hut

Pak Harto Mengakhiri Incognito di Istana Tampaksiring, Bali

Oleh Mahpudi, MT

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri ke-35 yang kami turunkan ini, redaksi cendananews.com selain, menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini, sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Perjalanan panjang Pak Harto mengunjungi rakyatnya dari Jakarta hingga ke Banyuwangi, akhirnya berakhir. Pada 27 Juli 1970, rombongan incognito Pak Harto tiba di ujung dermaga Ketapang. Sebuah kapal ferry siap mengangkut rombongan menyeberang ke Gilimanuk, Bali.

Kendaraan rombongan Incognito Pak Harto pada 27 Juli 1970 melanjutkan perjalanan menyusuri Pulau Bali menuju Istana Kepresidenan Tampaksiring untuk beristriahat sebelum kembali ke Jakarta. – Foto Istimewa

Usai kapal penyeberangan berlabuh di Gilimanuk, perjalanan diteruskan menyusuri jalan darat sejauh 138 kilometer, menuju Istana Kepresidenan-Tampaksiring. Ini memang pilihan terbaik untuk kembali ke Jakarta dari ujung paling timur pulau Jawa. Terlebih lagi, rombongan perlu refreshing sebelum kembali beraktivitas di Jakarta.

Tak heran, bila Ibu Tien Soeharto sudah menanti di Tampaksiring. Terlihat pula, putra-putri Pak Harto yang baru beranjak remaja. Antara lain Mbak Tutut, Mbak Titiek, Mbak Mamiek, dan Mas Tommy, ikut melepas kangen pada ayahnya yang lama bepergian. Demikian pula sejumlah keluarga anggota rombongan, turut hadir menyertai. Pada malam harinya, sebuah acara syukuran digelar di istana Tampaksiring. Ada pertunjukan kesenian Bali, ada jamuan makan malam, dan tentu saja ada keceriaan di wajah-wajah mereka. Tak terlihat raut wajah penat, meski sebelumnya telah berhari-hari menempuh perjalanan yang amat jauh. Dan keesokan harinya, Pak Harto bersama keluarga serta rombongan kembali ke Jakarta.

Pak Harto bersama Mas Tommy usai menyaksikan pertunjukan kesenian Bali dalam rangkaian jamuan makan malam di Istana Tamkasiring (27/7/1970) – Foto Istimewa

Demikianlah, Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto pun berhasil menuntaskan tugasnya, dengan mengunjungi jejak terakhir incognito di Tapanrejo, Banyuwangi. Pada pukul 20.00, Tim Ekspedisi menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk. Setelah singgah sebentar untuk menikmati makan malam, tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota Denpasar. Saat itu, malam telah semakin larut, namun tim belum memesan penginapan.

Akhirnya, penulis mengontak Gede Ngurah Surya Hadinata, sahabat sesama filatelis, yang kebetulan berusaha di bidang perhotelan. Berkat bantuannya, malam itu juga, kami mendapatkan tempat menginap yang nyaman.  Pada keesokan harinya, 11 Juni 2012, Tim bertamu ke Istana Tampaksiring. Kami bersyukur, sebagian dari mereka masih mengenal dengan baik Pak Subianto, sehingga keraguan mereka atas tim ekspedisi pupus begitu kami bertamu. Kami disambut hangat oleh pegawai istana kepresidenan. Namun begitu, kami tak hendak merepotkan mereka.

Setelah mendapat kesempatan untuk melihat-lihat dari dekat Istana Tampaksiring, tim memutuskan beristirahat, sambil bersiap untuk pulang ke Jakarta menggunakan jalur udara. Sementara, kendaraan sewaan kembali ke Yogyakarta sesuai rencana.

Kendaraan Hi-Ace yang ditumpangi Pak harto selama Incognito tengah memasuki kapal yang akan menyeberangkan dari Ketapang-Banyuwangi ke Gilimanuk, Bali pada 27 Juli 1970 – Foto Istimewa

Ada banyak hal yang kami peroleh selama melakukan perjalanan Incognito. Sebagian besar, merupakan perihal yang cukup kami mengerti dan pahami seorang diri. Memang, Pak Harto tak pernah mengungkapkan hal-hal tersebut dalam suatu tulisan, di kemudian hari. Namun, dari ekspedisi yang dilakukan, kami meyakini, program-program pembangunan yang dijalankan Pak Harto di kemudian hari, banyak dipengaruhi oleh refleksi perjalanan incognito tersebut.

Satu hal yang pasti, perjalanan diam-diam Pak Harto menemui rakyatnya, tak berhenti sampai di sini. Pada tahun-tahun berikutnya, Pak Harto kembali melakukan incognito mengunjungi tempat-tempat lain di berbagai penjuru Indonesia. Ini dilakukan Pak Harto sebagai bagian dari wujud kepemimpinannya selaku Presiden Republik Indonesia, yang terus berusaha menyatu, mendengarkan denyut nadi serta hati nurani rakyatnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com