Nikmatnya Sate Ikan Tuna Khas Bali

Editor: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Sate tidak hanya identik dengan ayam atau kambing. Di Bali, ada sate ikan tuna. Sate ikan tuna ini cukup banyak ditemukan di pulau yang berjuluk seribu pura ini.

Salah satunya terdapat di stand kuliner wisata tukad Bindu Kota Denpasar. Tempat berjualan sate ikan tuna ini selalu ramai dikunjungi oleh penyuka kuliner.

I Made Gede Duaja, pembuat sate ikan tuna, menceritakan, setiap hari ia bisa menghabiskan sekitar 5 kilogram ikan tuna sebagai bahan dasar pembuatan sate tuna tersebut. Kondisi ini bisa meningkat tiga kali lipat di kala musim libur karena banyaknya permintaan dari pengunjung objek wisata tukad bindu.

“Ya rata-rata para pelanggan saya ini adalah mereka tamu yang sedang berlibur ke tukad atau sungai Bindu,” ucap pria yang akrab disapa Duaja, saat ditemui, Sabtu (29/12/2018).

I Made Gede Duaja pembuat sate ikan tuna khas Bali.-Foto: Sultan Anshori.

Duaja menceritakan,  pembuatan sate tuna ini cukup gampang prosedur penyajiannya hingga benar-benar bisa disantap. Tak ubahnya dengan sate pada umumnya, sate ikan tuna juga ditusuk menggunakan lidi kayu. Selain itu, proses pembakaran juga sama, yaitu dibakar menggunakan tungku api.

“Biasanya, bahan dasar pembakaran kami menggunakan sabut kelapa. Hal ini dilakukan agar aroma semakin pas. Karena saat dibakar bumbu meresap ke dalam daging,” kata bapak dengan dua anak ini.

Fase yang terbilang cukup sulit adalah menyiapkan sate ikan tuna mulai dari bahan baku dasar ikan tuna hingga proses pembuatan bumbu. Untuk bahan baku dasar, biasanya Duaja mencari ikan tuna segar dan baru dari nelayan. Hal ini dilakukan agar kualitas daging yang dihasilkan juga enak.

Sementara, untuk proses pembuatan bumbu, biasanya bumbu yang digunakan adalah bumbu merah khas Bali. Bumbu merah ini terdiri dari berbagai rempah dan bumbu dapur lainnya.

Istilah orang Bali menyebutnya baseng gede atau bumbu besar Bali. Untuk menambah rasa semakin nikmat, sate ikan tuna ini dipadu dengan bumbu masak khas Bali dan dimakan menggunakan lontong atau nasi sesuai selera.

“Karena ikan tuna terbilang ikan yang juga menghasilkan bau amis, maka kami mempunyai cara sendiri untuk menghilangkan bau amis tersebut. Biasanya bumbu merah yang kami buat akan kami campurkan ke dalam daging ikan tuna yang sudah dipotong kecil-kecil. Lalu didiamkan selama kurang lebih satu hari. Maka, secara otomatis, bau amis itu akan hilang,” kata Duaja lagi.

Saat dimakan, benar saja, bau amis tak terasa dalam kuliner ini. Rasa bumbu merah khas Bali menjadi rasa yang dominan dalam kuliner ini. Dari rasa daging bisa dikatakan tetap empuk saat dimakan. Untuk satu porsi sate ikan tuna yang berisi satu lontong, dijual dengan harga Rp15 ribu. Jadi cukup ekonomis dengan rasa fantastis.

Lihat juga...