Nasi Tumpeng, Variasi Menu Rayakan Natal

Editor: Satmoko Budi Santoso

194

LAMPUNG – Salah satu cara merayakan Natal di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) dilakukan dengan menghidangkan kuliner untuk para tamu. Tradisi saling kunjung bagi umat Katolik di Lamsel yang masih dilestarikan salah satunya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lamsel.

Dewi (40) salah satu umat Katolik di Lamsel menyebut, setiap tahun ia menyediakan kuliner khas bagi tamu yang berkunjung saat hari raya Natal.

Pada hari raya Natal tahun 2018 Dewi menyebut, konsep kuliner yang dibuat berupa tumpeng. Tumpeng diakuinya memiliki simbol among among untuk keluarga yang memiliki anggota keluarga baru.

Kelahiran anggota keluarga baru disebutnya disimbolkan dengan pembuatan nasi tumpeng dilengkapi sayur, lauk untuk dinikmati bersama anggota keluarga. Kelahiran Yesus Kristus pada perayaan Natal diakuinya menjadi momen kelahiran dalam keadaan sederhana.

“Konsep kuliner Natal tahun ini saya buat lebih tradisional sekaligus sederhana. Mengingat kondisi akhir tahun ini di sejumlah wilayah Indonesia sedang terkena musibah. Jadi konsep Natal juga dibuat sederhana,” terang Dewi, salah satu jemaat Katolik Santo Petrus dan Paulus, saat ditemui Cendana News dalam suasana Natal, belum lama ini.

Dewi menyiapkan tumpeng dan urap sebagai menu untuk tamu yang berkunjung – Foto Henk Widi

Dewi menyebut, pembuatan nasi tumpeng menjadi semangat kesederhanaan kelahiran Yesus Kristus yang dibagikan kepada sesama.

Tumpeng dibuat dari nasi yang dibentuk menjadi tumpeng. Sebagai pelengkap tumpeng juga dibuat  nasi kuning dilengkapi dengan sejumlah sayuran di antaranya kacang panjang, bayam, wortel, buncis, labu siam serta kentang rebus ditambah parutan kelapa yang dibumbui.

Sejumlah lauk berupa ikan asin, tempe bacem goreng dan ayam goreng menjadi pelengkap. Tumpeng tersebut diakui Dewi dibentuk dengan cetakan selanjutnya saat penyajian nasi tumpeng akan diberikan bersama dengan sayuran yang disebut dengan urap, kluban atau gudangan.

Penyajian nasi tumpeng saat Natal disebutnya menggunakan piring terbuat dari lidi serta diberi alas menggunakan daun pisang.

“Konsep kuliner pada tahun ini memang dibuat sesederhana mungkin karena tahun sebelumnya saya membuat rawon dan nasi tiwul. Setiap tahun saya memiliki konsep berbeda,” beber Dewi.

Anak-anak berkumpul dalam suasana Natal – Foto Henk Widi

Proses pembuatan nasi tumpeng disebutnya cukup sederhana dengan memasak nasi dari beras pilihan.

Ia mengaku menggunakan jenis beras pandan wangi organik yang ditanam oleh sang ayah selaku petani padi organik. Sebagian nasi disebut Dewi dibuat menjadi kuning menggunakan kunyit. Selanjutnya penambahan beras merah diberikan sehingga tumpeng bisa menjadi tiga warna melambangkan iman umat Katolik akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Priska, anak sulung Dewi yang ikut membantu sang ibu mengungkapkan, nasi tumpeng sangat disukainya. Selain jarang dibuat oleh sang ibu, tumpeng menjadi pengganti kue ulang tahun sebagai simbol kelahiran Yesus Kristus.

Suasana Natal selain dihiasi dengan pohon Natal, kuliner nasi tumpeng juga sejumlah kue tradisional berupa peyek kacang ,akar kelapa, tapai ketan serta keripik. Meski sederhana, namun suasana Natal tetap berlangsung khidmat dalam kesederhanaan.

Baca Juga
Lihat juga...