Monumen Segoroyoso, Saksi Bisu Perjuangan Letkol Soeharto

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selama ini, masyarakat Yogyakarta mungkin lebih mengenal Desa Segoroyoso, Plered, Bantul, sebagai desa kaya yang memiliki banyak hasil peternakan sapi, kuda, hingga makanan khas, krecek.

Mungkin pula Desa Segoroyoso dikenal, karena sejarah wilayahnya yang merupakan bekas bendungan kuno yang menjadi bagian wilayah Kraton Plered, Kerajaan Mataram Islam terbesar di Pulau Jawa pimpinan Sultan Agung.

Namun, Desa Segoroyoso ternyata juga menyimpan sejarah penting perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia. Di desa inilah, Komandan Wehrkreise III, Letnan Kolonel Soeharto pernah menyusun strategi dan menyiapkan seluruh pasukannya, saat bergerilya melawan Belanda pada masa Perang Kemerdekaan II.

Bangunan utama Monumen Segoroyoso nampak rusak parah akibat gempa bumi 2006 -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Sebelum Serangan Umum 1 Maret 1949 dilakukan, Soeharto menjadikan Desa Segoroyoso ini sebagai markas komando pasukannya. Di sinilah Soeharto menyusun strategi perang gerilya untuk melawan penjajah Belanda,” ujar Kepala Desa Segoroyoso, Miyadiana.

Adanya peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Desa Segoroyoso itu, dibuktikan dengan berdirinya sebuah monumen, bernama Monumen Segoroyoso, yang terletak di Dusun Segoroyoso I, Desa Segoroyoso, Kecamatan Plered. Monumen ini menjadi saksi bisu perjuangan Soeharto bersama pasukannya, dalam melawan penjajah.

Menempati sebuah pekarangan yang tak terlalu luas, Monumen Segoroyoso terdiri dari bangunan utama berbentuk rumah limasan, dengan dinding tembok berukuran sekitar 8 x 4 meter. Bangunan ini tampak sudah rusak dan tak terawat. Sejumlah atap, dinding, lantai hingga pintu dan kaca jendela depan nampak rusak parah.

Sebuah bangunan pendopo berbentuk Joglo, di depannya juga nampak roboh tanpa sisa, kecuali lantai dasarnya saja. Begitu pula dengan gapura yang menjadi pintu masuk menuju monumen. Sejumlah bagiannya nampak hancur dan rusak.

Benda atau bangunan yang masih nampak layak, dalam monumen ini, hanya sejumlah batu prasasti yang terletak di halaman depan monumen, yang dipenuhi rumput ilalang dengan pagar seadanya dari batang bambu tua lapuk.

Dalam prasasti ini, terdapat tulisan berbunyi, ‘Di tempat ini Komandan Wehrkreise III Letkol Soeharto menyiapkan secara lahir bathin sebelum mengkomandokan Serangan Umum 1 Maret 1949’.

“Saat terjadi gempa bumi pada 2006, hampir semua bangunan monumen rusak parah. Termasuk joglo pendopo di depan yang roboh. Sampai saat ini, memang monumen belum diperbaiki, sehingga hanya dibiarkan saja,” ujar Miyadiana.

Papan nama Monumen Segoroyoso -Foto: Jatmika H Kusmargana

Menurut Miyadiana, pihak pemerintah desa selaku pengelola monumen yang dibangun pada sekitar 1983 ini, sudah sejak lama berupaya untuk memperbaiki dan membangun kembali Monumen Segoroyoso.

Wacana pembangunan kembali monumen bersejarah ini juga lama didengungkan, baik oleh pemerintah Kabupaten Bantul maupun pihak-pihak terkait.

“Terakhir, pemerintah kabupaten berencana membangun kembali monumen ini. Katanya akan dianggarkan Rp200 juta. Semoga saja bukan sekadar wacana, tapi benar-benar terealisasi. Karena kalau pemerintah desa jelas tidak mampu,” ungkapnya.

Lihat juga...