Musim Hujan, Cabai Petani di Lombok, Membusuk

Editor: Satmoko Budi Santoso

LOMBOK – Cuaca yang terlalu dingin selama musim hujan membuat tanaman cabai milik sebagian petani rusak dan membusuk, baik buah yang masih mentah maupun buah matang.

“Biasa kalau musim hujan, buah cabai sudah pasti banyak rusak dan membusuk kehitaman dimakan ulat, karena cuaca terlalu dingin,” kata Samsul, petani cabai Kabupaten Lombok Tengah, Senin (17/12/2018).

Selain buah, pohon cabai juga ikut membusuk dan mati, sehingga terkadang terpaksa memetik semua buah cabai, baik yang masih mentah maupun yang sudah matang untuk dijual ke pasar. Karena kalau tetap dibiarkan akan rusak dan membusuk.

Dikatakan, kondisi semacam ini memang sudah biasa terjadi, melanda tanaman cabai petani setiap memasuki musim hujan. Terutama petani yang menanam cabai di lahan atau sawah dataran rendah yang mudah tergenang air.

“Kalau petani yang menanam di lahan dataran tinggi biasanya baru aman dari genangan air sehingga tanaman cabai tidak rusak dan masih bisa bertahan,” katanya.

Meski demikian, kata Samsul, secara umum tanaman cabai milik petani selama musim hujan, tetap rusak membusuk, karena terlalu dingin.

Yuli, petani cabai lain menjelaskan, harga cabai pada musim tanam tahun ini tidak terlalu bagus. Masa panen awal sampai pertengahan, harga cabai berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilo,  meski panen petani sempat melimpah.

“Harga cabai biasa baru akan mahal saat musim hujan seperti sekarang.  Karena hasil panen cabai sedikit, banyak yang rusak akibat cuaca terlalu dingin selama musim hujan,” katanya.

Lihat juga...