Objek Wisata Bahari Hancur, Wisatawan Percepat Liburan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Gelombang tsunami dampak aktivitas tektonik dan vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat dua objek wisata bahari di Lampung Selatan (Lamsel) porak poranda.

Amelia, salah satu wisatawan asal Pamulang Jakarta menyebut, sudah mulai berlibur di pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni sejak Sabtu (22/12). Bersama satu rekannya ia mengaku mendirikan tenda di pantai Minang Rua dan dibangunkan warga saat gelombang tsunami menerjang pantai tersebut sekitar pukul 22:00 WIB.

Kedua wisatawan tersebut bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang termasuk tenda jenis dome yang didirikan. Saat pagi hari dan kembali ke lokasi berkemah, Amelia berusaha mencari sejumlah barang yang sudah tertimbun pasir termasuk tenda parasit miliknya.

Ia bahkan menyebut masih trauma dengan adanya gelombang tsunami yang dialaminya saat berlibur di pantai Minang Rua yang sedianya akan berlangsung selama beberapa hari.

Amelia, salah satu wisatawan asal Jakarta yang bermalam dengan tenda di pantai Minang Rua mengalami terjangan gelombang pasang – Foto Henk Widi

“Rencananya kami akan berlibur di Lampung selama beberapa hari. Mungkin hingga malam tahun baru karena di pantai ini akan ada sejumlah acara. Namun karena gelombang tsunami saya justru akan pulang,” terang Amelia, saat ditemui Cendana News di pantai Minang Rua Bakauheni, Minggu (23/12/2018).

Selain wisatawan yang terpaksa mempercepat kunjungan ke objek wisata bahari Minang Rua, sejumlah fasilitas di objek wisata tersebut hancur.

Mian, salah satu pemilik rumah penginapan (homestay) menyebut, akibat terjangan tsunami ia mengaku kios miliknya hancur. Sejumlah barang untuk keperluan wisatawan yang berada di lantai satu dari dua lantai yang dimilikinya rusak diterjang air laut setinggi hampir 1,5 meter.

Mian menyebut, sesuai rencana kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Minang Rua akan bergotong royong membersihkan sampah dan melengkapi fasilitas untuk lokasi liburan akhir tahun dan tahun baru.

Namun Mian tidak menduga sejumlah fasilitas objek wisata bahari di pantai Minang Rua hancur diantaranya saung bagi wisatawan, lokasi kolam penangkaran tukik penyu, giant letter bertuliskan Pantai Minang Rua serta sejumlah spot foto.

“Hari ini rencananya kami akan mempersiapkan pantai Minang Rua untuk dibersihkan agar menarik kunjungan wisatawan tetapi semua fasilitas rusak,” terang Mian.

Sejumlah anggota Pokdarwis serta warga setempat disebut Mian bahkan menyebut memilih menyelamatkan jiwa serta harta benda. Beberapa fasilitas saung dibiarkan roboh dan terseret gelombang tsunami hingga sejauh seratus meter dari lokasi awal.

Selain sejumlah fasilitas wisata yang akan dipergunakan untuk liburan penghujung dan awal tahun baru, sejumlah perahu dan bagan warga rusak.

Kerusakan di objek wisata bahari juga terjadi di pantai Belebuk Karang Indah, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.

Suaebi, salah satu penjaga warung di pantai Belebuk Karang Indah mengaku, ia bersama Siti istrinya dan seorang anak berusia sepuluh tahun tidur di kios yang ada di objek wisata tersebut. Sekitar pukul 22:00 ia mengaku mendengar suara gemuruh seperti guntur yang diakuinya berasal dari Gunung Anak Krakatau (GAK).

Suaebi, salah satu pemilik warung di pantai Belebuk Karang Indah yang lari saat gelombang tsunami menerjang warung miliknya – Foto Henk Widi

Selang beberapa lama ia mengaku, empat kali ombak datang bergulung gulung secara bertahap. Meski demikian ia mengaku, jarak antara kios yang ditempati dengan bibir pantai sejauh dua puluh meter.

Ombak yang datang diakuinya seperti aliran air yang tiba-tiba merobohkaan semua bangunan kios di objek wisata pantai Belebuk tersebut. Hantaman gelombang kelima disebutnya memporakporandakan semua kios serta barangnya, musala dan sejumlah saung.

“Semua bangunan mengapung terseret ombak seperti banjir rob. Lalu saya membangunkan istri dan anak untuk lari ke belakang menjauhi pantai dan mengungsi,” terang Suaebi.

Suaebi mengaku, saat pagi hari baru berani kembali ke pantai melihat kondisi sejumlah perahu hancur. Semua fasilitas untuk objek wisata pantai Belebuk Karang Indah bahkan juga hancur termasuk sejumlah kano, pelampung, saung yang bergeser puluhan meter dari lokasi semula.

Musala kayu yang tergeser beberapa meter dari lokasi semula akibat terjangan gelombang tsunami – Foto Henk Widi

Semua fasilitas yang kerap dipergunakan untuk melayani wisatawan disebutnya porak poranda. Ia bahkan menyebut, sejumlah surat berharga kendaraan hanyut terbawa air laut dan ia harus mencari di puing-puing bangunan yang roboh.

Suaebi juga menyebut, saat terjadi tsunami ada sejumlah wisatawan yang sedang bermalam di pulau Sekepol. Beruntung setelah gelombang reda, wisatawan berjumlah lebih dari lima orang bisa diselamatkan.

Para wisatawan yang berkemah di Pulau Sekepol diakui Hendrik sebagian naik ke pohon kelapa saat gelombang tsunami menerjang objek wisata tersebut. Sejumlah perahu disebutnya rusak namun perahu miliknya yang digunakan menyelamatkan wisatawan tersebut dalam kondisi utuh karena terdampar di tanggul tambak.

Hendrik mengaku, objek wisata bahari pantai Belebuk Karang Indah dalam kondisi liburan sekolah kerap ramai dikunjungi. Selain libur sekolah, menjelang pergantian tahun seperti tahun sebelumnya dalam satu hari pengunjung bisa mencapai 4.000 orang.

Namun akibat kerusakan dampak gelombang tsunami ia memprediksi kunjungan wisatawan akan berkurang. Apalagi diakuinya dampak tsunami juga melanda sejumlah objek wisata pantai di Lampung serta wilayah Anyer Banten.

Sejumlah pemilik kios dengan barang dagangan yang akan disiapkan untuk liburan akhir tahun dan tahun baru mengalami kerugian cukup besar.

Hendrik yang sudah menyediakan stok minuman ringan serta keperluan makanan ringan bagi wisatawan mengaku semua barang hanyut. Selain fasilitas bangunan, sejumlah perahu yang kerap dijadikan ojek perahu ke Pulau Sekepol milik warga rusak.

Gelombang tsunami diakuinya berimbas pasir pantai tersingkap sehingga kondisi pasir objek wisata tersebut porak poranda.

Lihat juga...