Museum di TMII Perkuat Jati Diri Bangsa

Editor: Koko Triarko

194
Manajer Informasi Budaya dan Wisata TMII, Dwi Windyarto. -Foto: Sri Sugiarti
JAKARTA – Manajer Informasi Budaya dan Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Dwi Windyarto, menilai pemikiran Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah (Tien Soeharto), sangat luar biasa dalam mengenalkan sejarah bangsa.
Sejarah bangsa itu ditampilkan dalam miniatur Indonesia, yaitu TMII,  yang dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto. Saat dibangun TMII, sebut dia, ada budaya Indonesia yang ditampilkan oleh 27 provinsi. Kini bertambah menjadi 34 anjungan daerah dan 20 museum.
“Pemikiran Ibu Tien sangat luar biasa. Beliau sejak dulu sudah berpikir, bagaimana bangsa kita mencintai museum dan budaya,” kata Dwi, kepada Cendana News, Rabu (5/12/2018).
Dalam pelestarian dan pengembangan budaya bangsa, Ibu Tien berpikir, bahwa museum juga harus ditampilkan di TMII. “Awalnya baru ada Museum Indonesia, dan terus berkembang hingga banyak. Pembangunan museum di TMII berkat ide cemerlang Ibu Tien, untuk mengenalkan sejarah bangsa,” tandasnya.
Menurut Dwi, sebelum membangun TMII, Ibu Tien telah mendirikan Yayasan Harapan Kita (YHK) pada 23 Agustus 1968. YHK ini merupakan wadah pengelolaan TMII. Dan, untuk membangun TMII, kemudian YHK membentuk Badan Pelaksana Persiapan Pembangunan Pengusahaan Proyek (BP5) Miniatur Indonesia Indah.
Dalam pelestarian budaya bangsa, BP5 juga membangun museum-museum. Menurut Dwi, tidak banyak orang yang punya persepsi atau pandangan seperti itu. Tapi, Ibu Tien punya pandangan bagaimana museum ini, agar dicintai bangsanya.
Menurutnya, museum mempunyai  makna yang sangat tinggi terhadap bangsanya. Dan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan. Tentunya tidak lepas dari semua peninggalan sejarah, serta bangsa yang besar akan mencintai budaya dan museum.
“Dalam membangun TMII, Ibu Tien  berpikir untuk mendirikan tempat rekreasi, yang mampu menggambarkan kebesaran sejarah Indonesia dalam bentuk miniatur,” tandasnya.
Kembali ia menegaskan, bahwa hakikat budaya kita adalah museum yang menyajikan sejarah bangsa. Lalu, bagaimana museum ini bisa bangkit dan disukai masyarakat Indonesia, tentu segala upaya harus dilakukan.
Zaman modern ini, menurutnya, orang untuk masuk museum saja malas. Mereka lebih suka berkunjung ke mal. Maka, perlu upaya bagaimana menanamkan cinta museum kepada masyarakat umum, utamanya generasi muda.
Pertama, sebut dia, harus ada imbauan wajib kunjungan museum kepada sekolah-sekolah dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedua, kerja sama dengan asosiasi museum harus lebih efektif untuk menghidupkan museum.
Menurutnya, museum harus punya daya tarik, cara mengemas, dan memasarkan, agar menarik pengunjung. “Nah, kami akan mengemas museum-museum dengan desain menarik dan interaktif, dengan menggandeng komunitas. Sehingga bisa lebih menarik pengunjung,” ujarnya.
Museum, menurutnya, bukan hanya milik generasi zaman dulu. Tetapi, juga milik generasi sekarang dan generasi masa depan. Sehingga, kalau generasi muda cinta dengan museum, merupakan cerminan kesadaran memahami sejarah budaya bangsa.
“Yang ditampilkan di museum kan warisan budaya bangsa. Ibu Tien berpikir cemerlang untuk melestarikan dan  menguatkan jati diri bangsa, dengan membangun museum-museum di TMII. Tujuannya, agar masyarakat paham sejarah bangsa,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...