Napi Lapas Meulaboh Hasilkan Produk Mebel

Ilustrasi - Para narapidana. Foto: Dokumentasi CDN

MEULABOH — Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, memproduksi beragam mebel dari hasil pelatihan kerja yang diberikan oleh pihak lembaga Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Kepala LP Kelas II B Meulaboh, Jumadi, mengatakan karya narapidana tersebut merupakan kegiatan pembinaan kemandirian yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus sehingga benar-benar produktif.

“Kegiatan ini dilaksankan secara continue (terus menerus) berbasis kompetensi dengan bekerja sama dengan BLK Banda Aceh dan selesai dari pelatihan ini warga binaan akan memperoleh sertifikat,” katanya melalui Kasubsi Kegiatan Kerja, Muhammad Yunus di Meulaboh, Rabu (12/12/2018).

Adapun beberapa produk mebel yang dihasilkan dari praktek kerja warga binaan setempat seperti, kursi, terali besi, meja serta beberapa pekerjaan tangan dari kegiatan latihan las bubut yang dilakukan warga binaan.

Jumadi, menyampaikan, pelatihan kerja itu merupakan langkah yang sangat strategis sebagai salah satu bentuk pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan dan mengubah stigma negatif masyarakat terhadap warga binaan pemasyarakatan.

Tujuan pembinaan kemandirian ini, kata dia, selama menjalani hukuman narapidana mendapat keterampilan, dapat berkereasi, serta membuka cakrawala berfikir dan berkarya, sehingga setelah bebas dapat mandiri dan membuka lapangan pekerjaan.

“Saat ini hasil dari karya narapidana ini dengan hasil yang sangat memuaskan dan bisa dipasarkan, kami juga siap menerima pesanan dari pihak ketiga dengan kualitas yang bagus dan dengan harga yang lebih murah,” imbuhnya.

Jumadi, menaruh harapan, kepada pihak-pihak terkait di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya yang memiliki warganya di LP Kelas II B Meulaboh dapat membantu jalannya proses pembinaan kemandirian bagi warga binaan tersebut.

Sehingga, setelah selesai menjalani pidana diharapkan dapat diterima bekerja di perusahaan-perusahaan atau dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, sehingga tercipta budaya serta etos kerja yang tinggi di kalangan masyarakat.

“Dalam menghadapi dunia usaha serta mempunyai kompetensi dalam membangun jaringan kemitraan dengan pemangku kepentingan (stakeholder). Warga binaan ini setelah bebas nanti hendaknya diperhatikan,” harapnya.

Lebih lanjut disampaikan, peserta yang mengikuti pelatihan kerja tersebut merupakan warga binaan yang telah menjalani dua per tiga masa tahanan, dan mereka tidak lama lagi akan bebas dan berkumpul dengan masyarakat.

“Beberapa kegiatan latihan kerja lain yang dilakukan warga binaan, selain las bubut ada latihan kerja otomotif, listrik dan menjahit yang didominasi oleh warga binaan perempuan,” demikian Muhammad Yunus. (Ant)

Lihat juga...