Monumen Bibis, Saksi Pak Harto Susun Serangan Umum 1 Maret

Editor: Satmoko Budi Santoso

460

YOGYAKARTA – Terletak di atas perbukitan kecil, sebuah kompleks rumah berbentuk joglo limasan di Dusun Bibis, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, menjadi saksi perjalanan penting sejarah NKRI.

Di rumah inilah, Letkol Soeharto sebagai Komandan Pasukan Wehrkreise III, menyusun strategi dalam melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk merebut kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda.

Di rumah milik Dukuh Bibis kala itu, bernama Harjowiyadi inilah, Pak Harto memimpin pasukan dengan menjadikannya sebagai markas sekaligus tempat persembunyian para pejuang dalam masa perang Agresi Militer Belanda ke II.

Sebagaimana rumah orang Jawa pada umumnya, kompleks rumah ini terdiri dari sejumlah bagian. Bagian utama berupa rumah berbentuk limasan dengan kerangka utama bangunan kayu Jati. Terdapat 3 bangunan yang menyambung ke belakang rumah utama ini.

Rumah adat Jawa berbentuk limasan serta pendopo yang menjadi tempat Letkol Soeharto menyusun strategi Serangan Umum 1 Maret – Foto Jatmika H Kusmargana

Sementara itu di sampingnya, juga terdapat sebuah bangunan pendopo pertemuan berbentuk Joglo. Di sekeliling bangunan, terbentang halaman cukup luas berlantai tanah, mengitari kawasan dengan rindang pepohonan tua seperti asam jawa, sawo, hingga kelapa.

“Sebagai bentuk penghargaan, Pemerintah kemudian menjadikan rumah milik Harjowiyadi itu sebagai monumen. Disamping rumah Joglo itu kemudian dibangun ruang pamer yang menggambarkan sejarah peristiwa kala itu. Termasuk sejumlah prasasti,” ujar Dukuh Bibis saat ini, Sunardi.

Sayangnya, kondisi kompleks monumen Bibis sendiri, saat ini nampak tak terawat bahkan terlihat terbengkalai. Bangunan ruang pamer nampak rusak. Sejumlah tembok termasuk relief terlihat retak dan mengelupas catnya.

Dukuh Bibis, Sunardi. Foto Jatmika H Kusmargana

Beberapa tempat penyimpanan benda koleksi nampak kosong. Yang tersisa hanyalah sebuah meja, kursi lincak tua, serta beberapa perabot yang digunakan para pejuang. Termasuk prasasti peresmian bertandatangan Presiden Soeharto tahun 1977. Tampak tak terurus dan berdebu.

Kondisi diorama di pendapa sendiri tak jauh berbeda. Sejumlah benda nampak rusak dan hilang. Begitu pula kondisi 3 prasasti yang berdiri di bagian halaman. Ketiganya tak terurus, batu prasasti retak sebagian dan berlumut.

Diorama yang menggambarkan Komandan Pasukan Wehrkreise III Letkol Soeharto berkoordinasi dengan pasukannya – Foto Jatmika H Kusmargana

“Monumen ini statusnya milik pemerintah DIY. Karena ahli waris sudah diberi ganti tanah. Hanya memang pengelolaan tetap diserahkan pada ahli waris atau anak-anak dari Harjowiyadi. Sudah ada yayasannya juga,” ungkap Sunardi.

Diresmikan Presiden Soeharto pada 1 Maret 1977, dibuktikan dengan adanya prasasti. Monumen Bibis ini tercatat pernah dipugar pada 1 Maret 1998. Hal itu terlihat dari salah satu prasasti bertandatangan Ketua Yayasan Monumen Jogja Kembali, Soerjono.

“Dulu, banyak anak sekolah yang biasa datang berkunjung untuk belajar mengenai sejarah di Bibis. Saat peringatan SO 1 Maret, sejumlah acara juga selalu digelar mulai dari Napak Tilas hingga Wayangan. Tapi sejak Pak Harto sudah lengser, semua terhenti,” imbuh Sunardi.

Sunardi sendiri sangat menyayangkan sekaligus prihatin melihat kondisi monumen Bibis saat ini. Ia menilai, keberadaan monumen itu sebenarnya merupakan aset penting bagi masyarakat Dusun Bibis. Tak sekadar sebagai sumber pembelajaran sejarah, namun juga sebagai saksi perjuangan para pejuang yang harus dijaga bersama-sama.

“Saya sebagai masyarakat Dusun Bibis sebenarnya malu. Peninggalan orang nomor satu di Indonesia kondisinya seperti itu. Sangat tidak pantas. Mestinya monumen yang memiliki nilai sejarah penting bagi bangsa ini harus dijaga dan dirawat dengan baik,” katanya.

Sengketa antarpengurus yang merupakan ahli waris atau anak-anak dari Harjowiyadi dinilai menjadi penyebab utama tak terurusnya monumen Bibis. Sementara pihak pemerintah dusun, maupun desa, tak bisa mengambilalih karena pengelolaan monumen telah diserahkan pada ahli waris melalui yayasan.

“Monumen ini kan sudah menjadi milik negara yang juga berarti milik masyarakat. Kita sebenarnya ingin agar bagaimana monumen ini bisa dikelola secara bersama-sama. Karena ini merupakan aset Dusun Bibis. Tidak semua dusun bisa memiliki aset peninggalan seperti ini. Saya yakin jika dikelola dengan baik, monumen ini bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Dusun Bibis,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...