Musim Hujan Petani Cabai Jamu di Lamsel Kembali Bergairah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

172

LAMPUNG — Petani pembudidaya cabai jamu atau sering dikenal dengan cabai jawa mulai kembali bergairah. Pasalnya saat kemarau melanda wilayah tersebut sebagian tanaman mati akibat kekurangan air.

Mulyono, satu petani asal Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebutkan, potensinya sangat menjanjikan. Dengan nama latin Piper retrofractum vahl tersebut mudah ditanam tanpa membutuhkan perawatan khusus seperti cabai (Capsicum annuum) jenis caplak, rawit serta merah keriting.

Penanaman yang mudah dengan nilai jual tinggi membuat tanaman cabai jawa sengaja dibudidayakan secara intensif memanfaatkan tanaman lain sebagai rambatan.

“Musim hujan yang mulai merata membuat tanaman cabai jamu yang sudah hampir mati kembali bertunas, sebagian saya sulam dengan bibit yang ditanam terlebih dahulu menggunakan polybag untuk regenerasi tanaman baru,” terang Mulyono saat ditemui Cendana News, Senin (3/12/2018).

Pada satu pohon rambatan ia bisa menanam sekitar empat hingga lima bibit baru. Tanaman yang sudah tua menempel dan merambat pada tanaman induk seperti jengkol akan mati saat memasuki masa tidak produktif.

Cabai jamu yang ditanam secara khusus oleh Mulyono saat ini berjumlah lebih dari ratusan tanaman. Pohon karet usia dua tahun sengaja dipilih sebagai rambatan karena lebih praktis. Penanaman pohon karet dengan bentuk yang lurus sekaligus dapat dimanfaatkan dengan menanam jagung.

“Diversifikasi serta intensifikasi tanaman pada satu lahan saya lakukan sesuai dengan kearifan lokal di wilayah ini agar memperoleh hasil pertanian maksimal,” beber Mulyono.

Mulyono salah satu petani penanam cabai merah memeriksa tanaman cabai jamu miliknya. Foto: Henk Widi

Pada masa panen pertengahan tahun ini, Mulyono menyebut harga cabai jamu kering cukup baik. Tahun sebelumnya di tingkat pengepul mencapai Rp50.000 hingga Rp65.000. Memasuki masa panen tahun ini,  mencapai Rp70.000 hingga Rp80.000.

Harga cabai jamu disebutnya juga terpengaruh permintaan sekaligus kondisi cuaca. Meski demikian dengan hasil panen rata rata 4 kilogram kering ia bisa mendapatkan hasil Rp200.000 sekali jual jika rata rata harga Rp50.000 per kilogram.

Zainal Abidin, warga Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan menyebutkan, cabai jamu menjadi tanaman investasi. Saat sejumlah tanaman perkebunan dan pertanian mengalami hasil anjlok dan serangan hama, panen cukup stabil.

Pemilik kebun kakao dan durian tersebut mengaku panen cabai jamu bisa digunakan sebagai tabungan. Proses perawatan yang mudah membuat ia menanam di sela sela tanaman lain.

“Semua jenis pohon bisa dirambati oleh cabai jawa tanpa kuatir pohon terganggu seperti jika ditumbuhi benalu,“ cetus Zainal Abidin.

Cabai jamu disebutnya bisa berbuah sepanjang musim dengan buah penyelang dan mengalami puncak panen sekitar Desember. Sebagian bisa dipanen dengan sistem pemilahan pada buah yang sudah tua.

Buah cabai jamu tua yang siap panen ditandai dengan warna kuning hingga merah tua siap petik. Buah yang sudah dipanen akan dijemur hingga kering dan bisa disimpan. Proses penyimpanan yang baik dapat bertahan hingga satu tahun.

Memasuki musim penghujan, Zainal Abidin menyebut mengembangkan pada polybag. Permintaan yang cukup tinggi dengan prospek belum banyak dilirik membuat harga tetap stabil untuk bumbu masak dan bahan obat atau jamu.

Ia bahkan menyebut harga saat ini belum pernah di bawah Rp50.000 dalam kondisi kering. Penanaman cabai jamu sekaligus menjadi solusi pendapatan bagi petani dengan pemeliharaan yang mudah.

Baca Juga
Lihat juga...