Natal-Tahun Baru, Harga Tiket Pesawat di Biak Melonjak

179
Ilustrasi bandara - Foto: Dokumentasi CDN.

BIAK – Harga tiket pesawat udara, untuk penerbangan dari Bandara Frans Kaiseipo Kabupaten Biak Numfor, Papua, ke berbagai kota tujuan di Indonesia, menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 melonjak.

“Harga tiket pesawat udara dari bandara Biak ke Makassar sebelumnya berkisar Rp1,7 juta, kini sudah naik menjadi Rp2,750 juta per penumpang,” ungkap salah satu warga Biak, Solihin, Selasa (4/12/2018).

Meski melonjak, Solihin menyebut, warga tetap saja membeli. Hal itu dikarenakan, transportasi udara menjadi kebutuhan utama warga Papua untuk berpergian. Andreas, warga Biak lain, meminta dinas yang berwenang, untuk mengawasi praktik penjualan tiket pesawat udara. Hal tersebut untuk merespon kenaikan harga yang disebutnya cukup drastis dalam beberapa waktu terakhir.

“Harga tiket ke Jayapura, sebelum kenaikan bisa dapat Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per-penumpang, namun saat ini, sudah diatas Rp1,1 juta,” ujarnya.

Salah seorang agen perjalanan di Biak, Musmin, menyebut, kenaikan harga tiket pesawat dipengaruhi tingginya kebutuhan warga. Banyak warga yang harus bepergian menyambut Natal dan Tahun Baru. “Berbagai agen penjualan tiket di Biak tetap melayani pesanan penumpang, meski harga tiket belakangan ini sudah naik, yang diberlakukan penyedia jasa layanan penerbangan Garuda dan Sriwijaya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Biak, Fransisco Olla, mengatakan, arus mudik penumpang pesawat udara dan kapal menjelang Natal dan Tahun Baru, di Bandara Frans Kaisiepo dan pelabuhan laut masih lancar. Semuanya masih berjalan sesuai jadwal keberangkapan yang berlaku. “Untuk kenaikan harga tiket pesawat udara, yang berlaku saat ini, pemerintah menggunakan batas bawah dan batas atas. Ya, karena saat ini kebutuhan meningkat, dan permintaan tinggi, menjadikan harga naik, namun, kenaikan masih dalam batas kewajaran,” katanya.

Persiapan angkutan mudik Natal dan Tahun Baru di Kabupaten Biak Numfor, sudah dilakukan dengan melibatkan para pemangku kepentingan, seperti KSOP Biak, PT Pelni, PT Angkasa Pura I pengelola Bandara Frans Kaisiepo, serta Perum Damri yang menangani angkutan darat. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...