Ontorejo Racut, Gambarkan Situasi Indonesaia Saat Ini

Editor: Mahadeva

289

JAKARTA – Pergantian tahun, menjadi momentum evaluasi dan kontemplasi proses satu tahun kehidupan, termasuk kinerja kebangsaan. Hal itu diharapkan, menjadi tonggak bagi kemajuan dan kesuksesan kehidupan pada hari-hari mendatang.

Pergelaran Wayang Kulit semalam suntuk, bagi masyarakat Jawa bukan saja bermakna sebagai gelar budaya. Pergelaran wayang kulit, juga menjadi proses laku spiritual, sekaligus pembangunan narasi kehidupan. Pertunjukan wayang kulit, menjadi sarana evaluasi, transformasi dan penguatan kebulatan tekad, dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Kegiatannya dilakukan, melalui energi keheningan sepanjang malam, yang dibalut dengan kompleksitas pergelaran seni dan budaya.

Ki H. Manteb Sudharsono – Foto M Fahrizal

Pada malam pergantian tahun kali ini, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar pergelaran wayang kulit, dengan dalang Ki H. Manteb Sudharsono. Pergelarang mengambil lakon,  Ontorejo Racut. Sebelum pementasan, Ki H. Manteb Sudharsono, kepada Cendana News, menjelaskan, lakon Ontorejo Racut menceritakan kematian atau matinya Ontorejo. Lakon Ontorejo Racut, merupakan lakon yang sangat asing, jarang ada yang membawakannya karena menggambarkan, bagaimana matinya Ontorejo.

Kehidupan Ontorejo, digambarkan semuanya dalam pergelaran semalam suntuk. Dan hal itu, bisa dibilang tidak sembarang orang atau dalang, dapat membawakan lakon tersebut. “Saya diminta oleh pihak Pepadi, untuk membawakan lakon tersebut, dan saya sanggupi,” jelasnya.

Dikatakan Ki Manteb, makna yang terkandung dalam lakon tersebut sebenarnya adalah Kresna Gugat. Maksudnya bahwa Kresna tidur (hanya raganya yang tidur). Sementara jiwanya berangkat ke Dewa, dalam hal ini ke khayangan, mempertanyakan situasi yang sedang terjadi. “Dalam pewayangan, pertanyaan Kresna tersebut menyiratkan akan ada peperangan besar, yakni antara Pandawa dan Kurawa,” jelasnya.

Ki Manteb menyebut, pesan moral yang disampaikan dalam lakon tersebut, sebenarnya adalah Kresna merupakan Pamong Rakyat. Sebagai pamong harus adil dan jujur. Pamong tidak harus berpolitik. Mengambil istilah Tan Hana Dharma Mangruwa, yang artinya Darma baik tidak boleh diselewengkan untuk kejahatan.

Lakon Ontorejo Racut, jika dikaitkan dengan kehidupan di negara Indonesia saat ini, dengan situasi perpolitikan yang sedang terjadi belakangan. Maka yang dipertantakan adalah, arah perpolitikan saat ini kemana, jangan membingungkan rakyat. Mari berpolitik, tapi politik berbudaya bukan budaya politik. “Dalang juga tidak buta dengan politik, tau dan mengerti akan politik, tapi mari, kita berpolitik, tahun politik oke, memang, tapi mari kita politik berbudaya, dalam arti kita berpolitik, tapi tahu sopan santun, menghargai hak-hak orang lain, itu yang disebut politik berbudaya, bukan budaya politik yang pasti menghalalkan segala cara,” tandasnya.

Pergelaran Ontorejo Racut – Foto M Fahrizal

Ki Manteb berharap, politik tidak berjalan membingungkan rakyat. Wayangan juga politik, tetapi politik santun, membuat kedamaian, mengutip istilah wong becik ketitik, wong ala ketara, yang artinya orang baik akan tampak, orang jahat akan terungkap segala kejahatannya.

Cerita dalam lakon juga akan berkaitan dengan perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Kondisi Indonesia digambarkan seluruhnya dalam lakon Ontorejo Racut tersebut. “Tokoh utama dalam lakon ini ada Kresna, Ontorejo, dan memang semuanya tokoh berperan penting, namun sosok Kresna yang paling menonjol karena dia sebagai pamong, sebagai penengah,” jelasnya.

Kresna adalah sosok Dewa Wisnu, yang disebut Ki Manteb, membuat ketentraman dunia. Kresna akan menentukan sikap kepada kakaknya, dan juga kepada musuhnya Ontorejo, yang akan di racut. Disinilah terlihat adilnya kresna. Dan pada akhirnya Kresna akan menjadi pamongnya Pandawa dalam perang Bharatayudha.

Baca Juga
Lihat juga...