Meski tak Mudah, Sekolah di NTT Layak Diakreditasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

169

MAUMERE – Ketatnya standar akreditasi sekolah membuat sekolah-sekolah swasta dan negeri yang ada di Kabupaten Sikka harus bersaing agar bisa mendapatkan akreditasi sesuai standar yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional.

“Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka selalu mendorong agar sekolah bisa meningkatkan kualitas mereka. Kita memberikan pelatihan kepada para guru serta setiap tahun selalu mengalokasikan anggaran bagi perbaikan infrastruktur sekolah,” sebut Plt. Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, Kamis (6/12/2018).

Dikatakan Patris, untuk guru-guru di desa yang merupakan guru honor untuk tahun 2019 ada sekitar 1.000 guru yang mendapatkan tambahan honor sebesar Rp500 ribu per orang.

“Tahun 2019 dianggarkan dana Rp6 miliar untuk membayar gaji guru honor sebanyak seribu orang sehingga masih tersisa sebanyak 708 guru yang belum mendapatkan honor dari daerah. Selama ini mereka mendapatkan honor dari komite,” ujarnya.

Dikatakan Patris, selain bantuan dari pemerintah daerah yang memiliki anggaran terbatas khususnya untuk jenjang pendidikan dari SD sampai SMP, pihaknya juga meminta agar sekolah bisa memanfaatkan dana BOS yang disediakan pemerintah pusat.

“Banyak sekolah swasta seperti SMP Frater dan SMPN 1 Maumere yang bermutu. Pihak sekolah juga harus mengembangkan kualitas pendidikan mereka, jangan hanya bergantung kepada pemerintah saja,” imbaunya.

Pemerintah Kabupaten Sikka dalam jawaban pemerintah terkait pertanyaan fraksi DPRD Sikka yang mempersoakan ketatnya akreditasi menjelaskan, memang akreditasi memberatkan sekolah terutama sekolah swasta.

Namun, kata bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, setiap lembaga penyelenggara pendidikan wajib memenuhi standar pelayanan pendidikan nasional dan selanjutnya akan diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasioanal.

“Terhadap sekolah-sekolah yang tidak memenuhi standar pelayanan pendidikan menjadi target pemerintah dan lembaga pendidikan agar terpenuhi standar pendidikan,” sebut Robi, sapaannya.

Sementara itu, anggota DPRD Sikka, Yohanes A.J. Lioduden mengatakan, standar pendidikan wajib dipenuhi oleh pihak sekolah sehingga pemerintah harus selalu mendampingi sekolah agar bisa memenuhi standar tersebut.

“Akreditasi wajib dilakukan agar sekolah bisa meningkatkan mutu pendidikannya. Jadi kalau sekolah yang bermutu pasti akan selalu dicari siswa. Akreditasi juga memacu sekolah untuk berbenah dan mengejar kualitas,” ungkapnya.

Kepala sekolah SMASK Bhaktyarsa Maumere, Sr. Marcelina Lidi, SSpS, mengapresiasi pemerintah yang sudah nembuat perkembangan dalam proses akreditasi sekolah dan sekolah tersebut layak difasilitasi oleh pemerintah.

Kepala Sekolah SMASK Bhaktyarsa Maumere Sr. Marcelina Lidi, SSpS. Foto: Ebed de Rosary

“Ini kalau konteks sekolah di Flores dan NTT ini tidak mudah, sebab terkait soal ketersediaan listrik, keahlian di bidang IT dan ketelitian. Namun semua itu jangan dijadikan sebagai penghalang untuk sekolah mendapat akreditasi,” tegas Sr. Marcelina Lidi, SSpS, Kamis (6/12/2018).

Marcelina mengaku senang sekali, sebab tahun 2018 akreditasinya cukup ketat. Sekolahnya menyiapkan diri selama setahun. Sekolahnya sendiri sudah 3 tahun menerapkan Sistem Kredit Semester.

“Kami semua menjadi asesor atau penguji dan penilai bagi diri sendiri. Kira-kira apa yang membuat pendidik maupun siswa memberikan kontribusi bagi pribadinya,” terangnya.

SMASK Bhaktyarsa sudah siap sebelumnya, namun karena kuota untuk sekolah-sekolah baru, maka diundur tahun 2018. Pihaknya menginput data secara online ke pusat dan pemerintah provinsi melakukan akreditasi.

“Mutu di bidang pendidikan akan selalu berkembang dari waktu ke waktu, kalau prosesnya baik. Kalau prosesnya baik pasti hasilnya baik. Tapi kalau hasilnya baik sementara prosesnya tidak baik, pasti ada rekayasa di sana,” tegasnya.

SMASK Bhatyarsa mendapat predikat A Unggul dan merasa puas sebab kriterianya dinaikkan. Tahun 2017 untuk nilai 86 sampai 100 sudah masuk kategori A, sementara tahun 2018 kalau mendapat nilai 91 sampai 100 baru memperoleh nilai A, dan sudah masuk istimewa.

“Setiap hari SMASK Bhaktyarsa Maumere siap untuk dilakukan penilaian. Meskipun kegiatan yang dilakukan sekolah tersebut sebenarnya bukan untuk dinilai, tetapi memaksimalkan pelayanan pendidik kepada peserta didik,” ungkapnya.

Metode yang paling sulit, kata suster Marcelina, standar proses, sebab berkaitan dengan pendidik, mutu setiap pendidik. Dengan begitu, pendidik harus mengakomodir mulai dari persiapan menyusun perangkat, bagaimana saat menerapkannya di kelas, dan proses penilaian.

“Ada pendidik yang lama, baru, latar belakang pendidikan, mata pelajaran yang diajar serta lainnya. Namun, tidak berarti tidak mungkin, sebab tidak ada yang sulit kalau kita mau berjuang mengatasi,” pesannya.

Maka, sekolahnya, kata Marcelina, mengadakan workshop guru setiap semester. Ada induksi guru setiap hari Senin untuk meng-update atau memperbaharui ilmu dan pengalaman.

Baca Juga
Lihat juga...