Nataru, Homestay Damandiri Tamanmartani, Penuh

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Memasuki musim libur panjang Natal dan Tahun Baru 2019, Kampung Homestay Damandiri di Desa Mandiri Lestari Tamanmartani, Kalasan, Sleman, nampak ramai diserbu pengunjung. Sejumlah kamar homestay milik warga, bahkan sudah dipesan pelanggan sejak jauh hari.

Selain wisatawan yang hendak merayakan tahun baru di Yogyakarta, sejumlah pelanggan homestay juga merupakan warga luar daerah yang hendak melakukan khitan di tempat sunat legendaris di kawasan Prambanan, Bogem.

“Alhamdulillah, saat masa liburan seperti ini homestay ramai pengunjung. Untuk tanggal 23 Desember, sudah ada tamu yang booking, karena hendak mengkhitankan anaknya di Bogem. Sedang tanggal 29-31 Desember atau malam tahun baru juga sudah ada tamu yang booking. Semua romongan itu dari luar daerah,” ujar pemilik homestay Hanoman di Dusun Klurak Kembar, Tamanmartani, Sri Maryani.

Pemilik homestay Hanoman, di Dusun Klurak Kembar, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Sri Maryani -Foto: Jatmika H Kusmargana

Karena keterbatasan kamar, wanita yang akrab disapa Nanik, itu bahkan harus menolak sejumlah tamu yang hendak menginap di homestay miliknya. Ia pun kemudian mengarahkan tamu tersebut untuk menginap di sejumlah homestay lainnya yang ada di sekitarnya.

“Karena hanya ada dua kamar, sementara jumlah pemesan banyak, maka sebagian tamu saya lempar ke homestay sebelah. Ya, itung-itung ikut membantu pemasaran homestay lain, agar kampung homestay ini juga semakin dikenal luas,” ujarnya.

Sejak diresmikan pada 2017, Desa Mandiri Lestari Tamanmartani yang merupakan desa binaan Yayasan Damandiri, ditetapkan sebagai kampung homestay. Sebanyak 12 rumah milik warga dipugar menjadi homestay, melalui program bedah rumah Yayasan Damandiri.

Dikelola oleh Koperasi Unit Desa KUD Tamanmartani Sejahtera, perkembangan kampung homestay Damandiri di Desa Tamanmartani ini terbilang menggembirakan. Hal itu tak lepas dari potensi Desa Tamanmartani yang terletak tak jauh dari lokasi wisata Candi Prambanan, serta sejumlah tempat seperti Bong Supit Bogem yang sudah sangat terkenal.

“Selain dibantu KUD, pemasaran homestay juga kita lakukan sendiri. Saya biasanya memasarkan homestay lewat media sosial di internet, seperti Facebook, Twitter maupun Instagram. Setiap ada yang mencari homestay, selalu kita tawarkan,” ujarnya.

Dengan tarif yang terbilang murah, yakni Rp200 ribu per malam, fasilitas yang ditawarkan sejumlah homestay di desa Tamanmartani ini terbilang tak kalah dari penginapan sekelas hotel. Pasalnya, sejumlah pemilik homestay telah melengkapi dan menambah fasilitas kamar secara swadaya. Seperti halnya yang dilakukan Nanik.

“Hasil dari penyewaan kamar homestay ini, biasanya saya tabung sebagian untuk menambah fasilitas. Sekarang tiap kamar sudah dilengkapi TV LCD, AC, serta kamar mandi dengan pemanas air atau heater. Selain itu, setiap ada tamu saya juga sediakan cangkir elektrik beserta minuman kopi instan. Ini sebagai bagian dari pelayayan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Tamanmartani Sejahtera, Maimunah, mengatakan, adanya kampung homestay ini telah memicu tumbuhnya homestay-homestay baru di Desa Tamanmartani.

Bahkan, terakhir ia menyebut ada rumah milik salah seorang warga yang dijadikan homestay, dengan pengelolaan sepenuhnya diserahkan kepada koperasi.

“Dari unit usaha homestay ini, koperasi sendiri juga mendapat keuntungan berupa pembagian komisi atau fee uang sewa homestay sebesar 25 persen. Jika ditotal, dalam kurun kurang dari setahun, unit usaha homestay telah mampu memberikan pemasukan pada koperasi mencapai Rp15 juta,” ujarnya.

Lihat juga...