Mulai 2019, OPEC dan Aliansinya Kurangi Produksi

154
Kilang minyak lepas pantai, ilustrasi - Dok: CDN

WINA – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan produsen minyak Non-OPEC, menyepakati untuk bersama-sama mengurangi produksi minyak mentahnya. Pengurangan yang disepakati sebesar 1,2 juta barel per hari (bph).

Pengurangan akan dilakukan mulai Januari 2019, untuk periode awal enam bulan. Menurut kesepakatan yang dicapai, negara-negara anggota OPEC, berkontribusi memotong produksi 0,8 juta bph. Produsen minyak Non-OPEC, termasuk Rusia, berkontribusi 0,4 juta bph, dari level produksi Oktober 2018. Tetapi rincian kuota untuk setiap negara anggota tidak diumumkan kepada publik.

Kesepakatan itu tercapai, setelah Iran diberikan pengecualian untuk membatasi produksi, karena sanksi-saksi dari Amerika Serikat. Lonjakan produksi minyak AS, yang telah meningkat 2,5 juta bph sejak awal 2016 menjadi 11,7 juta barel per hari, telah memberi OPEC dan produsen minyak lain, lebih banyak tekanan dalam persaingan pasar global.

Keputusan pemotongan produksi bersama yang dibuat oleh anggota OPEC dan non-OPEC, datang pada saat harga minyak turun sekira 30 persen. Penurunan terjadi selama dua bulan terakhir, yang lebih dikarenakan, kelebihan pasokan di pasar minyak mentah global. Kesepakatan OPEC untuk menurunkan produksi mendorong harga minyak berbalik naik atau rebound pada akhir perdagangan Sabtu (8/12/2018) pagi WIB.

“Rusia menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama dengan kartel minyak yang dipimpin Saudi, negara itu setuju untuk mengurangi produksi sebesar 228.000-230.000 barel per hari,” ungkap Menteri Energi Rusia, Alexander Novak.

Namun Rusia menurutnya, akan mengurangi produksi secara bertahap, mengingat kondisi musim dingin yang keras. Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih, mengatakan, kerajaan akan memenuhi janji, dan mengambil tindakan tanpa penundaan. Dengan demikian, produksi mungkin akan jatuh menjadi 10,7 juta bph pada Desember 2018 dan 10,2 juta bph pada Januari 2019.

“Hal ini sebagian didorong oleh komitmen kami, untuk memulai dengan langkah yang tepat pada 2019, dan untuk menunjukkan bahwa pengiriman pada perjanjian ini, tidak akan memakan waktu yang lama dan berlarut-larut, yang berangsur-angsur akan turun,” kata Falih.

Falih menyebut, Amerika Serikat terus menjadi sumber pasokan terbesar, karena telah menjadi eksportir minyak bersih untuk pertama kalinya pada 75 tahun silam. Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, naik 1,12 dolar AS menjadi menetap di 52,61 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara, patokan global, minyak mentah Brent, untuk pengiriman Januari, naik 1,61 dolar AS, menjadi ditutup pada 61,67 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...