Musim Hujan, Petani di Sikka Mulai Tanam Jagung

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

134

MAUMERE — Musim hujan yang melanda kabupaten Sikka sejak akhir November 2018 dan berlangsung hampir setiap hari, membuat para petani khususnya di sentra produksi di kecamatan Kangae mulai menanam jagung.

Regina Pije petani jagung di desa Habi kecamatan Kangae kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

“Sejak awal bulan November kami sudah mulai membersihkan lahan dan pertengahan November kemarin kami sudah membajak. Akhir November kami sudah menanam jagung,” sebut Maria Deta, petani di desa Habi kecamatan Kangae, Senin (3/12/2018).

Dikatakan, pihaknya masih belum mau menanam jagung hibrida maupun komposit tidak tahan lama dan rasanya pun beda bila dicampur dengan beras. Ia memilih jenis lokal, karena hanya untuk dikonsumsi sendiri.

“Kami hanya tanam untuk makan saja sebab paling banyak dalam satu hektar dapat panen sebanyak dua sampai empat ton. Ada dua jenis jagung yang kami tanam yakni jagung pulut dan manis, baik berbulir putih maupun kuning,” terangnya.

Regina Pije, petani lainnya mengaku hanya memiliki lahan seluas satu hektare saja dan lebih memilih menanam jagung lokal untuk dikonsumsi dan dijual, kalau membutuhkan uang.

“Saya sudah terbiasa menanam meski ada bantuan jagung jibrida dan jagung komposit dari pemerintah. Lebih baik kami simpan, sebab kalau tidak ada uang kami masih mempunyai jagung untuk dimakan,” tuturnya polos.

Sementara itu, kepala bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inocensius Siga menjelaskan, untuk musim tanam tahun 2018 dan 2019, pihaknya mendapat bantuan baik dari pusat, provinsi maupun kabupaten.

“2018 ini bantuan benih jagung hibrida dari dana APBN diperuntukkan bagi lahan seluas 1.410 hektare dan komposit seluas dua ribu hektare.Kalau 2017 kemarin, kami mendapatkan bantuan komposit untuk lahan seluas 4.396 hektare,” bebernya.

Selain bantuan dari APBN, tambah Ino sapaannya, ada bantuan dari SAPBD I Provinsi NTT berupa benih jagung komposit untuk lahan seluas 500 hektare. Juga ada bantuan untuk lahan seluas 75 hektare dengan sumber dana dari APBD II kabupaten Sikka.

“Kalau musim tanam 2017 dan 2018, bantuan benih jagung komposit yang bersumber dari APBD I provinsi NTT diperuntukan bagi lahan seluas 1.000 hektare, sedangkan APBD II kabupaten Sikka untuk lahan selaus 100 hektare,” sebutnya.

Potensi pengembangan jagung di kabupaten Sikka, tambah Ino, sangat besar dan masih ada lahan tidur dan bekas sawah tadah hujan yang belum dimanfaatkan. Pihaknya berharap dengan adanya bantuan alat dan mesin pertanian serta benih dan pupuk, produksi jagung di Sikka dapat meningkat.

“Tahun 2017 lalu pemerintah pusat memprogramkan untuk perluasan areal tanam, namun hasil yang dicapai di Sikka masih belum maksimal. Luas areal tanam baru hanya 810 hektare saja sebab ketiadaan air saat musim kemarau,” ucapnya.

Baca Juga
Lihat juga...