Nahkoda Kapal Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, mengimbau nahkoda di perairan Selat Sunda untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di perairan tersebut.

Sujarwa, Perwira Jaga KSOP Kelas V Bakauheni, saat mendampingi Fery Hendry Yamin, Petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP), menyebut, kondisi cuaca sedang tidak bersahabat dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, sesuai data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ada potensi gelombang tinggi dua hingga empat meter, dan kecepatan angin 3 -20 knot.

Sujarwa, Perwira Jaga KSOP Kelas V Bakauheni, -Foto: Henk Widi

Kondisi tersebut sudah terjadi sejak tiga hari terakhir, dan diperkirakan terjadi di Perairan Enggano-Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan.

“Namun khusus untuk aktivitas pelayaran Kapal Roll on Roll off (Roro), ia menyebut masih tergolong aman, meski nahkoda tetap diminta waspada,” kata Sujarwa, Senin (17/12/2018).

Sujarwa mengatakan, sejumlah nahkoda kapal telah mendapatkan imbauan secara lisan dan tertulis. Prakiraan cuaca dari BMKG Maritim Lampung sekaligus menjadi acuan bagi nahkoda kapal untuk waspada, saat berlayar dari pelabuhan Bakauheni menuju ke Merak dan sebaliknya.

Sujarwa menyebut, potensi gelombang tinggi dan angin kencang kerap terjadi saat sore menjelang malam hari. Bagi sejumlah kapal, gangguan bisa terjadi saat olah gerak hendak sandar dan bongkar di alur masuk serta alur keluar dan di laut lepas.

“Pelabuhan Bakauheni memiliki keunggulan bentang alam yang cukup bagus untuk aktivitas Kapal Roro, dengan keberadaan sejumlah pulau kecil, di antaranya pulau Rimau Balak dan Kandang Balak, sehingga terpaan angin terhambat di sejumlah dermaga. Meski demikian, alun gelombang masih berpotensi menyulitkan olah gerak kapal,” terang Sujarwa.

Menurutnya, kondisi cuaca buruk di lintasan pelayaran Selat Sunda di pelabuhan Merak dan Bakauheni, kerap berbeda. Saat terjadi angin Barat dan Selatan di wilayah Merak, kurang memiliki benteng alam berupa pulau. Hanya pulau Merak besar dan pulau Merak Kecil, sehingga alun gelombang di Merak kerap mengganggu aktivitas pelayaran.

Meski demikian, ia menyebut angin kencang dan gelombang tinggi tidak mengakibatkan gangguan saat bongkar muat (port time) dan waktu tempuh perjalanan kapal (sailing time).

Lintasan Selat Sunda dengan jarak 15 mil laut, masih bisa ditempuh dengan waktu tempuh pelayaran selama 108 menit, dan waktu bongkar muat selama 72 menit.

Pada Senin (17/12), sebanyak 21 Kapal Roro dioperasikan dengan kondisi arus penyeberangan yang masih normal. Belum berlangsungnya arus liburan, membuat jumlah kapal yang dioperasikan di enam dermaga, masih bisa melayani pengguna jasa penyeberangan pejalan kaki, kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat.

Saat arus liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di lintasan Selat Sunda, direncanakan akan disediakan 71 kapal dan kapal siap beroperasi sebanyak 68 kapal.

Sugiyono, Kepala BMKG Maritim Lampung -Foto: Henk Widi

Terkait kondisi cuaca di Selat Sunda, Kepala BMKG Stasiun Maritim Lampung, Sugiyono, menyebut ada potensi cuaca buruk dan hujan lebat hingga lima hari ke depan.

Sugiyono dalam keterangannya mengimbau masyarakat, agar mewaspadai potens, genangan, banjir dan longsor serta angin kencang di seluruh wilayah Lampung. BMKG telah melakukan monitoring dan menganalisis curah hujan yang ada di wilayah Lampung.

“Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan, bahwa sebagian besar wilayah Lampung telah diguyur hujan selama beberapa pekan terakhir, yang menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, longsor dan puting beliung,” tegas Sugiyono.

Sugiyono juga menyebut, sudah menginformasikan, bahwa cuaca didasarkan oleh analisis dinamika atmosfer, dengan menguatnya massa udara dari Asia dan Australia.

Kondisi itu mempengaruhi pembentukan daerah tekanan rendah dan pola-pola sirkulasi di sekitar wilayah Indonesia, yang berdampak sampai wilayah Lampung.

Selain itu,  aliran massa udara basah dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang masuk ke wilayah Sumatera hingga Jawa, turut mendukung pertumbuhan awan hujan.

”Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang di sekitar di wilayah Lampung secara umum,” cetus Sugiyono.

Khusus di wilayah perairan BMKG, terjadi potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4,0  meter yang diperkirakan terjadi di Perairan Enggano-Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan.

Saran keselamatan, disebutnya telah diberikan, terutama untuk keselamatan pelayaran. Bagi perahu nelayan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter, perlu diwaspadai.

Sementara bagi Kapal Ferry, angin lebih dari 20 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter harus diwaspadai, salah satunya di lintasan Selat Sunda.

Lihat juga...