foto: M. Noli Hendra

Di pilar kewirausahaan, daerah Jorong Tabek merupakan kawasan perkebunan tebu. Astra pun membantu masyarakat untuk menggerakan ekonomi masyarakat melalui pabrik gula merah yang menggunakan bahan dari tebu setempat. Di sini, Astra membina petani tebu dengan menciptakan usaha lebih hinergis dan lebih aman dari pabrik gula yang dijalankan. “Saat ini dan penghujung tahun ini, Astra tengah membantu kita untuk menjadikan gula merah menjadi gula pasir. Selanjutnya akan ada pembinaan berupa kemasan dari gula,” jelasnya.

Kasri mengaku meski pabrik gula tebu menjadi propesk yang cuku menjanjikan, Astra tetap membinan sisi kewiraushaan lainnya, seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pihak Astra memberikan pelatihan cara untuk kegiatan ekonomi seluruh lini, yang bergerak terutama untuk kuliner.

Dikatakannya, untuk menjalan semua pilar itu di dalam sebuah KBA, dibentuklah simpatisan KBA sebanybak 400 orang. Munculnya simpatisan itu, karena adanya masyarakat yang memiliki pola pikir yang masih bersifat individual, dan hal itu lah yang menjadi tugas dari simpatisan itu yakni mengubah pola pikir masyarakat dari bersifat individual ke arah hidup secara sosial yang mau saling membantu.

“Kita dalam melakukan suatu inovasi itu, dibuatlah 11 zona berseri dari 400 simpatisan yang bekerja di lapangan. Jadi mereka masing-masing bertugas membuat suasana yang masih gersang, menjadi suasana yang benar-benar indah,” tutupnya.

Kini, Jorong Tabek menjadi sebuah desa yang layak jadi percontohan bagi desa lainnya yang ada di Sumatera Barat. Contoh untuk desa yang dikelolah dengan masyarakat ingin desanya memiliki wajah yang indah, dan contoh bagi desa lainnya, bahwa masyarakat desa itu cerdas, dan mampu menciptakan desa berseri. Bangkit dari kondisi keterbalakangan, dan ubah desa gersang jadi desa berseri.

Lihat juga...