Menperin: Rata-rata Kontribusi Industri Dunia, 17 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, -Dok: CDN

JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, mengungkapkan kontribusi industri Indonesia terhadap ekonomi nasional, termasuk di atas rata-rata negara lain di dunia.

Ia mengatakan, saat ini terjadi norma baru dalam kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB). Di tingkat dunia, sudah tidak ada lagi sumbangan sektor manufaktur kepada ekonomi negara yang mencapai 30 persen.

“Jadi, ini ada realitas baru, kita tidak bisa menyamakan konteks sekarang pada paradigma ekonomi yang lalu,” kata Menperin, sesuai keterangannya yang diterima di Jakarta.

Menurutnya, ketika membandingkan kontribusi industri pada 2001, dengan era saat ini, tentunya berbeda.

“Meski waktu itu kontribusi industri hampir 30 persen, dan kita hampir take off, tetapi berhenti karena krisis ekonomi yang dipicu oleh keuangan. Cukup panjang dampaknya. Selain itu, kita dininabobokan oleh commodity booming. Pada pasca-2014, baru kita revitalisasi lagi sektor manufakur,” paparnya.

Menperin memperlihatkan data Bank Dunia tahun 2017, bahwa saat ini negara-negara industri di dunia, kontribusi sektor manufakturnya terhadap perekonomian rata-rata sekitar 17 persen.

Namun, ada lima negara yang sektor industri manufakturnya mampu menyumbang di atas rata-rata tersebut, yakni Cina (28,8 persen), Korea Selatan (27 persen), Jepang (21 persen), Jerman (20,6 persen), dan Indonesia (20,5 persen).

“Kalau merujuk data tersebut, saat ini tidak ada negara di dunia yang bisa mencapai di atas 30 persen,” ujarnya.

Sementara itu, negara-negara dengan kontribusi industrinya di bawah rata-rata 17 persen, antara lain Meksiko, India, Italia, Spanyol, Amerika Srikat, Rusia, Brasil, Perancis, Kanada dan Inggris.

Lihat juga...